Gunung Anak Krakatau erupsi – Apakah berbahaya dan bagaimana sejarah letusan dari era Hindia Belanda?

Sumber gambar, NURUL HIDAYAT/AFP via Getty Images
- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 16 menit
Gunung Anak Krakatau erupsi sebanyak 12 kali di Rabu (08/07) dan Jumat (10/07). Jumlah itu lebih dari setengah erupsi yang tercatat di sepanjang 2026, yaitu 17 letusan.
Rangkaian erupsi itu memunculkan pertanyaan: Bagaimana prediksi vulkanolog tentang aktivitas terbaru gunung di Selat Sunda itu? Apakah berbahaya dan berpotensi memicu tsunami seperti 2018 silam?
Lalu, bagaimana sejarah aktivitas Krakatau, yang tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar sepanjang sejarah dunia?
Seorang warga Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Banten, Ebi, mengaku menyaksikan kepulan asap Gunung Anak Krakatau dari warung miliknya, yang berada tepat di bibir pantai awal Juli lalu.
"Pas meletus saya lagi di warung. Biasanya cuma sedikit, tapi kemarin lumayan banyak, makanya saya langsung khawatir," ujar pria 40 tahun itu, Rabu (08/07).
Sepanjang 2026 tercatat terjadi 12 letusan Gunung Anak Krakatau. Semuanya terjadi di Juli 2026.
Aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau sebelumnya terjadi pada awal hingga pertengahan Desember 2023. Saat itu, ketinggian kolom abu dari sekitar 200 hingga 2.000 meter di atas puncak kawah.

Sumber gambar, PVMBG
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kini menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Status Level III (Siaga).
PVMBG, pada Rabu (08/07), merekomendasikan "masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius tiga km dari kawah aktif."
Meningkatnya aktivitas vulkanik itu membuat Ebi khawatir.
"Namanya tinggal di pinggir pantai pasti takut. Kita enggak tahu apa yang akan terjadi. Takut kejadian seperti dulu terulang lagi," kata Ebi.
Bayang-bayang tsunami 2018

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA/AFP via Getty Images
Kekhawatiran Ebi merujuk pada bencana tsunami Selat Sunda yang menghantam pada 2018 silam.
"Yang paling parah waktu tsunami dulu. Orang-orang semua mengungsi. Di sini memang enggak separah Tanjung Lesung, tapi tetap kena dampaknya," ucapnya.
Pada 22 Desember 2018 lalu, longsor tubuh barat Gunung Anak Krakatau memicu bencana tsunami hingga 13 meter.
Akibatnya, 437 orang tewas, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di pesisir Banten dan Lampung.

Sumber gambar, Muhammad Iqbal
Delapan tahun berlalu, Ebi bilang masyarakat kini perlahan bangkit dari bencana tsunami itu.
Di kecamatannya, tambahnya, telah tersedia empat jalur evakuasi yang dapat digunakan apabila terjadi bencana.
Namun, tambahnya, rasa trauma masih membekas setiap kali Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas.
Mungkin Anda tertarik:
"Kalau dengar Gunung Krakatau meletus lagi pasti langsung khawatir. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi seperti tsunami dulu," pungkasnya.
Ebi pun berharap agar pemerintah terus memperkuat upaya mitigasi bencana: Mulai dari sirine peringatan dini, jalur evakuasi, sosialisasi di masyarakat hingga penataan kawasan pesisir.

Sumber gambar, Robertus Bejo
Trauma tsunami 2018 juga masih membekas di benak Yuliyanah, 32 tahun. Dia adalah warga Pulau Sebesi, Lampung, yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau.
"Waktu [2018] itu paniknya minta ampun banget, kami hanya memikirkan cara menyelamatkan diri. Kami terpaksa menginap di gunung dan tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi rumah," kenang Yuliyanah.
Tsunami 2018 memporakporandakan Pulau Sebesi, yang dihuni oleh sekitar 2.800 jiwa itu.
Untuk kondisi erupsi kali ini, Yuliyanah bilang aktivitas wisata ke Sebesi masih berjalan lancar tanpa adanya penampakan api. Warga juga, sebutnya, aktif memantau informasi perkembangan lewat media sosial dan aparat setempat.
"Harapan kami ke pemerintah supaya lebih mengedepankan masyarakat pantai pesisir yang rawan terdampak tsunami, terutama agar kiranya lebih memfasilitasi sarana dan prasarana keselamatan," tutur Yuliyanah.
Video hoaks viral

