Kapal tanker Pertamina berhasil melintasi Selat Hormuz setelah tertahan selama empat bulan

Sumber gambar, Pertamina
PT Pertamina (Persero) memastikan kapal tanker Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz setelah sempat tertahan di kawasan tersebut sejak awal Maret lalu.
Kapal Pertamina Pride mulai bergerak dari Teluk Arab pada Selasa (07/07) pukul 13.00 waktu Dubai (16.00 WIB) dan berhasil melintasi area kritikal serta Selat Hormuz pada Rabu (08/07) pukul 00.15 WIB.
Sebelumnya, Kapal Gamsunoro juga telah bergerak dari Teluk Arab dan melewati Selat Hormuz dengan aman, sejak 24 Juni 2026 lalu.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan keberhasilan pelayaran Pertamina Pride merupakan hasil dari koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, Iran serta seluruh pemangku kepentingan terkait.
"Pertamina berterima kasih atas dukungan penuh Kemenlu dan KBRI Teheran. Berkat kerja sama tersebut, Kapal Gamsunoro dan Pertamina Pride bisa keluar dari kawasan Teluk Arab," ujar Baron.
Selama perjalanan, menurut Baron, kapal dipantau secara intensif selama 24 jam.
Awak kapal di laut terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di PT Pertamina International Shipping guna memastikan seluruh prosedur keamanan berjalan optimal.
"Alhamdulillah seluruh kru Pertamina Pride berada dalam kondisi aman dan kapal dapat melanjutkan pelayaran sesuai rencana menuju Indonesia," tambah Baron.
Menurut Baron, VLCC Pertamina Pride yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah tersebut saat ini tengah melanjutkan perjalanan menuju Kilang Cilacap dan diperkirakan tiba di Indonesia pada 23 Juli 2026.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pada April lalu, sebuah kapal tanker yang disewa oleh Petronas untuk mengangkut minyak mentah dari Irak telah melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia.
Kabar itu diumumkan Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui unggahan di X, pada Senin (06/04).
"Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz," bunyi unggahan tersebut, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Melayu.
Pelayaran kapal bernama Ocean Thunder itu terjadi sehari setelah Iran mengatakan Irak dikecualikan dari blokade di Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita Reuters yang mengutip data lembaga keuangan LSEG dan data maritim Kpler.
Ocean Thunder memuat sekitar satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy pada 2 Maret dan diperkirakan akan membongkar muatannya di Pengerang, Johor, pada pertengahan April, menurut data Kpler.
Kapal tanker itu—yang menurut data disewa oleh unit Petronas, Petco—termasuk di antara tujuh kapal terkait Malaysia yang telah mendapat izin dari Iran untuk melintasi selat tersebut, kata dua narasumber kepada Reuters.
Ketujuh kapal tersebut terkait dengan perusahaan-perusahaan Malaysia, termasuk Petronas, Vantris Energy, dan MISC.
Buah diplomasi
Pada Maret lalu, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengaitkan hal itu dengan "hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran", sebut media Malaysia.
Filipina adalah negara terkini yang mencapai kesepakatan dengan Iran.
Pejabat Iran menjamin "pelintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat" bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui jalur perairan tersebut, kata Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro.
Theresa mengatakan kesepakatan tersebut—yang dicapai setelah "percakapan telepon yang sangat produktif" dengan Teheran pada Kamis (02/04)—sangat penting untuk membantu memastikan pasokan energi dan pupuk.
Filipina mengimpor 98% minyaknya dari Timur Tengah dan merupakan negara pertama yang menetapkan keadaan darurat energi nasional setelah harga bensin di negara itu mencapai lebih dari dua kali lipat sejak AS dan Israel menyerang Iran, akhir Februari lalu.
Baca juga:
Namun, menurutnya, kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.
Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada 25 Maret lalu.

Filipina, yang kerap dipandang sebagai sekutu AS, merupakan kasus menarik yang dapat menunjukkan bahwa Iran "bersedia melakukan pemisahan", kata Roger Fouquet dari Energy Studies Institute, National University of Singapore.
"Iran tampaknya membedakan antara aliansi sebuah negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik," sambungnya.
Negara-negara lain juga telah melakukan pembicaraan dengan Iran.
Pakistan mengumumkan pada 28 Maret bahwa Iran telah menyetujui untuk mengizinkan 20 kapalnya melintasi Selat Hormuz.
"Ini adalah isyarat yang positif dan konstruktif dari Iran dan patut diapresiasi," kata Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar.
"Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan."

Sumber gambar, Getty Images
Iran juga secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India yang melintasi selat tersebut.
"Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, tidak perlu khawatir," tulis Kedutaan Besar Iran di India dalam sebuah unggahan di X pekan lalu.
Unggahan itu merupakan tanggapan atas unggahan lain oleh kantor-kantornya di Afrika Selatan yang menyatakan bahwa "hanya Iran dan Oman" yang akan memutuskan masa depan Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengatakan kepada Financial Times pada Maret bahwa pelintasan kapal-kapal tanker negaranya merupakan "buah diplomasi".
































