You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Trump hapus unggahan dirinya mirip Yesus – Apa tiga isu utama di balik perselisihan Trump dan Paus Leo XIV?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Paus Leo XIV terlibat perselisihan yang tidak biasa dan berlangsung secara terbuka terkait perang di Iran, setelah Paus untuk pertama kalinya secara langsung menyebut nama Trump.
Di tengah meningkatnya gelombang kritik, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya telah menghapus sebuah unggahan kontroversial di Truth Social yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus.
Gambar yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) tersebut memperlihatkan Trump seolah tengah menyembuhkan seorang pria sakit yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Unggahan itu memicu kecaman keras dari berbagai kalangan di spektrum politik AS, termasuk dari sebagian pendukung setia Trump sendiri.
Unggahan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump memposting pesan panjang yang mengkritik Paus Leo XIV, yang dikenal sebagai pengkritik vokal operasi militer AS dan Israel di Iran.
Trump mengakui telah mengunggah gambar tersebut. Kepada para wartawan, ia mengatakan bahwa menurutnya gambar itu menampilkan "saya sebagai seorang dokter".
Gambar yang kini telah dihapus itu memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih, dengan tangannya yang bercahaya diletakkan di dahi seorang pria sakit.
Para pengkritik menilai pose tersebut menyerupai lukisan-lukisan religius yang menggambarkan Yesus sedang menyembuhkan orang sakit.
Latar belakang gambar tersebut menampilkan Patung Liberty, bendera AS berukuran besar yang berkibar, jet-jet tempur dan seekor elang, serta sosok seorang perawat, seorang perempuan yang tengah berdoa, dan sosok yang tampak seperti seorang prajurit berseragam.
Beberapa jam setelah unggahan itu dihapus, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia meyakini gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang berada di samping seorang petugas Palang Merah.
Tiga isu utama di balik perselisihan Trump dan Paus Leo XIV
Terpilih pada Mei 2025 sebagai Paus pertama yang lahir di AS, pemimpin Gereja Katolik tersebut—yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost—pada awal masa kepausannya memilih gaya komunikasi publik yang lebih berhati-hati dibandingkan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai pengkritik vokal dan terbuka terhadap pemerintahan Trump.
Namun demikian, ketegangan antara Vatikan dan Gedung Putih telah terakumulasi selama berbulan-bulan, dan pertukaran pernyataan terbaru ini membuat perbedaan pandangan tersebut akhirnya muncul ke permukaan secara jelas.
Kebijakan luar negeri
Ketegangan itu meningkat secara terbuka pada Minggu, setelah Trump melancarkan kritik keras terhadap Paus dalam sebuah unggahan panjang di platform media sosialnya, Truth Social.
Dalam unggahan itu, Trump menyebut Paus sebagai sosok yang "LEMAH dalam urusan kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri".
"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap wajar jika Iran memiliki senjata nuklir," tulis Trump.
Ia menambahkan, "Saya juga tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap serangan AS terhadap Venezuela sebagai sesuatu yang mengerikan—padahal negara itu mengirimkan narkoba dalam jumlah besar ke AS dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara-penjaranya, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan kriminal berbahaya, ke negara kami."
Baca juga:
Politikus Partai Republik itu kemudian mengunggah sebuah gambar yang secara luas diyakini dibuat dengan kecerdasan buatan (AI), menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus yang tampak sedang "menyembuhkan" seorang pria—langkah yang memicu kritik dari para pemuka agama dan pengamat. Gambar tersebut kini telah dihapus.
Pernyataan Trump itu muncul setelah Paus Leo mengecam peringatan Trump sebelumnya bahwa AS dapat "menghapus peradaban Iran" jika Teheran tidak memenuhi tuntutan terkait perundingan nuklir dan Selat Hormuz.
Paus menyebut ancaman tersebut sebagai sesuatu yang "sama sekali tidak dapat diterima" dan mendesak umat Katolik agar menekan para pemimpin politik supaya "bekerja demi perdamaian".
Beberapa hari sebelumnya, Paus Leo telah secara langsung menyebut nama Trump.
"Saya diberi tahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan ingin mengakhiri perang. Mudah-mudahan dia sedang mencari jalan keluar," kata Paus kepada para jurnalis pada 31 Maret.
Pada Minggu, Paus berusia 70 tahun itu kembali menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk mengakhiri pertumpahan darah yang terus berlangsung, seraya mengecam apa yang dia sebut sebagai "delusi kemahakuasaan" yang mendorong terjadinya perang.
Sikap Paus Leo terhadap Iran melanjutkan posisi-posisi yang sebelumnya telah dia ambil dalam isu-isu konflik lainnya.
Dalam hitungan hari setelah terpilih tahun lalu, Paus menyerukan gencatan senjata segera di Gaza, pembebasan para sandera, serta akses kemanusiaan tanpa hambatan.
Pada Agustus 2025, Paus Leo mengecam apa yang dia sebut sebagai "hukuman kolektif" dan pemindahan paksa warga Palestina, seraya menggambarkan kondisi di Gaza sebagai "tidak dapat diterima".
Dalam khotbah Natalnya, pemimpin 1,4 miliar umat Katolik dunia itu menyinggung "tenda-tenda di Gaza yang terpapar hujan, angin, dan dingin".
Meski Trump dan Paus Leo tidak terlibat benturan terbuka soal Gaza pada saat itu, para diplomat Vatikan secara tertutup mengakui adanya kegelisahan atas penekanan moral dan hukum yang disampaikan Paus secara gamblang—yang secara luas dipandang sebagai tantangan terhadap sikap AS dan Israel.
