Mengapa ancaman Trump memblokade Selat Hormuz sangat beresiko dan tidak mengubah keadaan?

    • Penulis, Anthony Zurcher
    • Peranan, North America correspondent
  • Waktu membaca: 5 menit

Setelah tim diplomatik yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance berupaya— namun gagal—mencapai kesepakatan melalui perundingan guna mengakhiri perang AS-Iran, Sabtu (11/04), Presiden Donald Trump harus menentukan langkah selanjutnya.

Keputusan itu disampaikan pada Minggu (12/04) pagi melalui serangkaian unggahan di Truth Social.

AS akan memberlakukan blokade laut terhadap Iran, tulis Trump.

"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," katanya.

Dia juga menyatakan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu.

Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi "siap tempur" dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada "waktu yang tepat".

Trump menambahkan bahwa meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan selama 20 jam di Islamabad, Iran tidak bersedia memenuhi tuntutan AS untuk menghentikan ambisi nuklirnya.

Pandangan tersebut sedikit banyak dibantah oleh seorang pejabat AS yang memahami jalannya negosiasi yang dipimpin Vance.

Pejabat itu mengungkapkan daftar perbedaan yang jauh lebih panjang, termasuk soal kendali Iran atas Selat Hormuz serta dukungannya terhadap kelompok proksi di kawasan, seperti kelompok pemberontak Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.

Meski unggahan terbaru Trump tidak menampilkan retorika apokaliptik seperti ancaman pekan lalu untuk mengakhiri peradaban Iran, pernyataan-pernyataan itu tetap menghadirkan sejumlah tantangan baru—sekaligus risiko—bagi pihak AS.

Apakah kegiatan pembersihan ranjau akan menempatkan kapal-kapal Angkatan Laut AS pada risiko yang lebih besar terhadap serangan Iran?

Bagaimana AS akan menentukan siapa saja yang membayar pungutan kepada Iran?

Apakah AS akan menggunakan kekuatan terhadap kapal berbendera asing yang mengabaikan blokade?

Bagaimana negara-negara yang bergantung pada minyak Iran, seperti China, akan merespons?

Dan apakah langkah ini—yang dimaksudkan untuk mencekik sumber pendapatan utama Iran—justru akan mendorong harga minyak naik ke tingkat yang lebih tinggi?

Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pada Minggu sore, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command) mengumumkan bahwa blokade laut itu akan menghentikan seluruh kapal yang bepergian menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran—seperangkat ketentuan yang berbeda dari rencana aksi yang sebelumnya disampaikan Trump.

Baca juga:

"Saya tidak memahami bagaimana memblokade selat itu akan mendorong Iran untuk membukanya kembali," kata Senator Mark Warner dari Virginia, politikus Partai Demokrat di Komite Intelijen Senat, kepada CNN pada Minggu.

Dalam program Face the Nation di CBS, anggota Kongres dari Partai Republik, Mike Turner dari Ohio—yang hingga tahun lalu menjabat sebagai ketua Komite Intelijen DPR—mengatakan bahwa blokade tersebut merupakan cara untuk memaksakan penyelesaian atas situasi di Selat Hormuz.

"Presiden, dengan mengatakan bahwa kami tidak akan begitu saja membiarkan mereka menentukan siapa yang boleh melintas, jelas sedang memanggil seluruh sekutu dan semua pihak untuk duduk di meja perundingan," ujarnya. "Masalah ini perlu ditangani."

Saksikan juga

Pekan lalu, sebelum Iran dan AS menyepakati gencatan senjata selama dua pekan serta perundingan langsung tatap muka, Donald Trump berada dalam posisi yang sulit.

Dia dapat terus meningkatkan serangan AS terhadap Iran, yang berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang pada infrastruktur sipil negara tersebut, memperburuk krisis kemanusiaan, serta semakin mengguncang stabilitas ekonomi global.

Atau, dia bisa mundur dari perang yang sejak awal tidak populer di kalangan publik negara itu dan kini mulai menimbulkan frustrasi bahkan di antara sebagian pendukung Trump sendiri—mereka yang selama ini mempercayai janji Trump untuk menghindari konflik luar negeri berkepanjangan dan keterlibatan mendalam di Timur Tengah.

Sebuah jajak pendapat terbaru CBS menunjukkan bahwa mayoritas warga AS (59%) menilai perang ini berjalan agak buruk atau sangat buruk bagi AS.

Banyak pihak meyakini bahwa tujuan utama AS—seperti menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, menjamin kebebasan yang lebih besar bagi rakyat Iran, serta mengakhiri secara permanen program nuklir Iran—masih belum tercapai.

Mayoritas dari kedua partai di AS menilai pencapaian tujuan-tujuan tersebut sebagai hal yang penting.

Hampir sepekan berlalu dan, meskipun AS mengklaim kemenangan, dilema yang dihadapi presiden pada dasarnya tidak berubah.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu pagi, Trump mengatakan Iran pada akhirnya akan memberikan kepada AS "segala sesuatu" yang diinginkannya.

Dia menambahkan bahwa meskipun harga minyak mungkin akan tetap sama atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, dia meyakini perekonomian AS akan mampu bertahan.

Pernyataan itu, setidaknya, merupakan sebuah pertaruhan besar.

Dengan pemilihan paruh waktu (midterm) pada November yang semakin dekat, Partai Republik pimpinan Presiden Trump berpotensi menanggung kerugian besar di kotak suara jika perhitungannya keliru.

Pada Sabtu malam, saat wakil presidennya tengah berunding dengan para pejabat Iran di Pakistan, Trump justru melakukan perjalanan ke Miami, tempat dia menyaksikan para petarung profesional saling mengalahkan dalam pertandingan kandang UFC (ultimate fighting championship).

Menurut anggota rombongan pers yang hadir, pemandangan tersebut tergolong aneh dan janggal.

Presiden AS terlihat menyaksikan laga adu fisik yang brutal di arena yang berlumuran darah, berbincang dengan para selebritas, dan sesekali terlibat diskusi intens dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta para penasihat lainnya— semuanya berlangsung di hadapan ribuan penonton.

Pertarungan ultimate fighting di dalam arena, meskipun brutal, memiliki aturan yang jelas dan batas waktu, serta selalu berakhir dengan pemenang dan pihak yang kalah.

Ke­jelasan semacam itu mungkin tidak akan pernah hadir dalam perang Iran, yang kini memasuki bulan kedua dan gencatan senjata dua pekan tampak berada di ambang kehancuran.

Konflik ini telah berubah menjadi adu keteguhan—antara kemampuan Iran untuk bertahan menghadapi serangan berkelanjutan AS dan Israel, dan sejauh mana Presiden Trump bersedia menanggung beban ekonomi serta tekanan politik yang dihasilkan perang tersebut.

Pada akhirnya, semua pihak yang terlibat dalam pertarungan ini, bisa saja keluar dalam keadaan dirugikan.