'Pemerintah jangan buta, banyak yang kena ISPA' – Nasib anak-anak yang meninggal di tengah kepungan asap karhutla

Sumber gambar, Rita/BBC Indonesia
- Penulis, Quinawaty Pasaribu
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 14 menit
Pakar kesehatan menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang sedikitnya 62.400 balita usia 0-5 tahun di tujuh provinsi terdampak kabut asap karhutla sudah masuk kategori "kedaruratan kesehatan".
Kedaruratan kesehatan adalah suatu kondisi darurat yang terjadi ketika ada ancaman penyakit menular atau bahaya kesehatan serius—misalnya seperti Covid-19—yang dapat menyebar dengan cepat dan berdampak luas pada masyarakat.
Sebab, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, meyakini angka itu belum termasuk yang under-recorded dan under-diagnosed.
"Jadi kasus ISPA ini seperti fenomena gunung es saja, ratusan ribu mungkin sudah angkanya. Dan ini tidak hanya di satu wilayah, tapi dua pulau besar terutama Kalimantan serta Sumatra," ujarnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (16/10).
Merujuk pemberitaan media, setidaknya tiga anak meninggal dunia di tengah kepungan kabut asap karhutla. Satu di antaranya adalah balita berusia 14 bulan bernama Yazlyn Syanindita.
Menurut keterangan Cindy, sang ibu, kesehatan putrinya menurun drastis sejak satu bulan belakangan—saat kabut asap mengepung perkampungan mereka di Kecamatan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur.
"Pemerintah jangan buta. Jangan bilang kondisi asap tidak parah. Banyak yang kena ISPA. Kemarin di ruangan inap anak saya, ada tiga balita semua sesak napas. Tolong jangan sepelekan asap karhutla," tegasnya.
Dokter Spesialis Anak, Fifi Sofiah, asap karhutla menghasilkan partikel PM2.5 yang sangat kecil—bahkan lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Partikel polutan yang tak terlihat oleh mata itu, jika terhirup, akan masuk ke saluran pernapasan dan mengendap di ujung saluran pernapasan.
"Yang kita khawatirkan [partikel itu] bisa berpindah ke aliran darah, sehingga akan mengakibatkan gangguan-gangguan kesehatan pada seorang anak," ucapnya.
'Pemerintah jangan sepelekan asap karhutla'
"Kami baru merayakan ulang tahun pertama Canin [panggilan putrinya] pada 15 Agustus lalu. Tapi, adik meninggal tepat usianya 14 bulan, di tanggal yang sama dengan tanggal lahirnya," ucap Cindy lirih.
Canin, nama lengkapnya Yazlyn Syanindita.
Saat lahir, buah hatinya tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan gangguan kesehatan.
Hanya saja, sejak berusia tujuh tahun, setiap dua minggu sekali, Canin harus ke klinik lantaran mengalami infeksi dan peradangan mata serta gejala keterlambatan tumbuh kembang anak.
Cindy bercerita, di luar kondisi medis itu, kesehatan anak semata wayangnya mulai menurun drastis satu bulan belakangan—tepat kala kabut asap karhutla mengepung perkampungan mereka.

Sumber gambar, Dokumentasi keluarga
Untuk diketahui, kebakaran beruntun di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur kian ganas dalam tiga bulan terakhir.
Merujuk data dinas setempat, sejak Januari hingga 12 Oktober 2026, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sana mencapai 322.067.
Peristiwa karhutla terbaru terjadi di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda—tempat tinggal Cindy—pada 14 Oktober malam hingga 15 Oktober siang.
Secara kasat mata, kabut asap, memang belum menguning seperti yang berlangsung di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Tapi, setiap sudut Kota Samarinda, dikepung kabut asap tebal.
Asap bahkan menyelinap ke dalam rumah sehingga membuat warga sesak napas. Teras rumah bahkan penuh jelaga.
Cindy lantas membawa putrinya ke poli anak dengan keluhan kesulitan bernapas.
