Jeritan peternak di berbagai daerah akibat merosotnya harga telur — 'Kalau turun lagi, sudah tidak bisa bayar pakan dan pegawai'

Aksi salah satu peternak mandi telur dengan memecahkan telur mentah di bagian kepala dan badan saat menggelar aksi demo di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (7/7)

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Aksi salah satu peternak mandi telur dengan memecahkan telur mentah di bagian kepala dan badan saat menggelar aksi demo di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (7/7)
    • Penulis, Redaksi BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 10 menit

Puluhan peternak ayam pedaging dan petelur dari berbagai wilayah Solo Raya menggelar aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (07/07). Aksi ini digelar sebagai protes terhadap anjloknya harga ayam hidup dan telur yang dinilai sudah jauh di bawah harga pokok produksi (HPP).

Aksi tersebut mencerminkan keresahan peternak yang mengaku telah mengalami kerugian selama dua bulan terakhir akibat harga jual yang terus merosot di tengah biaya produksi yang tetap tinggi.

Keluhan serupa juga muncul dari peternak di Jawa Barat yang khawatir limpahan pasokan telur murah dari Blitar akan semakin menekan harga di tingkat peternak lokal.

Namun persoalan yang mereka suarakan bukan hanya terjadi di Solo.

Di Jawa Barat, peternak khawatir limpahan telur murah dari Blitar akan semakin menekan harga.

Di Makassar, pedagang mengaku harga telur turun drastis setelah sejumlah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti atau mengurangi operasional.

Di berbagai daerah, para pelaku usaha mengeluhkan kondisi yang sama, yakni harga jual yang terus merosot ketika di saat yang sama, biaya produksi, terutama pakan, tetap tinggi.

Para peternak menilai kondisi tersebut dipicu oleh kelebihan pasokan, melemahnya konsumsi masyarakat, dan kebijakan tata kelola sektor perunggasan yang dinilai belum mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.

Sementara itu, pengamat ekonomi menilai kombinasi oversupply, berhentinya sementara sebagian operasional MBG saat libur sekolah, dan meningkatnya biaya produksi telah memperparah tekanan terhadap peternak.

'Ruginya enggak main-main, sampai ratusan juta'

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Aksi protes para peternak Solo Raya berlangsung di kawasan Bundaran Gladak, ujung timur Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Salah seorang peternak menyiram tubuhnya dengan telur mentah di atas bak mobil terbuka sebagai simbol kondisi peternak yang tengah terpuruk.

Aksi itu menjadi perhatian pengguna jalan yang melintasi kawasan tersebut.

Selain mandi telur, peternak juga membagikan ayam hidup kepada warga dan puluhan kilogram telur rebus secara gratis kepada pengendara roda dua maupun roda empat.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan aksi tersebut diikuti peternak ayam pedaging dan petelur dari Solo, Klaten, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Menurut Parjuni, harga ayam hidup saat ini hanya sekitar Rp13.000 per kilogram, sedangkan harga telur di kisaran Rp17.000-Rp18.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah biaya produksi yang harus ditanggung peternak.

"Peternak Solo Raya sudah dua bulanan ini merugi, ruginya enggak main-main sampai ratusan juta juga, bahkan yang besar saya yakin mencapai angka miliaran," kata Parjuni.

Ia menilai persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya soal harga jual, tetapi juga kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan.

Salah satu yang disorot adalah impor Grand Parent Stock (GPS) atau bibit induk ayam tingkat tertinggi yang menurutnya harus dikendalikan lebih ketat, agar keseimbangan pasokan dan kebutuhan pasar tetap terjaga.

Peternak juga membagikan ayam broiler gratis kepada warga dalam aksi demo dampak harga ayam broiler dan telur anjlok di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (7/7)

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Peternak juga membagikan ayam broiler gratis kepada warga dalam aksi demo dampak harga ayam broiler dan telur anjlok di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (7/7)

Menurut dia, kebijakan impor GPS memiliki dampak jangka panjang terhadap jumlah produksi ayam dan telur nasional.

"Seperti misalnya impor GPS itu kan mempengaruhi supply dua tahun berikutnya. Jadi prediksinya sudah tahu, mau berapa kebutuhannya sudah diketahui. Kemudian keseimbangan supply-demand ini harus ada karena apa? Kebutuhan ini kan sudah ada di BPS, otomatis disesuaikan dengan itu," imbuh Parjuni.

Ia juga meminta pemerintah mengevaluasi masuknya investor baru yang tidak memiliki latar belakang usaha perunggasan karena dikhawatirkan memicu kelebihan pasokan.

