Ketika tim solid lumpuhkan kumpulan individu brilian – Bagaimana Spanyol bermain elegan dan melumat Prancis

Sumber gambar, REUTERS/Albert Gea
- Penulis, Neil Johnston
- Peranan, BBC Sport journalist at Dallas Stadium
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Spanyol tampil nyaris sempurna dalam mengendalikan jalannya pertandingan semifinal melawan Prancis dan memastikan posisi mereka di final Piala Dunia, yang baru kedua kalinya mereka capai dalam sejarah.
Penampilan tersebut membuat dunia sepak bola tercengang oleh betapa mudahnya mereka menyingkirkan Prancis.
Les Bleus datang ke semifinal yang sangat dinantikan pada Rabu (15/07) dini hari WIB sebagai favorit kuat setelah melaju mulus sepanjang turnamen.
Dengan pemain-pemain seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise, Prancis dianggap sebagai kekuatan menyerang yang menakutkan.
Namun, ketika banyak orang bertanya-tanya bagaimana Prancis bisa dikalahkan, Spanyol mengingatkan semua orang mengapa mereka berstatus juara Eropa dan belum terkalahkan dalam 37 pertandingan terakhir.
Pada pertandingan semifinal, Spanyol menundukkan Prancis dengan skor 2-0.
Tim asuhan Luis de la Fuente relatif luput dari sorotan sepanjang Piala Dunia ini. Mereka bahkan gagal mengalahkan tim debutan Tanjung Verde pada laga pembuka, sementara bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, baru mencetak satu gol.
Meski demikian, Spanyol tampaknya mencapai performa terbaik pada saat yang tepat. Dengan enam catatan bersih dari tujuh pertandingan, mereka kini berpeluang menjadi favorit dalam final Piala Dunia pada Minggu nanti, saat menghadapi Argentina atau Inggris.
Sebaliknya, Prancis harus bersiap menjalani laga perebutan tempat ketiga setelah dibuat frustrasi oleh dominasi lini tengah Spanyol dan hanya mampu mencatat tiga tembakan tepat sasaran.
"Spanyol mempermalukan Prancis. Mereka melumat Prancis," kata eks pemain Liga Primer Inggris, Chris Sutton, yang meliput pertandingan tersebut untuk BBC Radio 5 Live.
"Kita telah memberikan begitu banyak pujian kepada Prancis sepanjang turnamen ini, tetapi mereka disingkirkan begitu saja oleh Spanyol yang bermain begitu halus dan elegan. Secara keseluruhan, Spanyol bekerja lebih keras dan bermain lebih baik daripada tim Prancis."
Roy Keane, mantan pemain Manchester United, juga berkomentar terkait tim Spanyol dalam wawancaranya dengan ITV.
"Prancis tidak bermain sebagai sebuah tim. Mereka memiliki individu-individu hebat, tetapi tidak bermain sebagai tim. Spanyol tampil luar biasa. Mereka benar-benar enak ditonton," katanya.
Ketika De la Fuente ditunjuk sebagai pelatih Spanyol pada Desember 2022, sebagian pihak bahkan menyebutnya dengan nada meremehkan, "Luis de la Siapa?"
Spanyol, yang menjadi juara dunia di bawah Vicente del Bosque pada 2010, terbiasa dipimpin sosok-sosok ternama.
Karena itu, De la Fuente dipandang sebagai penunjukan yang kurang menonjol setelah sebelumnya menangani tim nasional kelompok usia U-19, U-21, dan U-23.
Namun, pelatih berusia 65 tahun itu telah memberikan jawaban tegas kepada orang-orang yang meragukannya.
Setelah membawa Spanyol menjuarai UEFA Nations League pada 2023 dan Piala Eropa 2024, kini dia berhasil mengantar La Roja melaju ke final Piala Dunia.
Jika Inggris menang di Atlanta pada Rabu, partai puncak nanti akan menjadi ulangan final Piala Eropa yang berlangsung dua tahun lalu.
Deretan statistik 'luar biasa' Spanyol
- Spanyol menyamai rekor Italia untuk rangkaian tak terkalahkan terpanjang dalam sepak bola internasional, yakni 37 pertandingan.
- Lima pemain Eropa dengan jumlah penampilan terbanyak di Piala Dunia dan Piala Eropa tanpa pernah merasakan kekalahan seluruhnya berasal dari Spanyol: Aymeric Laporte (22 laga), Mikel Oyarzabal (20), Fabian Ruiz (16), Mikel Merino (14), dan Lamine Yamal (14).