"Tapi dokter yang menangani saat itu bilang bukan kategori sesak. Mungkin mau batuk dan pilek, jadi saya bawa pulang lagi anak," ungkapnya.
Puncaknya, pada 13 Oktober malam, Canin susah bernapas. Besoknya, Canin dilarikan ke puskesmas terdekat.
Di situ, tenaga medis yang memeriksa sang anak, menyarankan supaya Canin cepat-cepat dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih baik. Sebab bayi 14 bulan tersebut sudah mengalami tarikan napas berat.
Maka, diboyonglah Canin ke rumah sakit di Samarinda.
Meskipun sudah masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), pihak rumah sakit menyatakan kondisi Canin "normal".
"Jadi disarankan rawat jalan saja di poli anak. Mau dirawat pun harus minta rujukan puskesmas sebelumnya. Saat itu anak saya sudah sangat lemas, jadi buru-buru minta rujukan," sambungnya dengan suara yang berusaha tegar.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Surat rujukan akhirnya keluar. Canin pun langsung diopname.
Selama perawatan, perawat dan dokter memberikan nebulizer pada Canin sehingga kondisinya sempat membaik.
Namun, Rabu (15/10) tengah malam, kesehatan anaknya memburuk: napasnya sempat hilang.
Dokter, imbuhnya, memacu jantung sang anak dan berhasil mengembalikan napas Canin meskipun sangat lemah. Setelahnya, pihak rumah sakit memutuskan merawatnya ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
"Dibawa ke PICU cuma sebentar dan meninggal pukul 06.47 WITA di ruang rawat inap," tutur Cindy.
Cindy, yang masih berduka, berpesan agar apa yang menimpa putrinya tidak terjadi pada anak-anak lain. Ia minta supaya rumah sakit memprioritaskan penanganan terlebih dahulu, ketimbang surat-surat administratif.
Sedangkan untuk pemerintah, ia mendesak agar tidak meremehkan dampak karhutla.
"Pemerintah jangan buta. Jangan bilang kondisi asap tidak parah. Banyak yang kena ISPA. Kemarin di ruang inap, saya melihat ada tiga balita sesak napas. Tolong jangan sepelekan asap karhutla," tegasnya.

Sumber gambar, Kompas.com
Ikhsan Ali, dokter spesialis anak dari RS Mulya Medika Samarinda—yang merawat Canin—mengatakan belum bisa memastikan apakah kabut asap karhutla menjadi penyebab gangguan pernapasan yang berujung meninggalnya balita 14 bulan tersebut.
Canin, katanya, memang mengalami gangguan pernapasan dan sempat mendapat perawatan di rumah sakit sebelum kondisinya memburuk.
Tapi, gangguan pernapasan pada anak bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya pneumonia.
"Kalau terkait apakah ini penyebabnya karhutla, saya tidak bisa pastikan. Yang pasti pasien ini mengalami gangguan pernapasan," ujarnya saat memberikan keterangan di RS, Sabtu (17/10).
'Jangan ada lagi korban anak'
Di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Nurul Khadafit masih menyimpan duka mendalam usai anak keduanya yang berusia enam tahun meninggal dunia.
Bocah enam tahun itu sempat menjalani perawatan selama enam hari di rumah sakit—tepatnya sejak 8 Oktober lalu sampai akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 14 Oktober.
Berdasarkan surat kematian yang diterbitkan rumah sakit, penyebab kematian Anya Shezan Banafsya tercatat berkaitan dengan gagal napas akibat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang disertai syok sepsis.

Sumber gambar, Muhammad Fauzi/BBC Indonesia
Nurul bercerita, mulanya sang anak hanya mengalami demam. Ketika menjalani pemeriksaan darah di rumah sakit, kadar hemoglobin dan trombosit anaknya turun.
Tapi waktu itu, dokter yang menangani Anya menyatakan kondisinya belum mengkhawatirkan sehingga ia memutuskan membawanya pulang.
