'Saya lebih waswas saat anak saya bertugas di Papua' – Kisah tentara Indonesia yang tewas di Lebanon

TNI, Lebanon

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura

Keterangan gambar, Ayah Kapten Zulmi Aditya, Iskandarudin (tengah), dikunjungi oleh Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Mayjen Iwan Bambang Setiawan (kanan) di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (01/04).
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 13 menit

"Saya lebih waswas saat anak saya bertugas di Papua," kata Iskandarudin, ayah Zulmi Aditya, tentara Indonesia yang tewas di Lebanon selatan, 30 Maret lalu.

"Kami sebagai orang tuanya sangat sedih dan menyesalkan karena mereka adalah pasukan perdamaian, bukan pasukan untuk perang."

Kata-kata ini dituturkan Iskandarudin, ayah Zulmi Aditya, tentara Indonesia berpangkat kapten yang tewas di Lebanon bagian selatan, 30 Maret lalu.

Zulmi kehilangan nyawa saat tengah berkendara bersama sejumlah sejawatnya dari TNI dalam konvoi pasukan penjaga perdamaian PBB di garis perbatasan antara Lebanon dan Israel. Bawahan Zulmi yang berada di kendaraan itu, yakni Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, juga tewas akibat ledakan yang mengenai mereka.

Bukan cuma Zulmi, Iskandarudin juga seorang tentara. Anak pertama Iskandarudin—kakak Zulmi—juga memilih militer sebagai jalan hidup.

"Tidak ada rasa khawatir," kata Iskandarudin soal keberangkatan Zulmi ke Lebanon bagian selatan, April 2025. "Anak pertama saya pernah ditugaskan ke sana juga tahun 2012," ujarnya. Keluarga ini adalah keluarga militer.

Iskandarudin tidak pernah membayangkan Zulmi akan menghembuskan nafas terakhir di Lebanon. Rasa cemas itu justru dirasakan Iskandarudin ketika Zulmi dikirim ke Tanah Papua.

"Saya justru khawatir waktu dia ditugaskan ke Papua. Kalau di Lebanon ini kan misi perdamaian," ujarnya, seperti dilaporkan wartawan Yulia Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (03/04).

TNI, Lebanon

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura

Keterangan gambar, Zulmi Aditya lahir dan besar di keluarga militer. Ayah dan abangnya juga seorang tentara.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Zulmi lulus dari Akademi Militer tahun 2015. Dia berdinas di Grup 2 Kopassus. April 2025 adalah kali pertama dia bergabung ke kontingen penjaga perdamaian PBB di Lebanon—di bawah struktur Satuan Tugas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-S UNIFIL.

Merujuk cerita Iskandarudin, sepanjang satu dekade karier militernya, Zulmi pernah pula dikirim sebagai bagian pasukan bantuan kendali operasi (BKO) TNI ke Tanah Papua.

Pasukan BKO TNI dibentuk dari berbagai satuan dan unit dalam TNI Angkatan Darat. Mereka secara rutin dan silih berganti berangkat ke Tanah Papua.

Di Tanah Papua, pasukan BKO ini ditugaskan untuk menjaga garis perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini dan mengerjakan fungsi teritorial di tingkat Kodim hingga Koramil.

Selain itu, seperti yang dikatakan Iskandarudin, pasukan BKO TNI juga dikerahkan ke "daerah rawan"—yang memungkinkan mereka berhadapan dengan milisi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

"Di Papua kan berhadapan dengan musuh secara langsung," kata Iskandarudin.

"Kalau dia [Zulmi] berangkat ke Papua, saya justru agak waswas. Sementara di Lebanon itu misi perdamaian, tidak berhadapan dengan musuh," ujarnya.

TNI, Lebanon

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Potret Zulmi Aditya dengan seragam dan baret merah Kopassus.

Seorang anggota TNI yang tewas di Lebanon selatan satu hari sebelum Zulmi, yaitu Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon, juga pernah dikirim ke Tanah Papua. Informasi ini dikatakan Kolonel Dimar Bahtera, Komandan Brigif 25/Siwah—pimpinan Farizal.

"Yang bersangkutan, sebelum tugas ke luar negeri, sudah menyelesaikan tugas dalam negeri dulu, di Papua," kata Dimar kepada pers, saat melawat ke rumah duka keluarga Farizal, di Kulon Progo, Yogyakarta, Selasa (31/03).