Sumber gambar, PVMBG
Rasa trauma itu diperparah dengan viralnya video yang menarasikan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan kobaran api dari atas kapal pada 3 Juli lalu di media sosial.
Hal itu diungkapkan warga pesisir di Desa Canti, Lampung Selatan, Deliana.
"Ya semua warga ikut panik karena video itu, termasuk kita juga di sini, di pesisir. Padahal enggak seperti itu, hanya batuk saja, mengeluarkan asap, debu juga tidak tebal," keluh Deliana saat ditemui di Dermaga Canti.
Otoritas terkait pun telah membantah dan menyebut video itu hoaks.
Selain kepanikan, video hoaks itu juga disebut Deliana berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir.
"Yang tadinya mau beraktivitas dari Pulau Sebesi ke Dermaga Canti jadi enggak berani karena video itu, itu kan menghambat usaha juga," tambahnya.
Terus mencari ikan

Sumber gambar, Angga Budhiyanto/NurPhoto via Getty Images
Di tengah penetapan status siaga (III) dan himbauan menjauhi kawah aktif Gunung Anak Krakatau di radius tiga kilometer, sejumlah nelayan tradisional mengaku terpaksa melanggar batas aman itu.
Sebab, kawasan di sekitar kawah aktif Anak Krakatau merupakan habitat utama bagi gerombolan ikan bernilai jual tinggi.
"Kami tetap memaksa melaut ke sana walaupun risikonya besar. Karena kalau kami tidak mancing, dapur kami tidak akan terisi. Di sekitar gunung api itu pusatnya ikan besar, gudangnya kakap merah, tenggiri, tuna, hingga tongkol," kata Sarifudin yang telah 11 tahun menjadi nelayan.
Hal yang sama juga diungkapkan Edi Muhtadi, nelayan asal Kampung Pulau Pasaran, Bandar Lampung.
"Kalau memang sedang erupsi, kami menjauh dari lokasi. Tetap melaut, tetapi menghindari daerah sekitar Gunung Anak Krakatau," kata Edi, Senin (06/07).
Bagaimana aktivitas Gunung Anak Krakatau kini?

Sumber gambar, RONALD SIAGIAN/AFP via Getty Images
Pengamat Gunung Api PVMBG Pos di Desa Pasauran, Banten, Deny Mardiono, mengatakan aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih didominasi gempa vulkanik.
Meski demikian, Deny memastikan material letusan hingga kini masih berada di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau.
"Karena di sana tidak ada aktivitas maupun permukiman manusia, maka risikonya terhadap masyarakat sangat kecil. Yang perlu diwaspadai hanya abu vulkanik, itu pun tergantung arah angin," kata Deny.
Deny bilang, peningkatan aktivitas vulkanik terpantau sejak awal Juni 2026, salah satunya dengan kemunculan sinar api. Kemudian, menjelang erupsi pada 2 Juli 2026, kegempaan vulkanik dangkal mengalami peningkatan cukup signifikan.
Walaupun demikian, Dendy menegaskan, kondisi saat ini berbeda dibandingkan peristiwa tsunami 2018.
"Kalau tahun 2018 terjadi akumulasi aktivitas mulai Juni hingga Desember yang akhirnya menyebabkan longsoran tubuh gunung dan memicu tsunami. Sementara sekarang energinya masih relatif kecil," katanya.

Sumber gambar, FERDI AWED/AFP via Getty Images
Senada, Ketua Pos Gunung Api Krakatau di Lampung, Suwarno, berkata kubah lava telah runtuh pada 2018, sehingga potensi longsoran besar yang memicu tsunami minim terjadi.
"Ya risikonya mungkin yang terdampak itu abu vulkanik terdekat yang arahnya ke barat laut, seperti ke Pulau Sebesi. Masyarakat di sana wajib memakai masker dan helm berkaca saat bermotor, karena serpihan abu itu sangat runcing bagai kaca sehingga bisa memicu iritasi mata atau ISPA," imbaunya.

Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, juga memastikan destinasi wisata pantai di Anyer dan Cinangka tetap aman dikunjungi. Pasalnya lokasi itu berjarak 42 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
"Kondisi Gunung Anak Krakatau melandai dan dinyatakan aman. Kami mengajak wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, untuk tidak khawatir menghabiskan libur sekolah bersama keluarga di pesisir Serang," kata Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, Senin (06/07).
Sementara itu, Polda Lampung memasang plang imbauan di sejumlah titik strategis untuk mengingatkan kewaspadaan masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.
Prediksi vulkanolog

Sumber gambar, PVMBG
Vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman berkata aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini relatif tidak berbahaya dan aman bagi masyarakat untuk beraktivitas di pesisir Banten dan Lampung.
"Letusan dan longsor mungkin terjadi, tapi tidak sebesar pada 2018, karena tubuhnya belum setinggi 2018," kata Mirzam.
Pasalnya, ujarnya, Gunung Anak Krakatau sedang bertumbuh dan meninggi, setidaknya untuk mencapai kondisi pada 2018.
Namun yang perlu diperhatikan, kata Mirzam, adalah seberapa cepat pertumbuhan Gunung Anak Krakatau dan volume yang dikeluarkan.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan
Mirzam membagi fase pertumbuhan itu dalam tiga periode.
Pertama kemunculan Gunung Anak Krakatau pada 1927 hingga tahun 1960. Dibutuhkan waktu sekitar 33 tahun untuk bertumbuh, lalu sebagian tubuh gunung itu untuk longsor.
Kedua pertumbuhan dari 1961 hingga 2018. Di periode ini, dibutuhkan waktu sekitar 58 tahun.

Sumber gambar, EPA
Ketiga yaitu pertumbuhan dari 2019 hingga 2026. Dalam periode ini, siklus erupsi terjadi secara teratur setiap dua tahun, dengan kecenderungan pertumbuhan yang cepat.
"Yang perlu diamati, pertumbuhan Anak Krakatau itu mengikuti periode yang mana? Kalau periode satu atau dua, maka untuk mencapai ketinggian yang kemudian longsor diprediksi pada tahun 2100-an," ujar Mirzam.
"Tapi kalau trennya dari 2019 sampai sekarang itu cepat sekali dan diprediksi bisa mencapai ketinggian yang sama dengan 2018 hanya dalam empat tahun ke depan, yaitu 2030."
"Ini yang kemudian kita harus hati-hati. Pelajaran terakhir yang diberikan Krakatau tidak boleh terulang lagi," kata Mirzam.

Sumber gambar, FERDI AWED/AFP via Getty Images
Lalu, mengapa laju pertumbuhannya kini relatif cepat?
Mirzam bilang Gunung Anak Krakatau memiliki dua sumber magma, yaitu magma dangkal dan magma dalam.
"Ibaratnya satu wadah diisi dengan dua sumber, makanya pertumbuhan cepat," katanya.
Ditambah lagi, ujarnya, kepundan Gunung Anak Krakatau masih cenderung terbuka usai meletus pada 2018.
Artinya, pasokan magma dari bawah gunung bisa keluar dengan cepat tanpa halangan.

Sumber gambar, Kaveh Kazemi/Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Senada, vulkanolog Surono berkata, Anak Krakatau adalah gunung api muda yang sehat. Artinya, dia harus sering erupsi untuk bertumbuh besar dan tinggi.
"Ini fenomena yang normal. Dia harus seperti itu agar hukum alam terpenuhi. Bahkan letusan itu suatu fenomena alam yang boleh ditonton, seperti kembang api, indah sekali," kata Surono.
Namun, ada batasan aman yang harus ditaat saat menyaksikan keindahan yang jarang ditemukan di belahan dunia lain.
"Yang paling ekstrem jangan naik ke Pulau Anak Krakatau dan beraktivitas di dekatnya. Lalu, melihatnya dari radius aman yang ditetapkan," ujar Surono.
"Keunikan alam tidak selalu harus ditakuti, tapi kita harus berani hidup harmoni dengannya. Seperti gunung api, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi."
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, berkata, terdapat beberapa langkah mitigasi dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, yaitu mematuhi zona larangan akses, dan meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah pesisir.
Kemudian, katanya, adalah mengantisipasi paparan abu vulkanik dan menghindari informasi hoaks.