Tiga hari setelahnya, tepatnya 8 Oktober, kesehatan anaknya memburuk.
Ia buru-buru memboyong ke IGD rumah sakit yang sama. Tiba di sana, anaknya sudah mengalami dehidrasi hingga bibirnya pecah-pecah.
Petugas medis lantas memasangkan infus dan menyarankan anaknya menjalani rawat inap.
Selang tiga hari, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi Anya membaik. Meskipun begitu, pihak rumah sakit menyarankan dilakukan pemeriksaan rontgen.
"Setelah rontgen, anak saya dinyatakan infeksi paru-paru. Terus di kakinya, dari pemeriksaan, ada infeksi bakteri," Nurul menjelaskan.
Kendati kesehatan Anya membaik, Nurul mengaku masih cemas karena napas anaknya tidak juga membaik.
Ia berkata, sekitar dua hari sebelum meninggal, anaknya batuk disertai gejala sesak napas. Dia juga mengklaim tidak mendapat anjuran dari rumah sakit untuk merujuk sang putri ke rumah sakit lain.
"Dua hari sebelum meninggal, batuknya itu sudah seperti sesak. Tidak ada perubahan."
Sebagai informasi, kabut asap karhutla di Kabupaten Kayong Utara sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Luas lahan yang terbakar tercatat 2.244 hektare.
Pantauan di lapangan, kabut asap masih menyelimuti sejumlah daerah di Kayong Utara meskipun tidak terdeteksi titik api. Jarak pandang bahkan sangat terbatas.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Rumah Sakit Jamaludin I Sukadana, yang sempat menangani Anya, belum memberikan keterangan resmi soal penyebab kematian dan rekam medis pasien.
Pihak manajemen berkata masih melakukan konfirmasi dan koordinasi internal dengan tim pelayanan medis.
"Nanti akan kami kabari setelah konfirmasi ke bagian pelayanan," demikian Humas RS Jamaludin I Sukadana, Kamis (15/10).
62.000 anak mengalami ISPA akibat asap karhutla
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak.
Data per 12 Oktober 2026 menemukan dari ratusan ribu itu, 62.400 kasus atau 22,5% di antaranya menimpa anak usia 0-5 tahun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat kabut asap akibat karhutla.

Sumber gambar, DETIK.COM
Langkah ini ditujukan supaya mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
"Kalau sudah kondisinya seperti ini, kita tahu alamnya sudah begini, kita sebagai manusia harus segera beradaptasi dan usahakan stay di rumah. Jangan keluar kecuali benar-benar perlu," ujar Menkes kepada wartawan, Kamis (15/10).
Jika terpaksa keluar rumah, Budi meminta masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Selain itu juga memakai kacamata, pakaian berlengan panjang agar kulit tidak terpapar langsung.
Setelah beraktivitas dari luar rumah, masyarakat juga diimbau segera membersihkan tubuh menggunakan air. Serta, segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat jika mengalami keluhan kesehatan semisal gatal-gatal, batuk berdahak setelah terpapar asap.
Sudah gawat darurat?
Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, menyebut kasus ISPA yang menyerang sedikitnya 62.400 balita usia 0-5 tahun di tujuh provinsi terdampak kabut asap karhutla sudah masuk kategori "kedaruratan kesehatan".
Kedaruratan kesehatan adalah suatu kondisi darurat yang terjadi ketika ada ancaman penyakit menular atau bahaya kesehatan serius—misalnya seperti Covid-19—yang dapat menyebar dengan cepat dan berdampak luas pada masyarakat.
Sebab, dia meyakini angka itu belum termasuk yang under-recorded (kurang terdiagnosis) dan under-diagnosed (kurang tercatat).