- Lamine Yamal belum pernah kalah bersama tim nasional Spanyol. Dia juga telah menjadi starter dalam 12 pertandingan gabungan di Piala Dunia dan Piala Eropa, dan selalu berakhir di pihak yang menang. Catatan itu memberinya persentase kemenangan 100% terbaik di antara seluruh pemain Eropa yang menjadi starter dalam dua turnamen tersebut.

Sumber gambar, IMAGN IMAGES via Reuters/Maria Lysaker
- Spanyol menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencatatkan enam clean sheet dalam satu edisi turnamen.
- Nilai expected goals (xG) yang dilepaskan Prancis saat menghadapi Spanyol hanya 0,3, angka terendah yang pernah dicatat sebuah tim dalam laga semifinal Piala Dunia sejak Brasil menghadapi Swedia pada 1994.
'Kami telah menemukan kembali semangat 2010'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Perjalanan Spanyol di Piala Dunia tidak dimulai dengan meyakinkan. Mereka hanya bermain imbang 0-0 melawan Tanjung Verde pada laga pembuka.
Di babak 16 besar, tim Spanyol membutuhkan gol kemenangan pada menit ke-91 untuk menyingkirkan Portugal, sebelum kembali mengandalkan gol pada menit ke-88 saat mengatasi Belgia di perempat final.
Namun, mereka tidak perlu menunggu hingga menit-menit akhir saat menghadapi Prancis.
Spanyol unggul 2-0 sebelum pertandingan memasuki satu jam pertama berkat penalti Mikel Oyarzabal dan penyelesaian gemilang Pedro Porro.
Menariknya, itu merupakan dua hingga satu tembakan tepat sasaran yang mereka lepaskan sepanjang laga.
"Mereka bukan tim Spanyol terbaik yang pernah kita lihat. Kita pernah menyaksikan tim yang lebih baik," kata mantan bek kiri Prancis, Gael Clichy, kepada BBC Radio 5 Live Sport.
"Tetapi tim terbaiklah yang menang. Semua fase permainan dikendalikan oleh Spanyol. Kita sudah terbiasa dengan gaya bermain mereka, tetapi kali ini mereka melakukannya dengan sangat baik."
Baca juga:
Mantan gelandang Prancis, Patrick Vieira, sependapat bahwa Spanyol mendominasi "setiap aspek" pertandingan.
"Secara kolektif, ini adalah penampilan fantastis dari Spanyol," katanya kepada ITV Sport.
"Mereka berhasil mematikan permainan Olise. Mereka memenangi pertandingan ini melalui pendekatan taktis yang unggul."
Mantan rekan setim Vieira di Arsenal, Ian Wright, menilai kemenangan Spanyol merupakan bukti bahwa organisasi tim lebih penting daripada kecemerlangan individu.
"Struktur tim mengalahkan individualitas. Saya benar-benar terkejut melihat itu bisa terjadi dengan begitu mudah," ujarnya.
Pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, juga memuji tim Spanyol.
"Yang kita saksikan adalah penampilan kolektif yang luar biasa. Mereka mengendalikan segalanya. Pertandingan seperti ini seharusnya menjadi bahan pelajaran di setiap sekolah sepak bola," kata Balague.
Dalam konferensi pers selepas pertandingan, pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengatakan timnya layak berada di final berkat "kerja keras, bakat, pengorbanan, dan tekad untuk terus menjadi versi terbaik diri kami".
"Kami berhasil menghidupkan kembali semangat 2010," kata De la Fuente, merujuk pada tim Spanyol yang menjuarai Piala Dunia tahun tersebut.
"Karakter tim ini terlihat jelas dari fakta bahwa para pemain yang tidak tampil masih tetap berada di lapangan untuk berlatih setelah pertandingan usai.
"Ini adalah sebuah proses, dan semuanya telah direncanakan agar kami mencapai momen ini dalam kondisi sebaik mungkin."
Kemenangan yang layak bagi seorang raja
Ketika ribuan suporter Spanyol turun ke jalan-jalan di berbagai kota untuk merayakan kemenangan tim nasional mereka, Luis de la Fuente mengungkapkan bahwa dia menerima panggilan telepon dari Raja Felipe VI sesaat setelah peluit akhir berbunyi.
De la Fuente memiliki hubungan yang erat dengan banyak pemainnya. Sejumlah anggota skuad saat ini pernah dilatih olehnya ketika masih membela tim nasional kelompok umur Spanyol.

Sumber gambar, EPA/Shutterstock/Christopher Neundorf
Gelandang Mikel Merino meraih gelar internasional pertamanya bersama De la Fuente pada 2015. Saat itu dia bermain bersama Rodri, yang kini menjadi kapten tim, serta penjaga gawang Unai Simón ketika Spanyol menjuarai Piala Eropa U-19.