Sumber gambar, Kean Collection/Getty Images
Mirzam dari ITB berkata rangkaian letusan Gunung Krakatau setidaknya tercatat telah terjadi selama ratusan tahun yang lalu.
Dia membaginya dalam tiga era waktu, yaitu era kegelapan, Hindia Belanda, dan Indonesia.
Era kegelapan dan catatan raja Jawa
"Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin mengobarkannya; suaranya mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi."
"Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka."
Itu adalah catatan pustaka Raja Purwa, karya pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito, sekitar tahun 1869. Salinan kitab itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Gunung Kapi diyakini sebagai leluhur dari Gunung Krakatau. Letusan dahsyat itu dikisahkan oleh Ronggowarsito terjadi pada 416 Masehi.

Sumber gambar, The Print Collector/Heritage Images via Getty Images
Namun, beberapa ilmuwan melaporkan peristiwa itu kemungkinan terjadi pada 535 Masehi.
Hal itu merujuk pada analisis ilmiah yang terjadi pada abad ke-6, yaitu perlambatan data lingkaran tahun pada pohon, penurunan temperatur kutub secara signifikan, peningkatan asam sulfat di Greenland serta berakhirnya beberapa peradaban.
"Hasil analisis adanya anomali pada abad ke-6 menjadi dasar yang menguatkan jika Gunung Proto Krakatau meletus pada tahun 535, itu yang dimaksud era kegelapan," ucap Mirzam.
Menurut Pusat Informasi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (NCEI), energi letusan Proto Krakatau saat itu diperkirakan mencapai sekitar 400 megaton TNT, sekitar 20.000 bom atom Hirosima.
Dampaknya disebut menciptakan tsunami hingga ke India dan bahkan membentuk kaldera bawah laut selebar tujuh km, yang kemudian memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra.
Hindia Belanda

Sumber gambar, SSPL/Getty Images
Ratusan tahun berlalu, Gunung Krakatau perlahan membangun tubuhnya lagi.
Pembuat peta Willem Lodewijcksz bersama Cornelis de Houtman mencatat keberadaan Pulau Krakatau pada 17 Juni 1596.
Dalam buku History of the volcanology in the former Netherlands East Indies, vulkanolog M. Neumann van Padang menuliskan bahwa kedua penjelajah itu mengambarkan Krakatau sebagai rangkaian pulau berhutan lebat, yang mereka namai Carcata dan Cercata.
Asap belerang naik dari titik tandus berwarna kemerahan, yang menunjukkan aktivitas gunung berapi sangat aktif.
Puluhan tahun kemudian, seorang karyawan tambang emas di Sumatra, Johan Wilhelm Vogel menceritakan letusan Krakatau yang terjadi di antara 1680-1681.
Saat melewati Selat Sunda untuk ketiga kalinya, Vogel mengambarkan Krakatau dari awalnya yang hijau dan rimbun oleh pepohonan menjadi tandus dan hangus.

Sumber gambar, Hulton Archive/Getty Images
Kemudian, kapten kapal perang Jerman Elisabeth melihat gumpalan abu dan debu membubung di atas pulau Krakatau yang tidak berpenghuni pada Mei 1883.
Selama dua bulan berikutnya, kapal komersial dan kapal wisata mendokumentasikan pertunjukan Gunung Krakatau: suara ledakan, kepulan awan hitam, dan pijar apinya.
Ternyata fenomena itu adalah awal dari salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah.
Pada tanggal 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dahsyat.

Sumber gambar, Ullstein Bild via Getty Images
Sidney Baker menyaksikan letusan itu dari kapal ayahnya saat masih kecil, dan mengenang momen itu menjelang akhir hayatnya.
"Udara tampak dipenuhi debu, begitu pekatnya sampai-sampai kami takut akan mati lemas," ujarnya kepada BBC pada tahun 1946.
"Suasana menjadi sangat gelap hingga Anda tidak bisa melihat tangan sendiri di depan muka. Abu mulai jatuh di sekitar kapal, di atas kapal, dan di air. Mungkin ada sekitar enam atau tujuh inci abu yang menutupi seluruh kapal."
Ia menggambarkan suara ledakan itu sebagai sesuatu yang "luar biasa".
"Kata-kata tidak mampu melukiskan betapa bising dan kacaunya situasi saat itu," katanya.