"Jadi angka 62.400 itu kan yang didiagnostik ya, tetapi yang under-recorded, under-diagnosed itu seperti fenomena gunung es, ratusan ribu sudah itu angkanya," ujar Hermawan Saputra kepada BBC News Indonesia, Jumat (16/10).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hasrul Said
"Bayangkan kasus ISPA ini tidak hanya di satu wilayah, tapi dua pulau besar yakni di Kalimantan dan Sumatra. Itu ada berapa belasan provinsi?" Sambungnya.
"Dan tentu saja kasus ISPA ini harus menjadi perhatian, karena kalau sudah kena ISPA dampak ikutannya hampir ke semua program," dia menambahkan.
Hermawan berkata, jika kasus ISPA tidak ditangani dengan cepat, maka program-program yang sedang digenjot pemerintah—seperti pengendalian stunting, tuberkulosis, bahkan MBG—bakal mandek bahkan gagal.
Itu mengapa, menurutnya, Kemenkes harus memperkuat "tindakan penyelamatan" mulai dari puskesmas dengan menyediakan sebanyak mungkin masker, oksigen, dan tenaga kesehatan.
Selain juga memperkuat sistem rujukan mengingat orang-orang yang memiliki penyakit komorbid seperti stroke, jantung, gangguan ginjal, diabetes, dan kesehatan lain bakal sangat terpengaruh oleh kabut asap—memperparah penyakitnya.
"Dalam satu pulau besar seperti Kalimantan atau Sumatra, misalnya, masyarakatnya mau pindah ke mana? Dia datang ke puskesmas atau klinik atau rumah sakit, tapi begitu keluar sama… terpapar lagi."
"Jadi kalau bicara risiko populasi, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia terpapar dengan keadaan yang buruk dan berdampak terhadap kesehatan."
Terlepas dari itu, terkait balita yang meninggal di tengah parahnya kabut asap karhutla, Hermawan menilai pemerintah tidak bisa menyangkal bahwa kematian mereka bukan disebabkan oleh asap.
Justru pemerintah, menurutnya, harus menindaklanjuti kasus-kasus kematian tersebut.
"Analoginya begini, adakah orang yang meninggal karena merokok? Dari seluruh riset, rokok itu buruk untuk kesehatan dan bisa menyebabkan risiko kanker, pneumonia, tuberkulosis, bahkan bisa fatal."
"[Asap karhutla] mirip-mirip bahwa pembuktiannya orang meninggal karena pneumonia, ISPA, jantung, tapi pemberatan kasus itu diakibatkan oleh asap, mikro partikel di dalam respirasi."
Sederhananya, Hermawan mengatakan, dari sudut pandang kesehatan selama ada risiko buruk di tengah suatu populasi—dalam situasi sekarang asap karhutla—maka "semua kasus kematian terutama pada kelompok rentan patut dicurigai diakibatkan asap".
Sebab, ia menjelaskan, asap menyebabkan oksigen menjadi sangat minim. Imbasnya asupan oksigen ke peredaran darah menjadi terhambat dan pada akhirnya membuat semua organ terganggu.
Mengapa anak rentan terhadap asap karhutla?
Dokter Spesialis Anak, Subspesialis Respirasi, Fifi Sofiah, memaparkan partikel yang terkandung dalam asap karhutla sangat kecil.
Sebagai perbandingan, sehelai rambut manusia memiliki diameter sekitar 50-70 mikrometer. Sementara partikel polutan yang dihasilkan dari asap yakni PM10 dan PM2.5 berukuran jauh lebih kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Karena ukurannya sangat kecil, PM10 dan PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel polutan PM2.5 bahkan bisa mencapai bagian terdalam paru-paru bahkan ke aliran darah serta memicu berbagai gangguan kesehatan—terutama pada anak-anak.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Selain ukurannya yang kecil, PM2.5 yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan, memiliki komposisi kimia yang berbeda dari partikel yang berasal dari sumber lain.
Kandungannya bisa "lebih toksik" sehingga berisiko mengiritasi saluran pernapasan dan membahayakan kesehatan.