"Kalau semua boleh pelihara itu risiko tinggi. Karena apa? Karena pasti akan oversupply kembali. Dan ini harus diantisipasi pemerintah," tegasnya.

Parjuni berharap harga ayam dan telur bisa kembali berada di atas HPP. Saat ini HPP telur disebut sudah mencapai Rp23.000 per kilogram, sedangkan HPP ayam broiler berkisar Rp19.500-Rp20.000 per kilogram.

Selain masalah harga, Parjuni mengeluhkan penurunan konsumsi masyarakat dan membanjirnya pasokan telur di pasar.

"Kondisi yang saat ini memang konsumsi masyarakatnya turun karena kondisi ekonomi lah, kita memaklumi," katanya.

Harga turun saat biaya produksi naik

Peternak ayam lainnya, Chris Handrika Imanuel Raharjo, menyebut kondisi peternak broiler maupun petelur saat ini sangat terpukul.

Ia mengatakan harga ayam broiler di tingkat peternak menyentuh Rp12.500 per kilogram, jauh di bawah HPP pemerintah sebesar Rp19.500 per kilogram.

Sementara harga telur berada di sekitar Rp16.500 per kilogram, dengan HPP pemerintah Rp19.500 per kilogram.

Chris juga mempertanyakan keputusan pemerintah menurunkan harga acuan telur menjadi Rp24.000 per kilogram dari sebelumnya Rp26.500 per kilogram.

Pedagang saat melayani salah satu pembeli telur di tokonya.

Sumber gambar, Aidil Bahar

Keterangan gambar, Pedagang saat melayani salah satu pembeli telur di tokonya.

"Kalau secara logika, kalau hari ini harga bahan baku naik, kenapa harga acuan penjualan telur justru diturunkan Rp2.500 per kilogram, kami juga perlu jawaban," kata dia, Selasa (07/07).

Menurut Chris, peternak awalnya berharap kebijakan impor satu pintu untuk bahan baku pakan dapat menekan biaya produksi.

Namun kenyataannya, harga bahan baku justru meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Harga bungkil kedelai justru naik sekitar Rp2.000 per kilogram dalam enam bulan terakhir.

Baca juga:

Chris menilai pemerintah lebih cepat turun tangan ketika harga pangan naik dibanding saat harga anjlok dan peternak mengalami kerugian.

"Untuk harga turun pemerintah hadir jarang, tapi kalau harga tinggi segera operasi pasar. Ini yang kami harapkan pemerintah punya regulasi yang adil untuk peternak bagaimana, daya beli seperti apa," ujarnya.

Chris mengatakan kerugian peternak sangat besar ketika harga telur berada di kisaran Rp16.500 per kilogram.

"Kerugian sangat dirasakan padahal harga pendukung HPP terus naik. Ini yang menjadi keprihatinan kami," tegasnya.

Sementara itu, pedagang telur di Pasar Legi Solo, Sari, mengaku harga telur dalam sebulan terakhir turun dari sekitar Rp23.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Ia juga menyebut penjualan saat ini mengalami penurunan.

"Dibandingkan dulu, ini harga yang paling rendah untuk tahun ini," katanya.

Peternak Bandung khawatir diserbu telur murah dari Blitar

Kekhawatiran terhadap membanjirnya pasokan telur murah juga muncul di Jawa Barat.

Pengelola peternakan ayam petelur di Kabupaten Bandung Barat, Haerudin, mengaku waswas jika telur murah dari Blitar membanjiri pasar Bandung.

Menurutnya, harga telur di Blitar yang kini hanya Rp17.000-Rp18.000 per kilogram berpotensi menyeret harga telur lokal.

"Kalau telur dari Blitar masuk ke Bandung, bisa hancur peternak di sini. Bisa gulung tikar karena harga telur Blitar murah. Jadi peternak di sini harus mengikuti harga itu. Kami bisa rugi," ungkap Haerudin pada Selasa (07/07).

Harga telur ayam ras di Blitar saat ini disebut berada di kisaran Rp17.000-Rp18.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram yang ditetapkan pemerintah per 15 Juli 2026.

Sementara itu di Bandung, harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp21.000 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp29.000 per kilogram.

Telur

Sumber gambar, Aidil Bahar

Keterangan gambar, Ilustrasi telur

Ketika harga masih Rp29.000 per kilogram, Haerudin mengaku bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp1 juta per hari. Dengan harga Rp21 ribu per kilogram, Haerudin masih mendapat keuntungan tipis, sekitar Rp300 ribu per hari.

Namun ia tidak bisa membayangkan jika harga telur anjlok hingga Rp17 ribu per kilogram.

