Jaringan ovarium dibekukan selama 23 tahun, perempuan ini melahirkan bayi laki-laki sehat

Sumber gambar, Kassandra Bacon
- Penulis, Rebecca Thorn
- Peranan, Global health
- Penulis, Salma Nurmohamed
- Peranan, Newshour, World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Ketika Kassandra Bacon didiagnosis mengidap jenis kanker darah yang tergolong langka pada usia 17 tahun, kemoterapi awal berhasil membuat penyakitnya masuk masa remisi.
Namun, setahun kemudian, kanker itu muncul lagi dan kondisi Kassandra lebih parah. Dokter mengatakan Kassandra harus segera menjalani kemoterapi dengan dosis yang lebih agresif.
"Ketika sedang belajar mengemudi dan tengah menjalani A-level (ujian akhir sekolah), tentu bukan sesuatu yang saya ingin alami di usia seperti itu. Rasanya sangat berat," kata Kassandra kepada Newshour, program BBC World Service.
Meski masih remaja, perempuan asal London itu sudah memikirkan dampak pengobatan terhadap dirinya di masa depan. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana menjaga kesuburannya.
Saat itu, ia tidak punya cukup waktu untuk menunggu siklus menstruasi bulanannya, yang diperlukan untuk menjalani prosedur pembekuan sel telur. Karena itu, Kassandra mencari pilihan lain yang saat itu masih tergolong eksperimental, yaitu transplantasi jaringan ovarium.
Dokter kemudian mengambil dan membekukan sampel jaringan dari ovarium Kassandra.
Selang 23 tahun kemudian, jaringan ovarium tersebut ditransplantasikan kembali ke tubuh Kassandra, yang kini berusia 44 tahun.
Hasilnya, Kassandra melahirkan anak pertamanya, seorang bayi laki-laki bernama Landon, pada bulan lalu.
Landon diperkirakan menjadi bayi pertama yang lahir dari jaringan ovarium yang ditransplantasikan dan disimpan selama lebih dari 20 tahun.

Sumber gambar, Sara Matthews
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Mengingat kembali masa remajanya, Kassandra mengatakan sejak dulu ia sangat ingin menjadi seorang ibu. Ketika menghadapi kemungkinan tidak bisa memiliki anak kandung, ia berusaha keras mencari cara agar tetap memiliki harapan.
"Saya tidak tahu kenapa, tetapi saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memberi saya harapan. Terutama jika pada akhirnya kondisi saya benar-benar memburuk dan saya tidak bisa hamil secara alami," katanya.
Pembekuan sel telur merupakan prosedur yang lebih umum dilakukan pada perempuan yang mungkin tidak bisa hamil secara alami.
Namun, prosedur ini membutuhkan beberapa minggu suntikan hormon sebelum sel telur dapat diambil. Sementara itu, Kassandra diberi tahu bahwa ia tidak punya waktu selama itu.
Kassandra kemudian meyakinkan dokternya agar sebagian jaringan ovariumnya diambil sebelum ia menjalani pengobatan kanker.
Ia kemudian menemukan Dr. Sara Matthews, salah satu dari sedikit dokter bedah di Inggris yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi khusus tersebut.
Matthews mengambil empat sampel jaringan dari ovarium Kassandra. Tapi, saat itu belum ada jaminan bahwa jaringan tersebut suatu hari nanti bisa membantunya memiliki seorang anak.
'Satu-satunya harapan'
Pengobatan yang dijalani Kassandra untuk menyelamatkan nyawanya—yang mencakup transplantasi sumsum tulang dan kemoterapi—berhasil. Ia kembali dinyatakan bebas dari kanker.
Tetapi, seperti yang sebelumnya sudah diperkirakan dokter, pengobatan agresif tersebut menyebabkan kerusakan parah pada ovariumnya. Pada usia 33 tahun, Kassandra mengalami menopause dini.
Saat sudah siap untuk memiliki anak, Kassandra memulai perjuangan selama 10 tahun untuk menemukan dokter yang bisa mentransplantasikan kembali jaringan ovarium sehat yang telah dibekukan ke dalam tubuhnya.
Operasi pengambilan jaringan ovarium yang dijalani Kassandra dilakukan sebelum Inggris memiliki aturan khusus mengenai prosedur tersebut.
Akibatnya, ia tidak memiliki dokumen yang kini diwajibkan untuk melakukan transplantasi jaringan ovarium, meskipun sudah lebih dari 20 tahun berlalu.
Matthews terus mendampingi Kassandra selama proses tersebut. Hingga akhirnya, ia membantu Kassandra menemukan sebuah klinik di Israel yang bersedia melakukan prosedur tersebut.
Jaringan ovarium Kassandra kemudian dikirim ke Sheba Medical Center di kota Ramat Gan, Israel.
Namun, prosedur yang sudah lama dinantikannya kembali tertunda setelah kelompok Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu kemudian memicu serangan militer besar-besaran Israel di Gaza.
"Saya berpikir, 'Apakah satu-satunya harapan saya akan hancur?'" tutur Kassandra kepada BBC World Service.
Pada Mei 2024, gencatan senjata sementara memungkinkan Kassandra melakukan perjalanan ke Israel dan menjalani prosedur tersebut dengan aman.
Namun, hanya beberapa jam setelah ia naik pesawat untuk kembali ke Inggris, gencatan senjata itu berakhir.
"Rasanya seperti sesuatu yang bahkan tidak mungkin bisa kamu tulis dalam sebuah cerita," katanya.
Bagaimana cara kerja transplantasi jaringan ovarium?
Dokter bedah mengambil sebagian jaringan dari ovarium yang mengandung sel-sel yang dapat menghasilkan sel telur. Jaringan tersebut kemudian disimpan dan dibekukan di laboratorium hingga pasien siap memiliki anak.
Ketika pasien sudah siap, jaringan tersebut dicairkan dan ditransplantasikan kembali ke tubuhnya. Prosedurnya mirip dengan cangkok kulit.
Jaringan yang ditanam kembali di sekitar ovarium yang masih tersisa diharapkan dapat terhubung kembali dengan pembuluh darah di sekitarnya. Jika berhasil, ovarium dapat kembali berfungsi dan mulai melepaskan sel telur setiap bulan.
Menurut sebuah penelitian pada 2024, siklus reproduksi perempuan dapat kembali berfungsi pada hingga 94% kasus. Sementara itu, penelitian lain pada 2022 menunjukkan sekitar 28% transplantasi jaringan ovarium menghasilkan kelahiran hidup.
Pada 2016, Moaza Al Matrooshi, perempuan berusia 24 tahun asal Dubai, disebut sebagai orang pertama di dunia yang melahirkan setelah menjalani transplantasi jaringan ovarium yang telah dibekukan sebelum dirinya memasuki masa pubertas.
Secara global, diperkirakan lebih dari 200 bayi telah lahir setelah orang tua mereka menjalani transplantasi jaringan ovarium.
'Saya harus berterima kasih kepada diri sendiri'

