Karhutla Kalimantan, lonjakan titik api hingga kemarahan warga yang 'tercekik' kabut asap seumur hidup

Sumber gambar, Donny Muslim - Riri Jayanti
- Penulis, Silvano Hajid
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 16 menit
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di semua provinsi di Kalimantan mengalami lonjakan jumlah titik api yang mengakibatkan pulau itu 'dikepung' kabut asap di beberapa wilayah. Sementara tim pemadam di lapangan masih kesulitan memadamkan api yang kerap muncul kembali setelah dipadamkan.
Bagaimana warga Kalimantan menghadapi kabut asap di tengah fenomena El-Nino Godzilla?
Di media sosial, Banjarbaru, Kalimantan Selatan menjadi sorotan, lantaran seorang ibu, Riri Jayanti membagikan foto kedua anaknya yang akan berangkat sekolah, tetapi dikelilingi kabut asap pekat.
Tinggal di dekat rumah Riri, Abdul Kholik, rugi puluhan juta rupiah, akibat api membakar peternakan ayamnya. Istrinya yang sedang hamil kini mengalami gangguan pernapasan karena terpapar udara kotor hasil karhutla.
Masih di Banjarbaru, seorang pemuda yang sedang menyelesaikan skripsinya, Dony Restu, seumur hidupnya selalu berhadapan dengan kabut asap yang dia katakan beraroma 'apek' seperti asap ketika orang bakar sampah.
Kabut asap juga masih menyergap Pontianak, Kalimantan Barat hingga Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Sementara di lapangan, petugas masih kesulitan memadamkan api terutama di atas lahan gambut, di tengah proses melelahkan bertahun-tahun itu, mereka bilang "kami tidak punya kuasa untuk mengeluh".
Ini merupakan kisah mereka.
Banjarbaru, Kalimantan Selatan - Anak SD seolah ditelan kabut asap
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pada 19 Agustus, Riri Jayanti (38 tahun) seorang ibu rumah tangga di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengunggah foto dan video kedua anaknya yang akan berangkat sekolah seolah ditelan kabut asap.
Kedua anak Riri kala itu masih harus ke sekolah sambil mengenakan masker. Dia bilang kepada jurnalis BBC News Indonesia, Nicky Aulia Widadio, "belum ada kebijakan dari sekolah maupun dinas setempat untuk libur sekolah atau masuk lebih siang".
Sehari setelahnya, baru ada kebijakan masuk lebih siang pada pukul 09.00 WITA, jika kabut asap tebal pada pagi hari.
Riri mengaku, di wilayah tempat tinggalnya, hampir tidak pernah turun hujan dalam tiga bulan terakhir.
"Pernah hujan sesekali, katanya sih hujan buatan, durasi sekitar satu sampai dua jam saja, tapi sebulan belakangan tidak ada hujan sama sekali," tambah Riri.
Meski sudah pakai masker dalam kegiatan sehari-hari, Riri sekeluarga mengalami batuk, akibat kotornya udara yang ia hirup.

Sumber gambar, Riri Jayanti
"Kalau batuk-batuk itu anak-anak sudah hampir merata ya. Di lingkungan kami, ada dua bayi yang sudah kena ISPA, lansia juga ada yang terdampak," katanya.
Riri juga merekam kabut asap dampak kebakaran hutan di Kalimantan selatan. Dari video itu, nampak jalanan di lingkungan permukiman diselimuti kabut asap dengan jarak pandang yang terbatas.
Setelah itu, dia tidak sempat merekam lagi karena panik.
"[Api] sudah saking dekatnya dengan rumah warga, kami fokus siramkan air ke titik api dan sekitarnya, supaya tidak menjalar ke rumah dan kandang kambing. Alhamdulillah, ada bantuan pemadam dari Kodim (Komando Distrik Militer), kepolisian, dan Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan pertolongan).
Meski setiap tahun Riri dan keluarganya terdampak kabut asap setiap musim kemarau karena ada kebakaran lahan, dia mengaku "api paling dekat permukiman ya [baru] tahun [2026] ini".
"Sebelumnya, api tidak pernah sedekat ini, kami hanya kebagian asap tebalnya saja," tambah Riri.
Pada 2026, Riri mengaku tidak pernah mendengar informasi peringatan dini tentang kebakaran hutan dan lahan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), "entah saya yang ketinggalan info atau bagaimana, tetapi kalau dari warga dan tim pemadam kompleks [perumahan] setiap kemarau sudah selalu siaga".
