Mesir kecam 'ketidakadilan' usai tersingkir, tuduh Messi dapat perlakuan khusus

Sumber gambar, Roberto Schmidt/AFP via Getty Images
- Penulis, Neil Johnston in Miami
- Peranan, BBC Sport journalist
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Dengan 12 menit waktu normal yang tersisa, Mesir berada di ambang salah satu hasil menakjubkan dalam sejarah mereka di Piala Dunia.
Tim berjuluk The Pharaohs itu unggul 2-0 atas juara dunia bertahan Argentina di Stadion Atlanta.
Tiket perempat final—yang akan menjadi pencapaian pertama mereka di ajang ini—sudah terlihat di depan mata bagi negara Afrika yang sangat menggemari sepak bola tersebut.
Namun kemudian semuanya berubah dengan sangat cepat. Dan dengan cara yang menyakitkan.
Saat Cristian Romero memperkecil ketertinggalan Argentina pada menit ke-79, Mesir semestinya hanya perlu bertahan dan melewati sisa pertandingan.
Tapi kepanikan mulai terlihat ketika sang kapten Argentina, Lionel Messi—siapa lagi?—menyamakan kedudukan menjadi 2-2 hanya empat menit kemudian.
Enzo Fernández lalu menyempurnakan kebangkitan luar biasa Argentina melalui sundulan pada menit kedua masa injury time, memicu ledakan kegembiraan para pendukung Albiceleste.
Bagi Mesir, semuanya runtuh.
Dan mereka juga sangat marah setelah video assistant referee (VAR) menganulir gol kedua Mostafa Zico karena pelanggaran dalam proses terciptanya gol tersebut.
Gelandang Marwan Attia dinilai sedikit menginjak Lisandro Martínez pada awal serangan, ketika Mesir masih unggul 1-0.
Mereka juga bersikeras bahwa Mohamed Salah dilanggar di kotak penalti Argentina beberapa detik sebelum sang juara bertahan melancarkan serangan yang berujung pada gol kemenangan.
Ketika wasit asal Prancis, François Letexier, meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, banyak pemain Mesir langsung terjatuh ke lapangan. Mereka tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Dalam wawancara bernada keras setelah laga, pelatih Mesir Hossam Hassan mengatakan timnya telah "diperlakukan tidak adil" dan "menjadi korban ketidakadilan".
BBC Sport telah meminta tanggapan FIFA terkait pernyataan tersebut.

Sumber gambar, Roberto Schmidt/AFP via Getty Images
"Ada banyak hal yang patut dipertanyakan, baik di dalam maupun di luar lapangan," kata Hassan.
"Banyak aspek negatif yang muncul. Ini soal kredibilitas, atau kurangnya kredibilitas, dalam bagaimana pertandingan ini berlangsung.
"Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia tetap berada di turnamen. Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan dalam persaingan.
"Juara dunia mendapat dukungan di setiap level. Tampaknya ada tekanan dari kubu Argentina yang memengaruhi hasil akhir ini."
Pertandingan ini menghadirkan hampir semua elemen drama yang mungkin terjadi dalam sepak bola: penalti yang gagal berbuah gol, gol yang dianulir, kartu merah, hingga kebangkitan sensasional.
BBC Sport mengulas pertandingan yang akan tercatat dalam sejarah Piala Dunia sebagai laga di mana sebuah tim yang tertinggal dua gol hingga fase akhir pertandingan mampu membalikkan keadaan dan menang tanpa harus melalui perpanjangan waktu.
"Mengapa tidak ada keadilan dalam olahraga?"
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Kami harus tampil lebih baik di Piala Dunia," kata pelatih Mesir, Hossam Hassan, menjelang turnamen ketika menyinggung buruknya rekam jejak negaranya di ajang tersebut.
Mesir datang ke Amerika Utara dengan reputasi sebagai salah satu tim yang kerap gagal memenuhi harapan di Piala Dunia.
Dalam tiga penampilan sebelumnya di panggung sepak bola terbesar dunia, mereka tidak pernah menang dan gagal meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan.
Setelah akhirnya mencatat kemenangan perdana di Piala Dunia dengan mengalahkan Selandia Baru pada laga fase grup di Vancouver pada 22 Juni, The Pharaohs unggul lebih dulu atas juara dunia tiga kali, Argentina, melalui sundulan Yasser Ibrahim pada menit ke-15.
Dalam pertandingan yang sarat insiden, kiper Mesir Mostafa Shobeir tampil gemilang dengan menggagalkan tendangan penalti Lionel Messi.
Mesir kemudian sempat merasa telah menggandakan keunggulan mereka, tetapi gol tersebut dianulir.
Gol kemenangan Enzo Fernández yang tercipta pada menit-menit akhir semakin memicu kemarahan kubu Mesir.
Mereka menuntut penalti setelah Mohamed Salah dianggap dilanggar, sementara salah seorang anggota staf pelatih Mesir di bangku cadangan diganjar kartu merah.
Selain itu, Hossam Hassan juga mendapat kartu kuning karena melakukan protes seusai gol kemenangan Argentina.