Selama bertugas di Papua, kata Dimar, Farizal berhasil menjalankan tugasnya.

Brigif 25/Siwah dalam beberapa tahun terakhir mengirim prajurit mereka untuk bergabung ke Satgas Penjaga Perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Salah satu lokasi operasi mereka adalah Kabupaten Intan Jaya di wilayah pegunungan tengah Papua.

Tak lama usai misi di Papua, Farizal mendaftar ke Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI. Hanya tentara yang lolos seleksi lembaga inilah yang bisa masuk ke kontingen UNIFIL Indonesia di Lebanon.

"Melalui seleksi yang cukup panjang, almarhum lolos dengan hasil yang bagus, sehingga mendapatkan hak untuk berangkat tugas ke luar negeri," kata Dimar.

Bagaimana polemik yang muncul usai kematian tiga anggota TNI di Lebanon?

Sejumlah pihak mendesak pemerintah untuk tidak sekedar mengutuk serangan yang menewaskan tiga tentara Indonesia di Lebanon, tapi juga menarik pasukan dari misi perdamaian PBB di negara itu jika keadannya tidak aman dan membahayakan personel TNI.

Bukan hanya itu, mereka juga mendesak Presiden Prabowo mengambil sikap tegas dengan membatalkan pengiriman personel TNI ke Jalur Gaza, dalam proyek Dewan Perdamaian (Board of Peace).

"Kejadian di Lebanon harus jadi peringatan dan desakan bagi Prabowo, untuk menyatakan dengan tegas, membatalkan pengiriman pasukan Indonesia ke Jalur Gaza," kata Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma saat dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (31/03).

Militer indonesia

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan

Keterangan gambar, Massa aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil mendesak Pemerintah mengevaluasi kesepakatan Indonesia dalam piagam Board of Peace (BoP).

Made menambahkan sikap tegas itu adalah bentuk dari rasa kecewa mendalam Indonesia atas serangan itu.

Kemudian, tambah Made, keputusan itu untuk melindungi pasukan TNI dari ancaman serupa.

"Belum bergabung di Gaza saja, tiga prajurit TNI bagian perdamaian sudah gugur dan diserang. Apalagi jadi Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Jalur Gaza, Indonesia akan menjadi sasaran dan korban karena dianggap berpihak."

"Terus kemudian kenapa kita harus menjadi koridor perdamaian untuk Israel dan kepentingan Amerika di Gaza, di saat Israel menjadi angresor dan sumber instabilitas di Timur Tengah," ujarnya.

'Orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suami, dan saya kehilangan adik'

Warga melintas di dekat karangan bunga dukacita saat melayat di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03/2026). Praka Farizal yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) gugur akibat tembakan artileri di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Keterangan gambar, Warga melintas di dekat karangan bunga dukacita saat melayat di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03).

Tenda dengan atap seng terpasang di depan rumah orang tua Praka TNI Farizal Rhomadhon di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, pada Selasa (31/03).

Menyusuri jalan kecil menuju rumah yang dikelilingi kebun jati dan bambu itu, berdiri rangkaian karangan bunga belasungkawa dari berbagai tokoh politik, pejabat, hingga petinggi TNI. Salah satu dari Presiden Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri.

Hilir mudik pelayat bertakziah ke rumah duka. Ayah Praka Farizal, Senam (60 tahun) tampak tegar ketika menerima para pelayat yang datang ke rumahnya.

Sedangkan ibunda Farizal, Supinah (54 tahun) masih terlihat sedih. Sesekali, ia menangis ketika menerima pelukan duka cita dari pelayat.

Di tengah suasana duka itu, kakak ipar Farizal, Novan Heri Prabowo (34 tahun), bercerita bahwa adiknya hampir setiap hari berkomunikasi dengan kedua orang tua lewat panggilan seluler.

"Komunikasi terakhir malam sebelum kejadian, sempat kontak dengan bapak. Terus paginya dapat kabar bahwasanya gugur di sana," kata Novan yang menyebut Farizal memiliki seorang istri dan anak yang masih berusia dua tahun.

Kakak ipar Farizal, Novan Heri Prabowo (34 tahun), bercerita bahwa adiknya hampir setiap hari berkomunikasi dengan kedua orang tua lewat panggilan seluler.

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Kakak ipar Farizal, Novan Heri Prabowo (34 tahun), bercerita bahwa adiknya hampir setiap hari berkomunikasi dengan kedua orang tua lewat panggilan seluler.