Rumahnya berdekatan dengan lahan gambut yang saban tahun terbakar. Riri bilang, setiap kemarau kesiagaan itu sudah otomatis hadir di lingkungan tempat tinggalnya.
Di ranah pendidikan, kabut asap membuat pemerintah menyesuaikan jam masuk sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarbaru membuat surat edaran kepada satuan pendidikan tingkat kota seperti PAUD-TK, SD, dan SMP agar waktu pembelajaran diundur.
Hampir seumur hidup terpapar kabut asap setiap tahun
Di lokasi lain, Kota Banjarbaru, Dony Restu yang rumahnya berjarak sekitar 10 km dari titik api terdekat, sudah mencium aroma asap yang masuk ke rumahnya dalam beberapa hari terakhir.
"Aromanya seperti sampah terbakar, asapnya pekat sekali dan berasa apek banget," ujar Dony yang selama 22 tahun dalam hidupnya terpapar kabut asap setiap tahun.
Kabut asap mulai pekat malam hingga pagi, itu pula yang membuat Dony bersin lebih sering setiap pagi karena memiliki sinusitis.
Setidaknya, dirinya sudah menyadari kabut asap yang terjadi setiap tahun itu sejak usia delapan tahun. "Itu pun dari tontonan Ipin Upin, yang bilang kalau kabut asap itu bahaya," tambah Dony.
Disadari atau tidak, dirinya seakan-akan sudah tercekik kabut asap seumur hidup.
Namun, tahun ini, ketika berkendara dengan mobil menuju kampusnya di Banjarmasin yang jaraknya sekitar 35km, Dony harus menghidupkan lampu kabut mobilnya agar pandangannya lebih jelas.
"Bahkan di beberapa titik, saya harus membunyikan klakson beberapa detik, karena jarak pandang benar-benar terbatas, itu juga untuk menandakan kalau ada kendaraan yang melintas," jelas Dony.
Dia mengaku, mobilnya tidak bisa melaju lebih cepat dari 30-40km/jam di sejumlah titik yang paling pekat kabut asapnya.

Sumber gambar, Dony Restu
Itu dia lakukan untuk menghindari kecelakaan yang ia ketahui sempat terjadi.
Pada 19 Agustus, kabut asap membuat pandangan pengemudi terbatas, sehingga terjadi tabrakan antara truk pengangkut sepeda motor dengan truk fuso.
Ditambah, belakangan ini, daerah tempat tinggalnya mengalami pemadaman listrik bergilir dan kekurangan pasokan air bersih dari PDAM.
Korelasinya secara langsung dengan kebakaran hutan dan lahan, menurut Dony tidak ada. Namun, "krisis di daerah ini jadi makin berlapis".
Sering kali krisis yang ia hadapi setiap tahunnya itu memantik pertanyaan, "Mengapa pemerintah tidak berpikir supaya karhutla tidak terulang lagi, kenapa tidak preventif sejak awal, kenapa harus menunggu kebakaran dahulu, baru sibuk masing-masing?"
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Banjarbaru, Harun Arrasyid, dalam beberapa hari terakhir terdapat 960 hektare lahan yang terbakar, termasuk adanya titik api baru terutama di Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Tengah dan Landasan Ulin Timur.
"Daerah itu merupakan lahan gambut, sehingga dari kebakaran itu, menimbulkan kepulan asap yang lumayan tebal, indeks polusi udara dalam dua hari ini berkisar antara 170 µg/m³ sampai dengan terparah 480 µg/m³, kategorinya memang sangat-sangat tidak layak atau tidak sehat," papar Harun dalam wawancaranya di Kompas TV.
Harun menjelaskan, daerah Banjarbaru didominasi lahan gambut dengan vegetasi seperti tanaman pakis yang mudah terbakar. Maka, jika terjadi kebakaran, tidak bisa dipadamkan seperti di lahan biasa.
"Butuh beberapa hari untuk memadamkan api di lahan gambut secara keseluruhan," tambah Harun.
Harun tidak berani menyimpulkan tentang aktivitas lain sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di daerahnya, selain akibat kemarau panjang.
"Yang jelas sejak Januari 2026 sampai sekarang, kami sudah berhasil memadamkan sekitar 160 hektare lahan yang terbakar," terang Harun.