Sumber gambar, Catherine Ivill - AMA/Getty Images
Dia terlihat menyilangkan kedua lengannya di depan dada, sebuah gestur yang didukung FIFA sebagai simbol bagi pemain dan pelatih untuk memberi tahu wasit mengenai dugaan insiden rasisme.
Namun, dalam pernyataannya setelah pertandingan, pelatih Mesir itu tidak menyinggung makna gestur tersebut.
"Kami tidak melihat adanya rasa hormat maupun sportivitas," ujarnya.
"Penalti untuk kami tidak diberikan, bahkan tidak ditinjau melalui VAR. Gol kedua kami juga dianulir dengan alasan yang sulit dipahami.
Kita semua melihat bagaimana jersey ditarik [oleh Alexis Mac Allister], tetapi tidak ada pemeriksaan VAR. Kehidupan memang tidak selalu adil, tetapi mengapa keadilan juga tidak hadir dalam olahraga?"
Penyerang Mesir, Mostafa Zico, menyampaikan nada serupa.
"Wasit benar-benar tidak adil. Ketidakadilan itu terlihat jelas. Perlakuan yang tidak adil sudah terasa sejak awal pertandingan," katanya.
Analisis: Keputusan-keputusan penting wasit
Baru pekan lalu, kepala perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, kembali menegaskan salah satu prinsip utama yang diberikan kepada para ofisial pertandingan.
Para wasit diminta untuk membiarkan kontak fisik yang masih wajar dalam permainan agar tempo pertandingan tetap tinggi.
Hasilnya terlihat di Piala Dunia kali ini. Rata-rata pelanggaran yang tercatat hanya 22,6 per pertandingan, turun dibandingkan 25 pada edisi 2022 dan 27 pada 2018.
Lalu, bagaimana konteks tersebut berkaitan dengan gol Mesir yang dianulir?
Marwan Attia terlihat melakukan tarikan yang sangat ringan terhadap jersey Lisandro Martínez dan sedikit menginjak ujung sepatunya.
Namun VAR kemudian turun tangan dan menyatakan gol indah yang dicetak Mostafa Zico harus dianulir karena adanya pelanggaran dalam proses serangan.
Tentu ada argumen bahwa tindakan tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran.
Namun keputusan itu juga bisa dinilai tidak sejalan dengan standar perwasitan yang selama ini diterapkan sepanjang turnamen.
Jika kontak semacam itu dibiarkan oleh wasit di lapangan, maka sebagian pihak berpendapat pendekatan yang sama seharusnya juga diterapkan oleh VAR.
Sebagai perbandingan, insiden ketika sepatu Aleksandar Pavlovic mengenai wajah Pedro Vite dari Ekuador tidak memicu intervensi VAR sebelum gol Leroy Sané disahkan.
Apakah pelanggaran Attia terjadi terlalu jauh dari momen terciptanya gol?
VAR akan meninjau bagaimana fase serangan dimulai, khususnya saat penguasaan bola diperoleh.
Karena insiden tersebut secara langsung menjadi bagian dari rangkaian serangan yang berujung gol, kejadian itu tetap dapat ditinjau, meskipun terjadi sekitar 17 detik sebelumnya.