Sumber gambar, DeAgostini/Getty Images/DEA PICTURE LIBRARY
Letusannya dilaporkan setara bom 200 megaton atau sekitar 10.000 kali lebih besar dari bom Hiroshima.
Dua pertiga bagian utara pulau itu runtuh ke dalam laut, menghasilkan serangkaian aliran lava, abu, dan tsunami yang dahsyat.
Letusan Krakatau menyebarkan awan panas yang hampir menghancurkan semua yang dilewati.
Dampaknya, bencana itu diperkirakan menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Letusan Krakatau, juga sebut NCEI AS, menciptakan tsunami yang dilaporkan mencapai Hawaii hingga Amerika Selatan.
Abu Krakatau terlempar sejauh 80 kilometer ke angkasa dan menyelimuti area seluas 800,000 kilometer persegi, yang membuat wilayah itu dalam kegelapan selama dua setengah hari.
Bahkan, abu itu melayang mengelilingi dunia, menyebabkan efek halo (pembiasan dan pemantulan cahaya oleh jutaan kristal es di atmosfer) dan penyaring radiasi matahari.
Suhu global disebut turun hingga 0,5 derajat Celcius dan baru kembali normal lima tahun kemudian.

Sumber gambar, SSPL/Getty Images
Ledakan Krakatau juga menghasilkan suara paling keras yang pernah tercatat dalam sejarah modern, terdengar di lebih dari 10% permukaan bumi, mencapai Pulau Mauritius (timur Afrika) yang berjarak sekitar 4.600 km.
Letusan Krakatau hanya kalah dari letusan Tambora pada tahun 1815, yang menewaskan 60.000 orang.
"Letusan Krakatau adalah contoh nyata dari kekuatan alam yang tidak dapat dibendung," kata Dr. Martin Mangler, dari di Natural History Museum.
"Dalam sekejap mata, letusan gunung berapi dapat mengubah rupa seluruh planet dengan berbagai cara, di mana Bulan biru kemungkinan menjadi dampak yang paling indah dan paling tidak berbahaya."
Penulis buku Krakatoa: The Day the World Exploded, Simon Winchester, juga membahas letusan ini.
"Seluruh pulau, yang terdiri dari enam mil kubik batu, menguap dalam ledakan yang melontarkan batu apung dan abu sejauh 17 hingga 18 mil ke langit, dan pulau itu pun lenyap," ujar Winchester di siniar Witness History BBC pada 2010.
"Selama beberapa detik, ledakan itu menyisakan lubang raksasa di laut, yang kemudian langsung terisi kembali oleh triliunan ton air. Karena suhu di bawah sana sangat panas, air tersebut seketika menguap dan berubah menjadi kilatan uap panas, yang memicu serangkaian tsunami raksasa."
Indonesia

Sumber gambar, NURUL HIDAYAT/AFP via Getty Images
Gunung Krakatau lalu tenggelam ditelan lautan. Gunung Anak Krakatau dilaporkan muncul ke permukaan laut pada tahun 1927.
Sekelompok nelayan melihat dan mendengar "dengan suara bergemuruh, gelembung-gelembung gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut," tulis Simon Winchester, menggambarkan kemunculan gunung baru dari bekas kaldera Krakatau.
Gunung Anak Krakatau lalu tumbuh dengan cepat di sepanjang abad ke-20.
Pada 22 Desember 2018, Gunung Anak Krakatau kembali meletus, yang menghancurkan sebagian tubuhnya setinggi 338 meter dan memicu tsunami setinggi 13 meter.
Akibatnya, 437 orang tewas, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di pesisir Banten dan Lampung.
Letusan Gunung Anak Krakatau 2018 itu disebut kembali menjadi salah satu peristiwa letusan gunung berapi paling mematikan di abad ke-21 sejauh ini.

Sumber gambar, Didier Lebrun / Photonews via Getty Images
Winchester pernah berkata bahwa ledakan Krakatau 1883 menyadarkan umat manusia bahwa satu kejadian alam dapat memengaruhi seluruh dunia.
"Dan dari sanalah dimulai kesadaran bahwa seluruh dunia adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Hal-hal yang kita anggap lumrah sekarang, seperti pemahaman tentang pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut..."
"Semuanya berakar dari kesadaran bahwa dunia adalah tempat yang saling terhubung. Kesadaran itu lahir bersama letusan Krakatau," ujar Winchester.
---
Wartawan Robertus Bejo di Lampung dan Muhammad Iqbal di Banten berkontribusi untuk laporan ini.
