Merugi karena kabut asap
Abdul Kholik (38) adalah salah satu warga yang harus menanggung rugi dampak kabut asap.
Peternak ayam di wilayah Pembataan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, itu harus merelakan sebagian kandang dan ternak miliknya terbakar.
Kebakaran lahan merambat hingga sekitar tempat tinggalnya, pada Rabu (19/8) siang sekitar pukul 13.00 WITA.
"Kata orang di sini [penyebabnya] kelelatu [material dari kebakaran yang beterbangan], itu terbang mengenai atap," kata Kholik kepada Donny Muslim, jurnalis di Banjarbaru, Kalimantan selatan.
Kholik sebetulnya berada di peternakan pada saat material yang membawa percikan api itu jatuh di atap peternakannya.
Sebab, rumahnya berada di dekat kandang. Dia pun sempat menyirami api dengan peralatan seadanya.
Namun, kondisi angin kencang, cuaca panas, serta atap yang berbahan rumbia membuat kebakaran cepat meluas.
Api baru bisa dipadamkan ketika tim pemadam datang ke lokasi lahan terbakar yang didominasi gambut.
Dari perhitungannya, terdapat 230 ekor ayam yang mati dalam bencana itu. Sementara, Kholik mengaku kerugian yang ia alami mencapai Rp50 juta.

Sumber gambar, Donny Muslim
"Ini ketiga kalinya kandang terbakar. Yang pertama paling parah. Dua kandang habis. Pas ada ayamnya juga. Yang kedua, tidak mengenai kandang. Yang ketiga ini lumayan juga parahnya," kata dia.
Ratusan ayam itu telah Kholik kubur di depan kandang yang terbakar. Ia tak berharap banyak soal ganti rugi.
Namun, yang jelas dirinya berharap agar tak ada lagi kebakaran lahan.
"Kasihan masyarakat. Anak sakit-sakit. Mudah-mudahan penanganannya efektif," harap Kholik.
Tak hanya api yang terus menghantui di tengah fenomena karhutla tahun ini. Di lingkungan keluarga Abdul Kholik, istri dan anaknya juga terdampak asap dari kebakaran.
Sri Wati (32 tahun), istri Kholik, mengaku sudah sepekan terakhir terganggu pernafasannya karena asap semakin tak terkendali.
"Kita sampai sesak napas. Dampaknya juga batuk-batuk, itu untuk anak-anak yang nyata ya," ujar perempuan yang tengah hamil tiga bulan.
Dia menceritakan asap tebal biasanya muncul pada waktu subuh, lalu berkurang kepekatannya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA.

Sumber gambar, Donny Muslim
Sri bilang, di kawasan Pembataan dan sekitarnya asap terbilang sangat tebal ketika pagi hari. Jarak pandangnya hanya satu meter. Sebab, daerah ini dekat dengan titik api.
"Yang sebelum-sebelumnya masih ringan. Yang ini, kanan-kiri sudah terbakar. Jadi sedang parah-parahnya. Enggak tahu sampai kapan," katanya.
Di tengah kondisinya sedang mengandung, Sri menaruh harapan agar karhutla tahun ini dapat ditangani segera. "Panas dingin, batuk-batuk, sesak napas, itu [berdampak] ke anak-anak. Apalagi ke ulun [saya] kan yang sedang hamil," jelas Sri Wati.
Kualitas Udara Tidak Sehat, ISPA Meningkat
Sementara itu, kualitas udara Banjarbaru di tengah karhutla semakin tak menentu dalam beberapa hari ini.
Rabu (19/8), waktu di mana kabut asap sedang pekat, kondisi menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 berada di atas 400 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Ini terjadi pada dini hari sekitar pukul 04.00.
Kualitas udara dalam angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya, berdasarkan data BMKG.
Kabut asap dan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya ditengarai menjadi penyebab peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Banjarbaru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, Siti Ningsih, mengonfirmasi hal tersebut.
"Asap yang tebal akan berpengaruh terhadap kondisi pernafasan. Sejak minggu ke-25 (sekitar pertengahan Juni) itu angka ISPA sudah naik terus, " ujar Siti.
Peningkatan yang cukup signifikan terjadi dari sebelumnya pada Minggu ke-29 sebanyak 829 kasus, lalu naik signifikan menjadi lebih dari 1.000 kasus per pekan.