Sumber gambar, Wu Zhizhao/VCG via Getty Images
Yang mungkin lebih merugikan tim perangkat pertandingan adalah dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah dalam proses terciptanya gol kemenangan dramatis Enzo Fernández.
Di dalam kotak penalti Argentina, Salah terjatuh sambil mengklaim dirinya dijatuhkan oleh Julián Álvarez. Banyak yang berpendapat bahwa insiden tersebut juga layak ditinjau melalui VAR.
Situasinya mirip dengan pelanggaran yang dilakukan Attia, tetapi ada satu perbedaan penting.
Salah berada di dalam kotak penalti. Karena itu, VAR menilai apakah insiden tersebut layak menghasilkan penalti, yang memiliki ambang pembuktian lebih tinggi dibandingkan pelanggaran biasa.
Seandainya kejadian yang sama terjadi di luar kotak penalti, demi konsistensi VAR kemungkinan harus ikut campur.
Namun karena dianggap tidak memenuhi syarat untuk menghasilkan tendangan penalti, gol kemenangan Argentina tetap disahkan.
Apakah ini akan menjadi Piala Dunia terakhir Mohamed Salah?
Sementara Lionel Messi, Erling Haaland, dan Kylian Mbappe tampil produktif sepanjang turnamen ini, Mohamed Salah harus mengakhiri perjalanannya dengan hanya satu gol.
Gol tersebut tercipta saat Mesir mengalahkan Selandia Baru pada 22 Juni.
Namun, ketika menghadapi Argentina di babak 16 besar, kapten Mesir itu kesulitan memberikan pengaruh berarti. Salah tidak mencatat satu pun percobaan tembakan maupun umpan kunci sepanjang pertandingan.
Saat Piala Dunia 2030 digelar di Maroko, Portugal, dan Spanyol, usia Salah akan menginjak 38 tahun.
Cristiano Ronaldo dari Portugal dan Luka Modric dari Kroasia diyakini telah menjalani penampilan terakhir mereka di panggung Piala Dunia pada usia 41 dan 40 tahun.
Namun, apakah Salah masih akan membela Mesir di ajang yang sama empat tahun lagi, masih menjadi tanda tanya.
Sementara itu, tersingkirnya Mesir membuat Maroko menjadi satu-satunya wakil Afrika yang masih bertahan di turnamen ini dari total 10 tim yang berpartisipasi.
Empat tahun lalu, Maroko mencatat sejarah dengan menjadi negara Afrika pertama yang menembus babak semifinal Piala Dunia.
Kini, tim berjuluk Singa Atlas itu akan menghadapi Prancis pada laga perempat final yang berlangsung di Stadion Boston, Kamis malam waktu setempat.

Sumber gambar, Getty Images
Kebanggaan di tengah kepedihan hati
Baru saja saya menutup telepon dari keponakan saya yang berusia sembilan tahun.
"Paman, ini bencana. Kita dirampok!" katanya sambil menangis penuh amarah.
Saya membayangkan percakapan serupa juga terjadi di banyak rumah dan grup WhatsApp keluarga, di mana pun warga Mesir seperti keluarga saya menyaksikan pertandingan malam ini.
Kata patah hati pun rasanya belum cukup untuk menggambarkan perasaan yang ada.
Laga ini membawa para pendukung melewati perjalanan emosi yang berliku—dari harapan, menjadi keyakinan, lalu euforia yang meluap-luap, sebelum akhirnya berganti menjadi kemarahan dan berujung pada kepedihan.
"Saya orang Amerika keturunan Mesir, dan saya merasakan setiap menit pertandingan ini," ujar Sami Elmansoury, 41 tahun.
"Menyaksikan Mesir meraih kemenangan pertama mereka dalam sejarah Piala Dunia lalu mampu bertarung setara dengan Argentina adalah sesuatu yang tak akan pernah saya lupakan. Tak ada yang bisa mengurangi apa yang telah ditunjukkan para pemain ini kepada dunia hari ini. Penampilan mereka sepanjang turnamen akan terus dikenang."
Dan tampaknya itulah yang dirasakan banyak warga Mesir malam ini.

Sumber gambar, ROBERTO SCHMIDT / AFP via Getty Images
Kebanggaan—berdampingan dengan kepedihan.
Mereka tidak bermain sebagai tim yang lebih lemah. Mereka bermain sebagai tim yang setara.
Tim ini telah mencapai sesuatu yang belum pernah dilakukan timnas Mesir sebelumnya. Mereka berhasil mengangkat semangat satu bangsa, bahkan satu kawasan.
Sepanjang turnamen ini, mereka mengusung semboyan "Mekameleen", yang berarti "kami akan terus melangkah".
Dan mereka benar-benar melakukannya.
Malam ini, jalan-jalan di Kairo, Alexandria, dan berbagai kota lain di Mesir mungkin akan lebih sepi daripada yang diharapkan para suporter.
Piala Dunia ini memang berakhir dengan kepedihan.
Namun, turnamen ini juga meninggalkan keyakinan baru bagi warga Mesir: bahwa tim ini layak berdiri sejajar dengan negara-negara terbesar dalam sepak bola dunia.
