"De la Fuente memulai perjalanan ini 10 tahun lalu bersama Oyarzabal, Dani Olmo, Rodri, dan Simón," kata pengamat sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Radio 5 Live.
"Mereka menjuarai Piala Eropa U-19 dan U-21, saling mengenal dengan sangat baik, lalu membangun ikatan layaknya sebuah keluarga. Perasaan bahwa mereka lebih kuat sebagai sebuah tim daripada sebagai individu telah menjadi bagian dari DNA mereka."
'Saya rasa juara Piala Dunia bermain hari ini'
Ketika ditanya apakah dia lebih memilih menghadapi Inggris atau Argentina di final pada Minggu nanti, Luis de la Fuente menyatakan preferensinya terhadap Inggris.
"Saya tidak punya preferensi. Saya sangat menyukai Inggris. Sebelum Piala Dunia dimulai, saya sudah mengatakan bahwa mereka adalah salah satu favorit," katanya.
Guillem Balague menilai siapa pun lawannya, Spanyol kemungkinan akan tetap memainkan pendekatan yang sama.
"Alurnya akan tetap sama. Kami akan lebih banyak menguasai bola," kata Balague.
"Jika lawannya Argentina, mereka memiliki kelemahan di lini pertahanan. Anda bisa menghukum mereka lewat serangan balik dan membuka ruang di pertahanan mereka.
"Spanyol memiliki begitu banyak variasi permainan sehingga mereka juga mampu melakukan hal itu. Saya rasa tim yang akan menjadi juara Piala Dunia bermain hari ini."
Menurut Balague, Spanyol terus menunjukkan perkembangan sepanjang turnamen.
"Setelah menetapkan standar yang sangat tinggi, Spanyol kini semakin piawai menyelesaikan pertandingan dan terus menciptakan peluang.
"Inggris mengambil jalur yang berbeda sejak Piala Eropa. Mereka memulai proyek baru, dan saya belum melihat dengan jelas seperti apa identitas permainan mereka.
"Sementara itu, Spanyol terus mempertahankan ide dan filosofi yang sama."
'Spanyol ungguli Prancis dalam segala aspek'
Spanyol mengalahkan Prancis lewat penampilan yang dibangun di atas prinsip-prinsip permainan yang telah menjadi ciri khas mereka selama beberapa dekade terakhir: penguasaan bola, tekanan cepat setelah kehilangan bola (counter-pressing), dominasi di lini tengah, serta kombinasi umpan-umpan pendek.
Menghadapi dua gelandang utama Prancis, Spanyol mampu memaksakan kehendak mereka melalui trio lini tengah yang kuat secara fisik sekaligus brilian secara teknik: Fabian Ruiz, Rodri, dan Dani Olmo.
Di antara ketiganya, Olmo yang berperan sebagai gelandang serang bebas menjadi sosok yang terus menghadirkan masalah tanpa jawaban bagi lini tengah dan pertahanan Prancis.
Dengan sering turun lebih dalam untuk menjemput bola, dia membuat Spanyol memiliki keunggulan jumlah pemain di sektor tengah, menciptakan situasi tiga lawan dua.

Sumber gambar, EPA/Shutterstock/Shawn Thew Credit
Prancis berupaya mengatasi hal itu dengan meminta salah satu bek tengah mengikuti pergerakan Olmo. Namun, kemampuannya keluar dari tekanan lawan dan menemukan rekan setim di sekitarnya menjadi elemen penting dalam banyak serangan terbaik Spanyol.
Pada gol kedua Spanyol, Olmo menjadi pemberi umpan sesuai peran tersebut. Gol itu juga memperlihatkan area lain di mana Spanyol tampil jauh lebih unggul, yakni di sektor sayap dan area sekitar bek-bek kanan serta kiri Prancis.
Blok pertahanan 4-4-1-1 milik Prancis cenderung pasif. Para pemain lebih fokus menjaga zona permainan ketimbang mengikuti pergerakan individu lawan.
Spanyol mengeksploitasi kelemahan tersebut dengan mendorong bek sayap mereka ikut membantu serangan.
Akibatnya, para bek sayap Prancis kerap dipaksa menghadapi dua pemain sekaligus: seorang penyerang sayap dan seorang bek sayap yang melakukan overlap.
Pada proses gol itu, Desire Doue gagal mengikuti pergerakan menyerang Pedro Porro. Setelah mengoper bola, Porro terus berlari ke depan, menerima umpan balik dari rekannya, lalu melepaskan penyelesaian akhir yang berbuah gol.





























