'Itulah mengapa dia adalah sang raja' - Messi pimpin Argentina ke final Piala Dunia ketiga

Sumber gambar, Masashi Hara/Getty Images
- Penulis, Emlyn Begley
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Empat tahun lalu, banyak yang merasa kisah Lionel Messi telah mencapai akhir yang sempurna.
Pada usia 35 tahun, dia akhirnya berhasil memenangi Piala Dunia dalam pertandingan yang disebutnya sebagai laga terakhirnya di turnamen tersebut.
Menurut banyak orang, pencapaian itu mengukuhkan posisinya sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa.
Empat tahun sebelumnya, saat berusia 31 tahun, banyak pihak, termasuk orang-orang terdekatnya, mengira dia telah memainkan pertandingan Piala Dunia terakhirnya dan akan mengakhiri karier tanpa pernah mengangkat trofi paling bergengsi di sepak bola itu.
Namun kini, pada usia 39 tahun, Messi kembali membuktikan dirinya. Dia membantu Argentina menaklukkan Inggris dan membawa juara Amerika Selatan itu melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun.
Dua assist Messi membantu Argentina bangkit dari ketertinggalan untuk menang 2-1. Catatan itu membuatnya telah mengoleksi empat assist di Piala Dunia 2026, selain delapan gol yang sudah dicetaknya.
Dia kini menjadi salah satu pencetak gol terbanyak turnamen sekaligus berada di posisi kedua dalam daftar pemberi assist terbanyak.
Argentina akan menghadapi Spanyol, negara tempat Messi menghabiskan sebagian besar karier klubnya bersama Barcelona, dalam partai final yang akan digelar di New Jersey pada Senin (20/07) dini hari.
"Dia adalah pemain terbaik dalam sejarah. Saya tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan untuk membuktikannya. Mayoritas warga Spanyol mencintainya," kata pelatih tim nasional Argentina, Lionel Scaloni.
"Mereka memiliki Lionel Messi. Mereka memiliki GOAT, yang terhebat sepanjang masa. Sepak bola ditentukan oleh momen-momen penting. Kita sempat berpikir Jude Bellingham atau Harry Kane yang akan menjadi penentunya, tetapi inilah alasan mengapa Messi adalah sang raja," kata pundit BBC, Micah Richards.
Baca juga:
Bagaimana Messi hancurkan harapan Inggris
Mantan penyerang Barcelona dan Paris Saint-Germain, Lionel Messi, belum pernah menghadapi Inggris sepanjang kariernya.
Setelah pertandingan ini, pelatih Thomas Tuchel dan para pendukung The Three Lions mungkin berharap rekor itu tidak pernah berubah.
Pemain veteran tersebut sempat memperlihatkan sejumlah sentuhan berkualitas pada babak pertama yang berlangsung ketat, dengan lebih banyak beroperasi di area tengah lapangan.
Tapi, setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55, Argentina justru bangkit.

Sumber gambar, Etsuo Hara/Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ketika Tuchel memasukkan lebih banyak pemain bertahan dan Inggris memilih bermain lebih dalam, Argentina menguasai bola hingga 88% dalam 37 menit berikutnya.
Pada fase itulah Messi benar-benar mengendalikan pertandingan setelah bergeser ke sisi kanan lapangan.
"Kunci permainan kami adalah menempatkan Messi di sayap," ujar kiper Argentina Emiliano Martinez seusai laga.
Melawan Inggris, Messi sukses melakukan sembilan dribel dan mencatatkan dua assist. Dia menjadi pemain pertama, setidaknya sejak data Piala Dunia mulai dicatat pada 1966, yang mampu membukukan kedua capaian tersebut dalam satu pertandingan fase gugur.
Sebagai perbandingan, seluruh pemain Inggris secara kolektif hanya berhasil mencatatkan tujuh dribel sukses di Atlanta.
Messi juga tujuh kali menyentuh bola di kotak penalti lawan, jumlah yang sama dengan seluruh pemain Inggris jika digabungkan. Dia pun menciptakan empat peluang, angka yang juga menyamai total yang dibukukan seluruh skuad Inggris.
Selain itu, Messi melepaskan sembilan umpan silang, terbanyak dibandingkan pemain lain dalam pertandingan tersebut.
Namun yang paling penting, dia berperan langsung dalam terciptanya kedua gol Argentina.
Assist pertama lahir dari skema tendangan sudut ketika dia mengirim bola kepada Enzo Fernandez, yang melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-85.
Kemudian, pada masa injury time, umpan silang Messi disambut sundulan Lautaro Martinez yang memastikan kemenangan Argentina.
"Dia berjalan-jalan di lapangan, lalu tiba-tiba hidup saat bola berada di kakinya," kata pundit BBC, Micah Richards.
"Kejeniusannya muncul pada momen-momen seperti itu, dan terkadang itulah yang menjadi pembeda."
Mantan kiper Inggris, Joe Hart, menilai pendekatan Inggris justru memberi ruang bagi Messi.
"Para pemain kembali melakukan apa yang mereka lakukan saat menghadapi Meksiko dan Norwegia, yaitu menutup rapat pertahanan. Namun akibatnya, Lionel Messi mendapatkan kebebasan. Dia memiliki 'kunci utama' untuk membuka semuanya dan benar-benar mengendalikan pertandingan dalam 15 menit terakhir," katanya.
"Dalam sebagian besar pertandingan, kami mampu mengatasinya dengan baik. Namun seperti pemain-pemain paling berbahaya di dunia, ketika bola berada di kakinya, dia bisa menciptakan sesuatu dari situasi apa pun," tambah Kapten Inggris Harry Kane.
"Ada alasan mengapa dia dianggap sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa."
Bisakah Messi menutup Piala Dunia dengan Sepatu Emas?
Musim panas ini, Messi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 21 gol, dari total 125 gol yang telah dia cetak untuk tim nasional Argentina.
Sebanyak 15 dari 21 gol tersebut dicetak setelah dia berusia 35 tahun.
Delapan gol lahir di Piala Dunia kali ini, melampaui tujuh gol yang dia catatkan pada edisi 2022. Saat itu, dia hanya terpaut satu gol dari Kylian Mbappe dalam perburuan Sepatu Emas.