Siti melihat dalam tiga pekan terakhir, kasus kebakaran lahan di kota ini memang lebih intens.

Sumber gambar, Dito/AFP/VIA GETTY IMAGES
Dalam kasus ISPA, Siti bilang bahwa kelompok yang rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia, namun tidak menutup kemungkinan kelompok usia produktif juga terdampak.
Siti menambahkan, kebakaran hutan dan lahan, khususnya di kawasan gambut, tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan dan kabut asap.
Paparan asap yang mengandung partikel halus PM2.5 juga dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Dampak tersebut tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner dan stroke.
Partikel PM2.5 juga menjadi perhatian karena ukurannya yang sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan kronis terhadap partikel halus ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru dalam jangka panjang.
Lantas, apa yang dilakukan? Dinas Kesehatan Banjarbaru menyiapkan sejumlah langkah untuk mencegah dan menangani dampak kesehatan yang ditimbulkan.
Salah satunya adalah menggencarkan edukasi kepada publik agar menggunakan masker dengan standar N95 atau KN95.
Pemerintah kota, kata Siti juga, mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat.
Upaya perlindungan juga dapat diperkuat melalui distribusi masker secara gratis melalui fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, di wilayah yang terdampak karhutla, meski ia akui stoknya juga terbatas.
Sejauh ini, total jumlah kasus ISPA di Kota Banjarbaru mencapai angka 23.646 kasus, terhitung dari pekan pertama (Januari) hingga pekan ke-32 (Agustus).
Pontianak, Kalimantan Barat - Titik api terbanyak di Kalimantan tetapi kabut asap tidak pekat
Peningkatan titik api tidak serta-merta menggambarkan tingkat kepekatan asap di suatu lokasi, menurut Kementerian Kehutanan.
Penyebaran asap dipengaruhi lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer, karakteristik lahan dan akumulasi asap dari sejumlah wilayah.
Pada 18 Agustus data kementerian Kehutanan memperlihatkan, titik api di Kalimantan Barat turun menjadi 15 titik, tetapi pada 19 Agustus, meningkat menjadi 259 titik.
Namun, kabut asap di Pontianak, tidak setebal daerah lainnya.
Selain itu, pekan lalu, menurut Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, terdapat modifikasi cuaca yang memungkinkan hujan turun di wilayah itu.
Meski demikian, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat sejak Juli 2026.
Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga pertengahan September.
Berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI) pada 20 Agustus 2026, kualitas udara di Pontianak mencapai skor 146 dan masuk kategori tidak sehat.
Kondisi ini turut mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk pengemudi ojek online, Fikri Adha Zulfansyah (25 tahun).
Dia mengaku matanya terasa perih dan seolah berat untuk menarik napas di tengah kabut asap.
"Untuk kabut asap kali ini sangat tebal, apalagi ketika pagi hari sehingga membuat mata saya perih dan napas saya terasa berat," kata Fikri, kepada Cantya Zamzabella, jurnalis di Pontianak, Kalimantan Barat.
Menurut Fikri, kabut asap cukup tebal di sejumlah ruas jalan. Kondisi itu membuat jarak pandang saat berkendara menurun hingga sekitar 200 meter.

Sumber gambar, Cantya Zamzabella
Kabut asap juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Erniwati (19), penjaga lapak permainan anak di kawasan Tugu Digulis, mengatakan jumlah pengunjung menurun sejak kabut asap menyelimuti Pontianak.
"Mereka datang terus lihat banyak kabut, putar balik mereka. Enggak seramai biasanya," kata Erni.
Menurut Erni kondisi itu turut memengaruhi aktivitas anak-anak yang datang ke lapak permainan.
Erni bilang, tidak mengalami keluhan kesehatan akibat kabut asap, namun kakaknya yang turut menjaga lapak mengalami batuk.
Ia juga mengaku khawatir melihat anak-anak harus menggunakan masker saat bermain di tengah kabut asap.
"Tolonglah untuk orang-orang yang mau buka lahan, jangan seenaknya. Hargailah kami yang ada di sekitar juga," ujarnya.
Hal serupa dirasakan Nanda (19), mahasiswi asal Kabupaten Landak. Ia masih rutin melakukan jogging meski kabut asap menyelimuti Pontianak.
"Saat kemarin libur perkuliahan, agak tenang. Tapi saat sudah mulai perkuliahan kembali, kabut asap ini cukup mengganggu keseharian," kata Nanda.