Sumber gambar, Kassandra Bacon
Hanya beberapa bulan setelah menjalani transplantasi pada 2024, menstruasi Kassandra kembali datang.
Kassandra dan pasangannya kemudian mencoba memiliki anak secara alami, tetapi belum berhasil. Dokter akhirnya menyarankan mereka untuk menjalani program bayi tabung (IVF).
Pasangan ini menjalani tiga kali proses IVF. Hingga akhirnya, pada Hari Natal 2025, Kassandra menggenggam alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif.
"Tubuh saya yang sangat subur ketika berusia 19 tahun seolah membawa saya kembali hidup pada usia 43 tahun," katanya.
Putra Kassandra, Landon, lahir pada September tahun ini. Saat itu, Kassandra juga sudah 25 tahun terbebas dari kanker.

Sumber gambar, Sara Matthews
Sejak membagikan kisahnya, Kassandra mengatakan bahwa ia menerima banyak sekali pesan dari perempuan yang merasa terinspirasi oleh pengalamannya.
Menurut Matthews, pembahasan mengenai pilihan untuk mempertahankan kesuburan pada pasien kanker yang masih muda kini semakin mendapat perhatian. Hal ini seiring dengan semakin baiknya peluang kesembuhan pada anak-anak yang menderita kanker.
"Kami ingin anak-anak ini tumbuh hingga dewasa dan bisa menjalani kehidupan seperti orang dewasa pada umumnya. Dan bagian penting dari kehidupan itu adalah kemampuan untuk membangun sebuah keluarga," kata Matthews.
Seperti banyak orang yang mendengar kisahnya, Kassandra sendiri juga merasa kagum ketika mengingat betapa gigihnya dirinya saat masih sangat muda.
"Saya masih mencoba membayangkan diri saya seperti ketika berusia 18 tahun dan berpikir, 'Bagaimana dulu saya bisa begitu gigih? Bagaimana saya bisa begitu bertekad?' Dan saya rasa, ini adalah salah satu hal yang membuat saya harus melihat kembali masa itu dan berterima kasih kepada diri saya sendiri," ucapnya.






