"Ketika kondisi ini diperparah dengan adanya El Nino dan kekeringan yang meluas, ditambah Sumatra dan Kalimantan ada lahan gambut tropis yang apabila sudah terbakar, sulit dipadamkan dan akan membara dalam waktu lama…"
"Komposisinya itu [tanah gambut yang terbakar] lebih toksik apalagi terhirup ke saluran pernapasan anak. Dan apabila terdapat peningkatan partikel akan meningkatkan kunjungan rawat inap pasien asma dan ke IGD," paparnya.
"Kenapa anak-anak lebih rentan? Karena anak-anak usia muda itu bernapas lebih sering dibandingkan orang dewasa.
Untuk perbandingan, bayi bernapas kurang dari 60 kali dalam satu menit. Anak-anak berusia 2 bulan sampai 1 tahun, bisa bernapas kurang dari 50 kali dalam satu menit.
Sedangkan anak-anak berumur 1-5 tahun bisa bernapas kurang dari 40 kali dalam satu menit.
Itu mengapa, ia bilang, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan atau terganggu sistem paru-parunya, akan lebih berisiko lebih tinggi terpapar kabut asap.
Apalagi, sistem imun mereka masih berkembang.
"Nah, asap karhutla yang toksik tadi akan terhirup dan masuk ke saluran pernapasan."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Bagaimana melindungi anak dari paparan asap karhutla?
Ia berkata, orang tua perlu memantau kualitas udara di wilayah tempat tinggal melalui internet, misalnya dengan melihat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Quality Index (AQI).
Di dalam rumah, keluarga sebaiknya menyiapkan satu ruang dengan udara bersih. Pastikan pintu dan jendela tertutup, serta gunakan pembersih udara portabel jika tersedia.
Jika menggunakan AC, pilih mode sirkulasi udara dalam ruangan dan hindari pengaturan yang memasukkan udara dari luar.
Orang tua juga perlu menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, kompor berbahan bakar gas atau kayu, lilin, serta semprotan aerosol, termasuk obat nyamuk semprot.
Hindari pula kegiatan yang menghasilkan banyak asap, seperti memanggang atau menggoreng makanan. Penggunaan penyedot debu juga sebaiknya dibatasi jika dapat membuat partikel kembali beterbangan ke udara.
Ketika kualitas udara memburuk, anak perlu membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama jika udara terlihat berasap atau berbau.
Jika terpaksa keluar rumah, anak dapat menggunakan pakaian tertutup, kacamata pelindung, dan masker yang sesuai.
Bayi, terutama yang berusia di bawah dua tahun, sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dengan udara bersih karena sulit menggunakan masker secara aman dan efektif.
Anak yang memiliki asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya juga perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap.
Orang tua juga perlu memastikan obat-obatan yang diresepkan dokter, termasuk obat pereda asma, tersedia di rumah.
"Jika anak mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, sulit makan dan minum, tampak sangat mengantuk, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis," dia menekankan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Tingkat kewaspadaan juga perlu disesuaikan dengan angka kualitas udara. Berdasarkan kategori ISPU Indonesia, nilai 0–50 tergolong baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.
Ketika kualitas udara mulai memburuk, orang tua perlu membatasi aktivitas luar ruangan anak, terutama bayi dan anak dengan kondisi kesehatan tertentu.
Pada tingkat pencemaran yang lebih tinggi, aktivitas luar ruangan perlu semakin dibatasi.
Jika ISPU mencapai kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, anak sebaiknya tidak beraktivitas di luar ruangan dan perlu berada di tempat dengan udara bersih.
Dalam kondisi darurat, keluarga dapat mempertimbangkan pindah ke tempat penampungan berudara bersih yang aman.
Kondisi ini juga dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ketika kualitas udara tidak aman bagi anak.
Jurnalis Muhamad Fauzi di Kalimantan Barat dan Rita Lavenia di Kalimantan Timur berkontribusi untuk laporan ini.






