Nanda juga mengaku mengalami sesak napas ketika beraktivitas di tengah kondisi udara yang buruk akibat kabut asap.
"Semoga ke depannya ada tindakan lebih lanjut dari pemerintah agar hal ini tidak terulang kembali," ujarnya.
Sementara itu, pelaksanaan pembelajaran tatap muka di Kalimantan Barat tetap disesuaikan dengan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal, mengatakan pembelajaran tatap muka di Kota Pontianak telah kembali dilaksanakan, sedangkan di Kabupaten Kubu Raya masih dilakukan secara daring.
Di sisi lain, luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat telah mencapai sekitar 28 ribu hektare menurut data Kementerian Kehutanan.
Kabut asap di Palangka Raya membuat anak batuk hingga dua pekan
Sejumlah ruas jalan di Kota Palangka Raya terkepung kabut asap, terutama pada pagi hari. Para warga terpantau mengenakan masker ketika berakitvitas di luar ruang.
Menurut jurnalis di Palangka Raya, Riyandi, karhutla semakin mendekati area permukiman.
Itu pula yang dirasakan Hetty (46 tahun), warga Palangka Raya.
Dia mengakui asap pekat itu terasa bahkan ketika masih di dalam rumah. Menurutnya, kondisi itu berdampak pada kesehatan anaknya yang mulai batuk-batuk.
"Anak-anak yang mulai batuk, sudah sekitar dua minggu ini," ungkapnya.
Kabut asap yang kian tebal ini membuat Hetty semakin khawatir, karena anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar memiliki riwayat penyakit paru-paru.
"Anak saya pernah ada flek paru, jadi memang di situ dampak kesehatannya," jelasnya.

Sumber gambar, Riyandi
Untuk mengurangi dampak kesehatan terhadap anak-anak, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya mengeluarkan surat edaran penyesuaian pembelajaran saat kabut asap.
Pemerintah setempat dalam sebuah surat edaran mewajiban murid dan guru mengenakan masker, juga meminta juga meminta agar pembelajaran bagi murid jenjang PAUD dilaksanakan secara daring.
Sedangkan bagi jenjang SD dan SMP dilakukan penundaan waktu masuk mulai menjadi pukul 08.00 WIB.
Penyesuaian jam belajar itu sudah diterapkan sejumlah sekolah di Palangka Raya. Kebijakan itu, setidaknya mengurangi kekhawatiran Hetty tentang kondisi kesehatan anaknya.
Menurut Hetty, kabut asap jauh lebih pekat mulai pukul 06.00 WIB hingga 07.00 WIB, dan mulai berkurang pada pukul 08.00 WIB.
"Kalau misalkan pergi pagi itu masih pekat ya asapnya. Tapi kalau misalnya jam 8 itu sudah agak lumayan," ujar Hetty.
Dampak kabut asap di Palangka Raya itu, juga dirasakan Ibu-ibu lainnya, Eka Siswiastuti (32 tahun).
Ia mengatakan, kabut asap mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika mengantar anaknya berangkat ke sekolah.
Menurut Eka, saat mengantar anak sekolah pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang sangat terbatas.
"Sangat mengganggu. Beberapa meter saja jarak pandang itu tidak kelihatan kendaraan lainnya," kata dia.
Eka membeberkan, anaknya sempat mengalami flu dan batuk selama beberapa hari ketika kondisi kabut asap berlangsung sejak beberapa hari terakhir.
"Sudah dua atau tiga hari ini. Setelah dibawa ke Puskesmas diberikan obat dan diarahkan untuk menggunakan masker," ungkapnya.
Baca juga berita terkait:
Mengingat kabut asap yang mulai berdampak pada kesehatan warga itu, Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin sebelumnya menyampaikan, "untuk menanggulangi karhutla itu membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, serta masyarakat".
Fairid mengatakan, karhutla di Palangka Raya merupakan salah satu yang terparah di Kalimantan Tengah.
Padahal wilayah tersebut tak memiliki konsesi sawit atau tambang yang bisa merusak lahan gambut secara masif.
Fairid menjelaskan, beberapa titik api di Palangka Raya terindikasi sengaja dibakar. Satu di antaranya karhutla di Jalan Kalibata, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya.