"Bisa-bisa ini harga turun lagi. Kalau turun lagi, sudah tidak bisa bayar pegawai sama pakan. Harga pakan kan mahal. Jadi sekarang ini, harga pakan naik, harga telur turun. Makanya saya bilang, kalau harganya turun ke Rp17.000 atau Rp18.000 per kilogram, bakal banyak peternak yang gulung tikar," ucap Haerudin.

Kenaikan harga pakan juga menambah tekanan. Peternakannya yang memiliki sekitar 3.000 ekor ayam membutuhkan sekitar 370 kilogram pakan per hari dengan biaya Rp2,7 juta, naik dari sebelumnya sekitar Rp2,2 juta per hari.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menurunkan harga pakan.

"Kalau stok pakan sih banyak. Cuma harganya aja yang bikin peternak-peternak kecil ini banyak yang gelisah," katanya.

"Kami berharap harga pakan murah, harga telur juga bisa bertahan."

Harga telur di Makassar turun setelah dapur MBG berkurang

Di Makassar, Sulawesi Selatan, para pedagang mengaitkan turunnya harga telur dengan berkurangnya operasional sejumlah dapur MBG.

Hasmi, pedagang telur di Pasar Niaga Daya, mengatakan harga telur kini hanya Rp35.000-Rp45.000 per rak, turun dari sebelumnya sekitar Rp50.000 per rak.

"Sekarang ada harga Rp35.000, Rp40.000 sampai Rp45.000 per rak yang ukuran besar," katanya.

Menurut Hasmi, peternak sebelumnya meningkatkan produksi karena tingginya permintaan dari program MBG. Namun setelah Idulfitri, sejumlah dapur MBG mulai dikurangi bahkan berhenti beroperasi sehingga pasokan menumpuk.

"Itu pengaruhnya karena peternak tambah produksi telur karena banyak permintaan kemarin waktunya lancar MBG. Ternyata, setelah lebaran Idul Fitri semakin dikurang itu MBG. Jadi terdampak harganya sampai turun drastis karena barang menumpuk," jelasnya.

"Turun sedikit-sedikit harganya sampai harga segini sekarang, Rp35.000 per rak di peternak. Turunnya pelan-pelan, Rp2.000, Rp3.000, kadang juga Rp1.000. Paling banyak ini turunnya, dari harga Rp50.000 ke Rp35.000 per rak," katanya.

Hasmi, yang telah berjualan telur sejak 2005 itu, mengambil pasokan dari peternak di Kabupaten Sidrap. Dalam sekali pengiriman, ia dapat mengambil hingga 6.000 rak telur menggunakan dua truk.

Jika membeli telur dari peternak dengan harga Rp35.000 per rak, ia menjualnya di Makassar seharga Rp36.500 hingga Rp37.000 per rak.

Hasmi (41 tahun) pedagang telur di Makassar telah melakoni usaha telur sejak tahun 2005

Sumber gambar, Aidil Bahar

Keterangan gambar, Hasmi (41 tahun) pedagang telur di Makassar telah melakoni usaha telur sejak tahun 2005

Meski harga turun bukan hal baru dalam bisnis telur, ia mengakui kondisi saat ini tetap berdampak terhadap usahanya.

"Banyak sekali dampaknya, kurang pembeli karena barang banyak. Tidak seperti waktunya MBG lancar. Tidak banyak pembeli karena tambah banyak penjual juga. Banyak juga yang jual di bawah harga karena banyak peternak tidak laku barangnya," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga telur.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lain, Ramli, yang telah berdagang telur selama sekitar 40 tahun.

"Turun harganya ini telur karena sudah tiga kali saya pergi ambil di peternak di Sidrap turun harga, sebentar itu mau turun lagi," katanya.

Ramli menyebut harga telur yang sebelumnya berkisar Rp42.000 per rak kini turun hingga sekitar Rp37.000 per rak.

Sama seperti Hasmi, Ramli menilai berkurangnya aktivitas dapur MBG menjadi salah satu penyebab utama.

Ramli mengatakan pasokan telur dari Sidrap sejauh ini masih melimpah dan belum pernah mengalami kelangkaan.

"Naik juga harga pakan itu saya dengar. Sebenarnya ini telur naik turun juga harganya."

Pria berusia 48 tahun itu menjelaskan bahwa usaha yang dijalankannya bersama keluarga juga mendapat dukungan modal dari peternak di Sidrap. Dalam sekali pengiriman, ia biasanya mengambil sekitar 2.000 rak telur.

Apa kata pemerintah?