Sumber gambar, Getty Images
Kali ini, Messi dan Mbappe sama-sama telah mengoleksi delapan gol. Mbappe bersama Prancis masih akan menghadapi Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga pada Sabtu.
Dua pemain Inggris, Jude Bellingham dan Harry Kane, juga belum sepenuhnya keluar dari persaingan setelah masing-masing mengoleksi enam gol.
Jika para pemain mengakhiri turnamen dengan jumlah gol yang sama, penentuan pemenang akan ditentukan lewat jumlah assist. Dalam hal ini, Messi unggul dengan empat assist, dibandingkan tiga milik Mbappe.
Messi juga masih berpeluang mengakhiri turnamen sebagai pencatat assist terbanyak. Saat ini dia hanya terpaut satu assist dari pemain Prancis, Michael Olise.
"Dia pesulap kecil, benar-benar pesulap. Dia sudah menunjukkan itu sepanjang turnamen ini. Lihat saja gol-gol yang dicetaknya dan umpan-umpan berbahaya yang dia kirimkan ke kotak penalti Inggris," kata mantan kiper timnas Inggris, Paul Robinson, kepada BBC.
Sampai kapan Messi akan terus bersinar?
Mudah untuk melupakan bahwa Messi, yang saat itu masih membela Barcelona dan berusia 29 tahun, sempat memutuskan pensiun dari sepak bola internasional pada 2016.
Sebelumnya, dia kalah di final Piala Dunia 2014 melawan Jerman dan menelan kekalahan dalam tiga final Copa America.
Namun sejak membatalkan keputusan tersebut, Messi berhasil mengantarkan Argentina menjuarai Copa America dua kali.
Ketika mengangkat trofi Piala Dunia di Qatar pada 2022 saat masih berseragam Paris Saint-Germain (PSG), banyak yang merasa potongan terakhir dari teka-teki besar kariernya akhirnya telah lengkap.
Bagi banyak pengamat, gelar itu adalah pencapaian yang selama ini menjadi elemen yang hilang dalam perdebatan mengenai siapa pesepak bola terbaik sepanjang masa. Sebelumnya, banyak yang menempatkan sesama juara Piala Dunia, Pele dan Diego Maradona, di posisi teratas.
"Saya sangat senang bisa mengakhiri perjalanan saya di Piala Dunia dengan tampil di final, memainkan pertandingan terakhir di final. Itu sungguh memuaskan," kata Messi menjelang final Piala Dunia 2022.
"Masih ada jeda yang sangat panjang hingga turnamen berikutnya. Saya rasa saya tidak akan bisa melakukannya lagi. Mengakhirinya dengan cara seperti ini adalah sesuatu yang luar biasa."

Sumber gambar, Richard Pelham/Getty Images
Ketika meninggalkan Eropa setahun kemudian untuk bergabung dengan Inter Miami di Major League Soccer (MLS), banyak yang menganggap dia mulai memasuki fase akhir kariernya.
Bahkan saat tampil di Piala Dunia Antarklub FIFA tahun lalu, belum ada kepastian apakah dia masih akan bermain di Piala Dunia musim panas ini.
Namun kini dia masih ada di sini, dan tampaknya belum bisa dihentikan, meski gaya bermainnya telah banyak berubah.
Sebelum menghadapi Inggris, Messi tercatat berjalan kaki dalam 47% dari total jarak yang ditempuhnya sepanjang turnamen ini, persentase tertinggi dibandingkan pemain lapangan lainnya.

Sumber gambar, Hector Vivas - FIFA/FIFA via Getty Images
Menurut jurnalis Spanyol Guillem Balague, penulis biografi Messi, sang kapten Argentina setidaknya telah menemukan kembali cara bermainnya sebanyak lima kali sepanjang kariernya.
Messi kini telah mencetak gol atau memberikan assist dalam 13 pertandingan beruntun bersama Inter Miami dan Argentina.
Jika dia kembali terlibat dalam terciptanya gol saat menghadapi Spanyol di final pada Minggu, dia akan menyamai rekor pribadinya yang dibuat pada 2011, yakni berkontribusi pada gol dalam 14 pertandingan berturut-turut.
Dia juga akan menjadi pemain kedua setelah Cafu yang tampil di tiga final Piala Dunia.
Tentu saja, banyak yang beranggapan pertandingan itu akan menjadi laga terakhir Messi di Piala Dunia. Bagaimanapun, usianya akan menginjak 43 tahun pada 2030.
Namun pada titik ini, mungkin kita perlu berhenti membuat asumsi apa pun tentang peraih delapan Ballon d'Or tersebut.