"Di Jalan Kalibata terindikasi disengaja, tapi masih berproses. Kita terus melakukan pengawasan," ucapnya.
Fairid juga mengakui, kondisi udara di Palangka Raya sedang tidak sehat sejak beberapa hari terakhir.
"Makanya kita meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan masker," ujarnya.
Sebaran titik api di semua provinsi di Kalimantan, seberapa sulit pemadaman api?
Dalam pantauan satelit Pulau Kalimantan terlihat 'merah' penuh titik api tersebar hampir di semua wilayah pulau itu.
Lonjakan jumlah titik api terjadi pada 19 Agustus 2026. Terdapat setidaknya 1.615 titik api, sementara hari sebelumnya sebanyak 882 titik api.
Anda dapat melihat sebaran titik api dalam grafis di bawah ini.
Menurut Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, pihaknya kini memprioritaskan pemadaman api yang berdampak langsung kepada masyarakat, obyek vital seperti Ibu Kota Nusantara, hingga bandara.
Sampai Kamis malam (20/08), Yudho mengaku tim Manggala Agni (pasukan khusus pengendalian kebakaran hutan dan lahan) kesulitan memadamkan api khususnya di wilayah gambut.
Setidaknya, di Pulau Kalimantan, terdapat lahan gambut seluas 4,5 juta hektare. Sementara sebagian wilayah dengan titik api terparah terjadi di atas lahan gambut.
"Kebakaran kerap terjadi merambat hingga bawah permukaan lahan gambut, dalam situasi itu, pemadaman api tidak dilakukan dengan disiram saja, karena angin membuat api menjalar lebih jauh, kami menggunakan metode suntik gambut [menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam tanah]," terang Yudho.
Yudho menceritakan, biasanya jika sudah begitu, petugas pemadam atau Manggala Agni, memikul alat-alat penunjang seperti mesin pompa sampai ke lokasi kebakaran.
"Mereka juga harus menembus semak-semak kelakai atau semacam tanaman paku-pakuan, rumput purun [tanaman khas di lahan gambut] yang tingginya bisa mencapai satu meter, juga sering melewati parit. Ingat, sambil memikul alat-alat," terang Yudho.
Kesulitan lainnya adalah sumber air untuk memadamkan api. Di wilayah tertentu, sumber air hampir tidak ada.
Maka tambahan alat untuk mengebor sumber air di wilayah gambut dengan kedalaman 15-20 meter pun juga harus dibawa.

Sumber gambar, Manggala Agni
Sejumlah alat yang mereka bawa berusia lebih dari 10 tahun. "Namun, perawatan rutin, alat-alat itu masih bisa dipakai, meski tidak sekuat dulu," ujar Yudho.
Setidaknya, "tahun ini kami mendapat sejumlah alat baru, untuk menunjang pemadaman karhutla".
"Ya setidaknya ada kombinasi antara mesin lama dan baru," tambah Yudho.
Fenomena El Nino Godzilla juga memperparah karhutla di Kalimantan, selain faktor panas, pula memengaruhi kadar air di dalam lahan gambut.
"Kedalaman air di tanah gambut semakin menurun, normalnya 40 cm di bawah permukaan lahan gambut, kini lebih dalam lagi, yakni sekitar 90 cm, kondisi itu sudah berbahaya, artinya 'bahan bakar' gambut tersedia dalam jumlah banyak, dalam keadaan kering kena sulut sedikit, terbakarlah lahan," terang Yudho.
Di samping itu, tim juga tidak dapat bergantung pada operasi modifikasi cuaca, karena sejauh ini, belum ada awan konvektif sebagai syarat mutlak modifikasi hujan.
"Sejujurnya kami berharap hujan datang," kata Yudho.
Di lapangan, kata Yudho, titik api kerap muncul kembali di lokasi yang telah dipadamkan.
"Perasaan jengkel pasti ada, siapa sih yang bikin? Namun kami tidak punya kuasa untuk mengeluh," tambahnya.
Bagaimana peran negara sejauh ini?
Baik masyarakat terdampak, maupun tim pemadam karhutla sama-sama disulitkan oleh keadaan yang berulang setiap tahun di Kalimantan.
Sementara, sebelum karhutla tahun ini terjadi, anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) Komisi IV, Firman Soebagyo sempat mengingatkan bahwa masih banyak aparat penegak hukum yang melakukan pembiaran, bahkan diduga terlibat dalam praktik pembakaran hutan secara ilegal.
