Iran tembakkan rudal ke fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait setelah Amerika Serikat gempur puluhan target Iran

Iran mengatakan pihaknya menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan AS terhadap puluhan target Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan pada Selasa malam bahwa mereka telah menggempur lebih dari 80 target, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Serangan tersebut menghantam sejumlah wilayah, termasuk Bandar Abbas dan Sirik, serta menyebabkan beberapa orang terluka akibat serpihan ledakan, menurut media pemerintah Iran.
Peristiwa ini terjadi setelah serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan serangan AS itu "benar-benar diperlukan", seraya menuduh Iran "pada dasarnya melanggar gencatan senjata" setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa justru AS yang melanggar nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan "mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di Selat Hormuz".
Bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani MoU setebal 14 halaman yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata dan mengakhiri konflik "di semua front".
Baca juga:
Menlu Iran: Sebagian isi kesepakatan dengan AS 'tidak efektif' setelah serangan terbaru
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh AS melakukan "pelanggaran terang-terangan" terhadap nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang ditandatangani kedua negara.
Dalam sebuah pernyataan, Araghchi mengatakan serangan AS, pemberlakuan kembali sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah membuat "bagian-bagian penting dan mendasar dari kesepahaman untuk mengakhiri perang menjadi tidak efektif".

Sumber gambar, EPA
Ia menegaskan bahwa Iran "tidak akan ragu" untuk mempertahankan "keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasionalnya".
Araghchi juga menyampaikan peringatan kepada negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS.
Menurutnya, Iran akan "menargetkan sumber dan titik asal" dari setiap serangan yang ditujukan terhadap negaranya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian direspons Teheran dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Baca juga:
Media Iran konfirmasi serangan di wilayah pesisir Barat Daya
Media-media Iran melaporkan bahwa serangan baru terjadi pada Rabu pagi di kota pelabuhan Bushehr, di barat daya negara tersebut.
Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan sejumlah ledakan terdengar di Bushehr dan wilayah sekitarnya.
Sementara itu, seorang pejabat senior keamanan di Bushehr mengatakan bahwa "proyektil musuh" menghantam dua markas militer, yakni satu di Kabupaten Dashti dan satu lagi di dekat kota Choghadak, menurut laporan kantor berita Fars.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat serangan tersebut.
Di sisi lain, beredar laporan mengenai dugaan serangan terhadap Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama yang terletak di lepas pantai Iran.
Namun, kantor berita Mehr menyatakan laporan tersebut tidak benar.
Harga minyak naik setelah aksi saling serang AS dan Iran
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik lebih dari 3% menjadi US$76 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat kembali ke tingkat sebelum perang setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata bulan lalu.
Namun, serangan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran mengenai kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pelaku pasar khawatir eskalasi konflik dapat mengganggu arus pengiriman energi melalui selat tersebut, yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Kuwait kecam serangan Iran
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Negara-negara Teluk merespons serangan yang dilancarkan Iran.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam apa yang disebutnya sebagai "agresi Iran yang berulang dan keji" pada Rabu pagi.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian menyebut tindakan tersebut sebagai "agresi yang terang-terangan" yang merusak upaya-upaya untuk meredakan ketegangan.
Menurut Kuwait, serangan itu terjadi pada saat berbagai inisiatif regional dan internasional untuk menurunkan eskalasi konflik sedang berlangsung.
Kementerian Luar Negeri Kuwait juga menegaskan bahwa negara itu berhak "mengambil semua langkah yang diperlukan" untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasionalnya.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan Doha menganggap Iran "sepenuhnya bertanggung jawab" atas dugaan serangan yang menargetkan kapal Al-Rekayyat saat melintas di dekat selat tersebut pada Selasa.
Dalam pernyataan terpisah yang diunggah di media sosial, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan Iran juga menargetkan kapal tanker Saudi, Wadyan, ketika kapal itu sedang melintasi selat tersebut.
Bahrain aktifkan sirene peringatan saat militer Iran serang fasilitas AS
Sirene peringatan dilaporkan berbunyi di Bahrain pada Rabu pagi setelah militer Iran menyatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di negara Teluk tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pasukan angkatan laut dan kedirgantaraannya melancarkan operasi gabungan rudal dan drone yang menyasar 85 instalasi militer utama AS di Pelabuhan Salman, kawasan tempat Armada Kelima Angkatan Laut AS bermarkas di Bahrain.
"Pasukan angkatan laut dan kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam, dalam operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 instalasi militer utama Amerika di Pelabuhan Salman, wilayah Armada Kelima AS di Bahrain," demikian pernyataan IRGC.
Militer Iran juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Menurut Iran, serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas operasi militer AS yang sebelumnya menghantam "sejumlah pangkalan pesisir dan fasilitas sipil" di sepanjang pantai Provinsi Hormozgan dan Mahshahr.
Di tengah serangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengaktifkan sirene peringatan untuk masyarakat.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan korban akibat serangan yang diklaim Iran itu.
AS sebut serangan ke Iran sebagai respons atas insiden kapal di Selat Hormuz
Amerika Serikat pada Selasa malam melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran sebagai tanggapan atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan AS menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik.
Washington mengatakan operasi militernya dilakukan sebagai respons terhadap serangan yang menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Namun, Teheran hingga kini belum secara langsung mengaku bertanggung jawab atas insiden-insiden tersebut.
Badan UK Marine Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan bahwa sebuah kapal tanker yang sedang melintas di selat itu mengalami kebakaran setelah sebuah proyektil tak dikenal menghantam ruang mesin kapal pada Senin.
Dalam dua insiden terpisah pada Selasa, UKMTO menyebut satu kapal tanker kembali dilaporkan terkena serangan saat keluar dari Selat Hormuz, meski masih dapat melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan berikutnya.
Sementara itu, kapal tanker lain dilaporkan mengalami kerusakan ringan pada struktur kapal setelah terkena hantaman, kata organisasi tersebut.
Apa isi nota kesepahaman antara AS dan Iran?
Pada 17 Juni 2026, presiden Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan awal yang dikenal sebagai nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU), yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata antara kedua negara.
Perjanjian tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, rencana senilai US$300 miliar (sekitar £224 miliar) untuk mendukung "rekonstruksi" Iran, serta komitmen AS untuk mengakhiri "segala jenis sanksi" terhadap Iran.
Namun, kesepakatan itu tidak menyentuh isu sensitif mengenai program nuklir Iran, yang selama ini menjadi salah satu alasan utama yang dikemukakan Washington untuk melancarkan perang.