Kementerian Pertanian (Kementan) memang telah menetapkan harga acuan ayam hidup (live bird) sebesar Rp19.500 per kilogram dan telur ayam Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak mulai 15 Juli 2026.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah akan memastikan kebijakan tersebut dijalankan oleh seluruh pelaku usaha agar harga di tingkat peternak membaik tanpa mengganggu stabilitas harga bagi konsumen.

"Kalau ini dipatuhi maka akan menaikkan kesejahteraan peternaknya, hidupnya tambah baik, dan memastikan kemudian di harga HET [Harga Eceran Tertinggi]-nya juga sesuai, kemudian konsumen atau pedagang di tahap akhir itu menjual sesuai dengan harga HET," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (06/07), melansir Kompas.com.

Menurut dia, penetapan harga tersebut merupakan hasil pembahasan antara Kementan, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), asosiasi perunggasan, pelaku usaha, dan peternak. Kebijakan itu diambil untuk menjaga keseimbangan harga ayam dan telur di tingkat peternak hingga konsumen.

Harga acuan pun ditetapkan agar selisih antara harga pokok produksi dan harga di tingkat konsumen tidak terlalu lebar.

Selain menetapkan harga acuan, pemerintah akan mengevaluasi sejumlah persoalan lain yang memengaruhi sektor peternakan, termasuk pasokan bahan baku pakan, kemungkinan dukungan terhadap biaya pakan, serta penguatan perlindungan bagi peternak.

"Secara berkala kita bisa lakukan evaluasi hasil keputusan rapat sebelumnya, itu ditagih di rapat selanjutnya, sambil kita mengevaluasi melihat apakah ada permasalahan baru yang kemudian harus di-raise," kata Sudaryono.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan pelemahan harga ayam beberapa waktu terakhir terjadi akibat terganggunya keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

"Keseimbangan suplai dan demand ini yang terganggu, sehingga pada saat suplai kita melimpah demand-nya turun, ya tentu harganya juga menjadi turun," katanya.

Agung bilang, jika harga terus berada di bawah HPP, keberlanjutan usaha peternak akan terancam dan produksi nasional berpotensi terganggu. "Kalau lebih rendah dari HPP seperti sekarang, peternak kita tidak bisa berkelanjutan dan produksi kita juga terancam. Nah ini yang kita harus kita jaga," pungkasnya.

Oversupply dan berhenti sementaranya MBG tekan harga

Pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran, Ferry Hadiyanto, menilai anjloknya harga telur dipengaruhi kombinasi peningkatan produksi dan melemahnya permintaan.

Menurut Ferry, investasi di sektor ayam petelur meningkat dalam setahun terakhir karena bisnis tersebut sebelumnya dianggap menguntungkan. Akibatnya, pasokan telur meningkat signifikan.

"Sentra-sentra ayam petelur memang sedang mengalami panen dan oversupply sebagai hasil dari meningkatnya investasi ayam petelur dalam satu tahun terakhir karena dianggap menguntungkan," kata Ferry.

Menurut dia, selama beberapa bulan pertama tahun ini permintaan relatif tinggi karena adanya Ramadan, Idulfitri, dan program MBG yang membantu menyerap pasokan telur.

"Tapi setelah Juni dan Juli, di mana demand menurun dan adanya libur sekolah sehingga MBG stop operasi sementara membuat pasar mengalami oversupply dan inilah yang membuat harga turun," kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran itu.

Pedagang telur di Makassar

Sumber gambar, Aidil Bahar

Keterangan gambar, Ramli (48 tahun) pedagang telur di Makassar menunjukkan telur yang dijualnya. Saat ini harga telur mengalami penurunan harga di Rp37.009 per rak

Di saat bersamaan, peternak menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melemahnya nilai tukar yang membuat harga pakan dan komponen impor lainnya meningkat.

"Telur bukan komoditas yang bisa tahan lama sehingga harus bisa terjual dalam kurun waktu tertentu. Beberapa hal di ataslah yang membuat telur harus dijual dengan harga yang relatif murah," jelas Ferry.

Menurutnya, kondisi tersebut bahkan menjadikan telur sebagai salah satu penyumbang deflasi di Jawa Barat.

Ferry menyarankan pemerintah mengeluarkan kebijakan jangka pendek berupa subsidi bagi komponen impor pakan dan vaksin ternak untuk membantu meringankan beban peternak.

"Bantuan pemerintah ini dalam rangka menjaga jangan sampai banyak peternak yang gulung tikar dan akhirnya pada periode yang akan datang justru akan membuat kekurangan supply telur dan harga akan tinggi di pasaran, terutama menyambut libur Nataru," pungkas Ferry.

Fajar Sodiq di Solo, Yuli Saputra di Bandung, dan Aidil Bahar di Makassar, Sulawesi Selatan berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.