Novan bilang kabar duka itu disampaikan oleh istrinya, Fafa Nur Azila, melalui sambungan telepon kepada mertuanya. Fafa saat kejadian tinggal di asrama batalyon satuan suaminya di Aceh.

"Selanjutnya dari TNI menyusul ke sini dari Koramil dan Dandim Kulon Progo juga ke sini tapi awalnya dari istri dan sudah pendampingan dari ibu-ibu Persit di sana," ujar Novan ketika ditemui di rumah orang tua Farizal, Kulon Progo, Selasa (31/03).

Novan bercerita pihak keluarga sangat bersedih mendengar kabar meninggalnya Farizal yang dikenang sebagai sosok yang ramah dan dekat dengan keluarga.

"Karena Mas Rizal memang hampir selesai tugasnya di sana, terus kami mendapatkan berita ini. Dari keluarga syok, kaget," kata Novan yang juga menambahkan sebelum bertugas di Lebanon, adiknya sempat bertugas di Papua.

Ibunda Farizal, Supinah (54 tahun) masih terlihat sedih. Sesekali, ia menangis ketika menerima pelukan duka cita dari pelayat.

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Ibunda Farizal, Supinah (54 tahun) masih terlihat sedih. Sesekali, ia menangis ketika menerima pelukan duka cita dari pelayat.

"Kalau dampak ya kehilangan. Orang tua sangat bersedih karena anak kan segalanya. Orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suami, dan saya kehilangan sosok adik," ucapnya.

Novan pun berharap ke pemerintah untuk lebih meningkatkan standar keselamatan dan keamanan bagi prajurit Indoneisa yang bertugas di luar negeri, agar kejadian serupa tak terulang kembali.

"Mungkin jauh lebih baik lagi kalau misal di dalam negeri belum bisa baik, ya di dalam negeri dulu. Di luar negeri itu kan pilihan kedua, itu kalau saya melihat dari masyarakat umum seperti itu," tambahnya.

Baca juga:

Farizal meninggal pada Minggu (29/03) ketika sebuah proyektil, dengan asal-muasal yang tidak diketahui, meledak di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan. Selain Farizal, tiga prajurit TNI lain terluka dalam insiden itu.

Keesokan harinya, Senin (30/03), dua prajurit TNI tewas akibat sebuah "ledakan di pinggir jalan" di Lebanon selatan.

UNIFIL mengatakan ledakan itu "berasal dari sumber yang tidak diketahui" dan "menghancurkan" kendaraan para penjaga perdamaian di dekat Bani Hayyan.

Anggota TNI menata karangan bunga dukacita di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/2/2026). Praka Farizal yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) gugur akibat tembakan artileri di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Keterangan gambar, Anggota TNI menata karangan bunga dukacita di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03).

Insiden pada Senin itu "kemungkinan besar" disebabkan oleh sebuah IED (alat peledak rakitan), kata Stéphane Dujarric, juru bicara sekretaris jenderal PBB.

Dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978, UNIFIL sejak saat itu berfungsi sebagai penyangga antara Israel dan Lebanon.

Pasukan penjaga perdamaian tersebut berpatroli di "Garis Biru"—perbatasan de facto antara Lebanon dan Israel—bekerja sama dengan tentara Lebanon.

Sekitar 339 penjaga perdamaian telah tewas sejak misi tersebut dibentuk.

Bagaimana respon pemerintah sejauh ini?

Presiden Prabowo Subianto, lewat akun resmi Instagram @prabowo, menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan tugas dalam misi perdamaian di Lebanon.

"Innalillahi waina ilaihi rajiun, turut berdukacita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah," kata Prabowo, Selasa (31/03).

Prabowo menegaskan pengabdian para prajurit merupakan bentuk dedikasi dan keberanian dalam menjaga perdamaian dunia sekaligus membawa nama baik Indonesia di kancah internasional.

Presiden Prabowo Subianto menyapa wartawan saat bersiap menyambut kedatangan mantan presiden untuk bersilahturahmi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Selain silahturahmi, dalam kesempatan tersebut Presiden Prabowo juga berdiskusi isu terkini bersama para mantan presiden dan wapres.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan tugas dalam misi perdamaian di Lebanon.

Sementara itu, Kemlu Indonesia mengutuk dua serangan itu.