Sumber gambar, Reuters
Karena itu, kedua pihak masih melanjutkan perundingan dalam beberapa pekan terakhir guna membahas persoalan-persoalan yang belum terselesaikan.
Sebelumnya pada Rabu pagi, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Ghalibaf, menuduh AS telah melanggar MoU dengan "mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di selat tersebut".
Selama konflik berlangsung, Iran berupaya menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, antara lain dengan membentuk Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority), yang menurut Teheran akan mengelola penerbitan "izin pelayaran aman" bagi kapal yang melintas.
Namun, dalam MoU tersebut disebutkan bahwa Iran akan "berupaya semaksimal mungkin" untuk menjamin pelayaran yang aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, tanpa dikenakan biaya, setidaknya selama 60 hari.
Selat Hormuz: Mengapa jalur ini sangat penting?
Jalur perairan ini diapit oleh Iran di sebelah utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) di sebelah selatan.
Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 50 kilometer di bagian pintu masuk dan keluar, serta hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) biasanya melewati Selat Hormuz.

Sumber gambar, Reuters
Komoditas energi tersebut tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari sejumlah negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Sebelum konflik pecah, sekitar 3.000 kapal melintasi selat tersebut setiap bulan.
Namun, jumlah itu menurun drastis setelah Iran mengancam akan menyerang kapal tanker dan kapal-kapal lain yang beroperasi di kawasan tersebut.
Sejak nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) ditandatangani pada 17 Juni, lalu lintas pelayaran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Meski demikian, volume pelayaran masih berada di bawah tingkat tertinggi yang tercatat sebelum perang.





