"Kalau di belakangnya ada baju hijau [TNI], baju cokelat [polisi], dan bahkan oknum legislatif, penegakan hukum bisa melemah," tambah Firman seperti dikutip dalam laman DPR.
Itu sebabnya, menurut Koordinator Pengkampanye Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Nasional, Uli Arta Siagian "negara seolah-olah tidak mampu menjawab akar persoalan kebakaran hutan dan lahan dan tunduk pada kepentingan korporasi".
Dalam analisis Walhi periode Januari-Juli 2026, secara keseluruhan, Pulau Kalimantan mencatat 34.262 hotspot dengan luas indikatif karhutla mencapai 33.837 hektare, tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
"Temuan paling penting dalam analisis Walhi menunjukan bahwa 25.524 hotspot atau sekitar 74% dari total hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan," ungkap Uli.
Bencana berulang itu menunjukan dugaan kejahatan terorganisir yang gagal diberantas negara, hal itu menurut Uli "dijawab negara dengan memadamkan api, saat apinya muncul sampai modifikasi cuaca".
Sebuah celah yang dimanfaatkan 'penjahat lingkungan' itu, antara lain adalah Undang-Undang Nomor 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Dalam UU itu, pembukaan lahan dengan cara membakar pada dasarnya dilarang. Namun, aturan itu memberikan pengecualian khusus bagi masyarakat adat atau atas dasar kearifan lokal, dengan batasan maksimal dua hehtare per kepala keluarga, disertai dengan syarat yang ketat.
"Itu sebenarnya bentuk pengakuan terhadap praktik dan pengetahuan tradisional dalam melakukan aktivitas pertanian masyarakat adat," kata Uli.
Namun, pembukaan lahan yang dilakukan masyarakat adat Dayak, dilakukan dengan cara-cara bertanggung jawab.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
"Sekeliling lahan dibersihkan terlebih dahulu sambil menentukan arah angin, sementara bagi yang tidak punya pengetahuan itu dan langsung bakar biasanya dilakukan oleh orang yang ingin mengurangi biaya operasional untuk membuka lahan di musim kemarau," jelas Ketua Umum Dewan Adat Dayak, Kalimantan Timur, Viktor Yuan.
Masyarakat Dayak, tambah Viktor, tidak bermusuhan dengan api. "Karena pada saatnya, api dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat adat, dalam pertanian misalnya," jelas Viktor.
"Namun, api bagi mereka yang membakar lahan, lalu apinya menjalar ke tempat yang bukan miliknya, merupakan alat cuci tangan, agar yang disalahkan adalah masyarakat adat," ungkap Viktor.
Menurut Uli, apa yang diungkap barusan merupakan bentuk pengalihan tanggung jawab aktor non-negara atau korporasi dalam melindungi wilayah konsesinya, "dan ketika terbakar, tanggung jawabnya dibebankan kepada masyarakat, itu yang berbahaya".
Di lapangan Petugas masih berkutat meminimalisir dampak kebakaran hutan dan lahan. Sementara warga terdampak masih sesak menghirup udara kotor.
Sementara itu, melalui siaran pers Kementerian Kehutanan pada 20 Agustus, pemerintah mengklaim telah memperkuat operasi terpadu pengendalikan karhutla.
Penanganan karhutla memprioritaskan tiga provinsi di Kalimantan dan melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan, terdiri atas 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.
Unsur yang terlibat meliputi Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan, dan masyarakat.
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Priyono Suryanto, terdapat paradoks dalam penanganan karhutla,
"Ekosistem gotong royong krisis ini hanya kuat di respons, [tapi] tidak berlanjut di upaya mitigasi, atau gotong royong dalam penjagaannya," tambah Priyono.
Maka, menurut Priyono, jika upaya mitigasi tidak dilakukan secara berkelanjutan, krisis karhutla menjadi siklus yang terus berputar dan akan semakin kompleks.
Petugas terus melakukan pemantauan hotspot dan laporan masyarakat, patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar, serta penjagaan lokasi rawan untuk mencegah munculnya kembali api.
Jurnalis di Banjarbaru, Donny Muslim, dan jurnalis di Palangka Raya, Riyandi, serta jurnalis di Pontianak Cantya Zamzabella, berkontribusi dalam liputan ini.




