Kemlu menyatakan serangan itu mencerminkan situasi keamanan yang semakin memburuk di Lebanon selatan, di mana operasi militer Israel yang terus berlangsung telah menempatkan peacekeepers PBB dalam risiko yang sangat serius.

"Indonesia terus mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang secara signifikan meningkatkan risiko yang dihadapi oleh peacekeepers PBB serta melemahkan pelaksanaan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan 1701 (2006)," bunyi pernyataan Kemlu.

Indonesia juga menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab dalam insiden itu.

Tepatkan menarik pasukan dari Lebanon?

Atas peristiwa itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengusulkan kepada pemerintah untuk menarik pasukan perdamaiannya di daerah yang membahayakan keselamatan, seperti Lebanon selatan.

"Sesuai dengan konstitusi, yang memerintahkan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, agar Indonesia menarik pasukannya dalam misi perdamaian tersebut karena ini adalah daerah yang membahayakan bagi keselamatan TNI seperti yang terjadi di Lebanon Selatan ini," kata Ketua MPR, Ahmad Muzani di Jakarta, Selasa (31/03).

Selain itu, Muzani bilang, "MPR RI mendesak kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar sidang penyelidikan dan menjatuhkan sanksi terhadap Israel."

Seruan yang sama datang juga dari Komisi I DPR RI.

"Bilamana kondisinya ini memang tidak bisa dinyatakan aman, ada baiknya untuk pemerintah melakukan apa namanya penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit di Lebanon," kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Senin (30/03).

Foto ilustrasi: Tentara penjaga perdamaian Indonesia dari UNIFIL mengamati suatu area dari titik al-Abbad di perbatasan Lebanon-Israel, dekat Hula di Lebanon selatan, pada 8 Juli 2009.

Sumber gambar, ALI DIA/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto ilustrasi: Tentara penjaga perdamaian Indonesia dari UNIFIL mengamati suatu area dari titik al-Abbad di perbatasan Lebanon-Israel, dekat Hula di Lebanon selatan, pada 8 Juli 2009.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengaku belum mendengar usulan penarikan pasukan TNI itu.

"Terus terang saya baru dengar belum sampai ke saya juga, tapi tentu saja kalaupun ada langkah-langkah ke arah sana pasti akan dibicarakan lebih lanjut," kata Sugiono di Tokyo, Jepang, Senin (30/03).

Selain itu, Sugiono bilang Indonesia mendesak PBB untuk segera menggelar rapat darurat Dewan Keamanan dan proses investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan.

Di sisi lain, militer Israel atau IDF menyatakan telah meluncurkan penyelidikan menyeluruh untuk mengklarifikasi insiden itu.

"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif, di mana mereka beroperasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, tidak boleh diasumsikan bahwa insiden di mana tentara UNIFIL terluka disebabkan oleh IDF," tulis militer Israel di Telegram, dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/03).

Namun, peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma berkata wacana penarikan itu tak perlu dilakukan karena Indonesia memiliki komitmen dalam menjaga perdamaian dunia.

"Ini tugas mulia dan memiliki legitimasi yang sah, berada di bawah PBB. Dan memang ini pengorbanan kita untuk dunia, untuk perdamaian dunia," ujarnya.

Sebaliknya, menurut Made, yang perlu dilakukan adalah Indonesia mengeluarkan pernyataan kutukan hingga sanksi nyata kepada pihak yang diduga melakukan penyerangan.

Foto ilustrasi: Tentara Indonesia yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan, mengamati sebuah kendaraan Humvee tentara Israel yang diparkir di sisi perbatasan Lebanon-Israel, 10 Desember 2007.

Sumber gambar, ALI DIA/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto ilustrasi: Tentara Indonesia yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan, mengamati sebuah kendaraan Humvee tentara Israel yang diparkir di sisi perbatasan Lebanon-Israel, 10 Desember 2007.

Senada, konsultan di Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis berkata kehadiran personel TNI dalam pasukan PBB memiliki resiko, dengan skenario terburuk yaitu tidak berlakunya gencatan senjata atau terjadi serangan dari salah satu pihak.

"Salah satu yang perlu dilakukan Indonesia adalah melakukan evaluasi ulang atas rotasi atau pengurangan jumlah pasukan TNI di PBB dengan melihat situasi yang sangat rentan di wilayah itu," ujar Beni.