Baca juga:
Pada Januari tahun ini, Paus juga menyuarakan keprihatinan setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, di Caracas dan membawanya ke New York untuk diadili.
"Kepentingan rakyat Venezuela yang terkasih harus mengungguli semua pertimbangan lainnya dan membimbing kita untuk melampaui kekerasan serta menempuh jalan keadilan dan perdamaian," ujarnya.
Paus juga menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Venezuela, perlindungan supremasi hukum sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi, serta penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan hak-hak sipil.
Imigrasi
Isu imigrasi juga menjadi sumber ketegangan utama lainnya.
Paus Leo berulang kali mengkritik kebijakan imigrasi ketat yang diterapkan Trump, dengan membingkai isu tersebut sebagai kewajiban moral yang berakar pada ajaran Injil tentang belas kasih dan martabat manusia.
Pada November 2025, Paus mengatakan bahwa warga asing di AS diperlakukan dengan cara yang "sangat tidak menghormati".
Pernyataan itu sejalan dengan sikap para uskup Katolik AS, yang sebelumnya mengecam deportasi massal dan memperingatkan munculnya rasa takut serta kecemasan akibat operasi penggerebekan imigrasi.
"Saya kira kita harus mencari cara untuk memperlakukan orang-orang secara manusiawi," kata Paus Leo, seraya mengakui bahwa "setiap negara memang memiliki hak untuk menentukan siapa, bagaimana, dan kapan orang boleh masuk".
Dalam sebuah pidato di Lapangan Santo Petrus pada Oktober lalu, Paus menyerukan agar umat Katolik tidak memperlakukan para migran dengan "dinginnya sikap tak acuh atau stigma diskriminasi".
Dia juga kemudian mempertanyakan apakah kebijakan-kebijakan Trump sejalan dengan ajaran Gereja yang menjunjung tinggi nilai pro-kehidupan.
Pernyataan-pernyataan tersebut memicu gelombang reaksi keras dari kalangan Katolik konservatif.
Agama dan otoritas politik
Unggahan Trump di media sosial pada Minggu itu melampaui isu kebijakan luar negeri, dengan menuding Paus Leo telah melampaui batas perannya.
"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden AS karena saya melakukan persis apa yang saya dipilih—dengan KEMENANGAN TELAK—untuk lakukan," tulis Trump.
Trump juga menyiratkan bahwa Paus Leo terpilih semata-mata karena kewarganegaraan Amerika-nya.
"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," klaimnya.
Saat diminta wartawan untuk menjelaskan unggahan tersebut, Trump kemudian mengatakan, "Saya rasa dia tidak melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Dia suka kejahatan, kurasa."
"Saya bukan penggemar Paus Leo," tambah Trump, saat berbicara kepada wartawan di landasan pacu bandara setelah kembali ke Washington dari Florida.
Namun, pada Senin, saat berbicara di dalam pesawat kepausan ketika memulai perjalanan selama 11 hari ke Afrika, Paus Leo menolak untuk menanggapi Trump secara personal.
"Saya bukan seorang politisi, dan saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan dengannya," ujarnya.
"Saya akan terus bersuara tegas menentang perang, serta berupaya mendorong perdamaian, dialog, dan multilateralisme."
Paus menambahkan bahwa dia "tidak takut terhadap pemerintahan Trump" dan akan terus menyampaikan pandangannya secara "lantang" demi membela ajaran Injil.
Dalam pemilu 2024, Partai Republik meraih dukungan 55% pemilih Katolik, menurut survei Associated Press.
Kaum Katolik mencakup sekitar seperlima populasi AS, berdasarkan data Biro Sensus AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance.
Pemerintahan Trump juga menjalin hubungan erat dengan para pemimpin Protestan evangelikal konservatif, dan semakin sering membingkai perang Iran dalam istilah-istilah religius.
Apa pendapat para ahli
Para pengamat menilai perubahan nada dan pendekatan Paus menunjukkan keinginannya untuk berperan sebagai penyeimbang moral di panggung global terhadap Trump dan tujuan kebijakan luar negerinya.
"Saya rasa dia tidak ingin Vatikan dituduh bersikap lunak terhadap Trumpisme hanya karena dirinya orang Amerika," kata Massimo Faggioli, akademisi asal Italia yang mengikuti dinamika Vatikan secara dekat, kepada Reuters.
"Ketika Leo berbicara, dia selalu berhati-hati," ujar Faggioli, profesor di Trinity College Dublin. "Saya rasa itu bukan kebetulan."
Kardinal Chicago Blase Cupich, sekutu dekat Paus Leo, mengatakan kepada Reuters bahwa Paus tengah melanjutkan tradisi panjang para pemimpin Gereja Katolik yang menyerukan para pemimpin dunia untuk berpaling dari perang.
"Apa yang berbeda … adalah suara dari sang penyampai pesan, karena kini warga Amerika dan seluruh dunia berbahasa Inggris mendengar pesan tersebut disampaikan dengan idiom yang akrab bagi mereka," ujarnya.
Marie Dennis, mantan pemimpin gerakan perdamaian Katolik internasional Pax Christi, mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan terbaru Paus Leo serta seruannya secara langsung kepada Trump "mencerminkan hati yang remuk oleh kekerasan yang tak kunjung berhenti".
"Dia merangkul semua pihak yang kelelahan menghadapi kekerasan tanpa henti ini dan yang merindukan kepemimpinan yang berani," katanya.