Beni bilang peristiwa ini bukan kali pertama pasukan perdamaian PBB terkena dampak konflik senjata Israel dan Hizbullah. Dia mencatat salah satu yang terparah pada tahun 2006. Saat itu empat pasukan observer PBB tewas.

Sejumlah warga melayat di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/2/2026). Praka Farizal yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) gugur akibat tembakan artileri di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Keterangan gambar, Sejumlah warga melayat di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03).

Selain merotasi ulang jumlah personel TNI dan mengeluarkan kecaman, Beni berkata pemerintah harus segera berkoordinasi dengan negara yang tergabung di UNIFIL untuk mencegah hal buruk kembali terjadi.

Militer Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam operasi penjaga perdamaian yang digagas PBB. Operasi pertama yang diikuti Indonesia adalah misi di Mesir pada 1957.

Sejak saat itu, pemerintah Indonesia telah mengirim tentara ke berbagai negara yang masih atau baru saja dilanda perang, seperti ke Kongo, Vietnam, Bosnia, Macedonia, Georgia, Irak, Kuwait, Suriah, Liberia, Sierra Leone, Sudan, dan Lebanon.

Pada 2012, TNI membentuk satu lembaga khusus untuk mengurus seleksi dan pelatihan bagi tentara yang akan diberangkatkan dalam operasi di bawah Dewan Keamanan PBB itu, yaitu Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian.

Menurut data lembaga itu, sepanjang 1957 hingga 2020 Indonesia sudah mengirim 45.087 tentara ke misi penjaga perdamaian PBB.

Apa dampak peristiwa di Lebanon pada rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza?

Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana juga menilai bahwa Indonesia perlu mengevaluasi keikutsertaannya dalam BoP, besutan Presiden AS Donald Trump, pascaserangan itu.

Dalam konteks itu, dia menambahkan, serangan yang menewaskan prajurit TNI itu merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional jika dilancarkan secara sengaja.

Seorang peserta aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil membawa poster saat aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (6/3/2026). Dalam aksinya, mereka mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional dan kedamaian dunia serta meminta pemerintah untuk mengevaluasi kesepakatan Indonesia dalam piagam Board of Peace (BoP) karena dianggap tidak sesuai yang dimandatkan Dewan Keamanan PBB 2803.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan

Keterangan gambar, Seorang peserta aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil membawa poster menolak pengiriman personel TNI ke Jalur Gaza, saat aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (06/03).

Anggota Komisi I DPR Fraksi PDI-P Sarifah Ainun Jariyah juga mendorong evaluasi terhadap rencana pengiriman pasukan ke Jalur Gaza.

"Indonesia harus bersikap untuk tidak mengirimkan tentara ke Gaza mengingat situasi yang tidak menentu. Tidak ada jaminan keamanan dari pihak mana pun karena Israel sendiri terbukti tidak taat pada aturan internasional," ujar Sarifah.

Karangan bunga dukacita di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03).

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Karangan bunga dukacita di kediaman almarhum Praka Farizal Rhomadhon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Selasa (31/03).

Sebelumnya, Indonesia berencana mengirim sekitar 8.000 personel dalam ISF ke Gaza. Bahkan, Indonesia akan menempati posisi wakil komandan ISF.

Indonesia akan menjadi satu dari lima negara yang mengirim tentara untuk bergabung ke ISF di Gaza. Empat negara lainnya adalah Kosovo, Kazakhstan, Albania, dan Maroko.

Namun dalam perkembangannya, Kemlu RI menyatakan rencana pengiriman TNI itu ditunda.

ISF berbeda dengan misi penjaga perdamaian PBB. ISF juga tidak berada di bawah kendali Dewan Keamanan PBB, melainkan Board of Peace.

Di Gaza, pasukan ISF akan mengemban enam tugas, di antaranya membantu mengamankan wilayah perbatasan, melindungi warga sipil, melatih calon polisi Palestina, mengamankan "koridor kemanusiaan" yang menjadi jalur masuk bantuan untuk warga sipil, serta menjalankan tugas tambahan yang mungkin dianggap perlu oleh Board of Peace.

Satu tugas pasukan ISF lainnya adalah terlibat dalam demilitarisasi Gaza dengan cara, antara lain, menghancurkan infrastruktur militer dan melucuti persenjataan Hamas.

Wartawan Fajar Sodiq di Kulon Progo, Yogyakarta, dan wartawan Yuli Saputra di Bandung berkontribusi dalam liputan ini.