Kerusakan psikis anak-anak di Iran akibat perang – 'Ketakutan tiada akhir'

    • Penulis, Fergal Keane
    • Peranan, Koresponden khusus
  • Waktu membaca: 5 menit

Serangan Amerika Serikat dan Israel membawa ketakutan tiada henti pada anak-anak di Iran. Lebih dari 20% penduduk Iran (sekitar 20,4 juta jiwa) berusia anak.

Ali, 15 tahun, bukan nama sebenarnya, memahami bagaimana ketakutan tercipta karena perang.

Suasana perang itu terus melekat dalam benaknya. Pintu yang dibanting atau peralatan makan yang jatuh kini membuatnya terkejut.

Dan, tambahnya, gencatan senjata tak serta merta memupus trauma itu.

"Sebelum perang, saya baik-baik saja, tidak mengalami stres. Tapi sekarang, bahkan suara sekecil apa pun membuat otak saya bereaksi begitu berlebihan," kata Ali.

Suara serangan udara Amerika Serikat dan Israel di Iran yang tak henti didengar menetap di dalam pikiran dan tidak mau pergi. Hal itu memicu "reaksi kaget" otomatis terhadap suara keras apa pun.

"Suara ledakan, gelombang kejut, dan suara pesawat tempur yang terbang di atas kota dapat berdampak sangat serius," katanya.

Gejala yang terjadi pada Ali itu disebut oleh para psikolog sebagai hiperarousal, yakni kondisi medis saat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan waspada tinggi secara terus-menerus.

Hal ini menjadi peringatan dini kemungkinan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Ia berupaya mencari rasa aman yang biasa dijumpainya di rumah. Namun hal itu kini tak lagi ditemukannya. Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat perang. Ibunya terus diliputi kekhawatiran.

"Ibu saya tinggal di rumah, dan setiap kali pesawat tempur terbang di atas, dia ketakutan dan tertekan serta menunjukkan tanda‑tanda kecemasan. Saya sendiri juga sangat takut," katanya.

"Saya tidak lagi berhubungan dengan teman‑teman saya. Seharusnya, saya bisa belajar, bekerja, dan menjadi orang yang mandiri di masa depan. Tidak terus‑menerus mengkhawatirkan politik, hidup dalam stres, memikirkan bom yang jatuh yang menjadi ketakutan tiada akhir."

Dunia anak‑anak di Iran sepanjang perang kian menyempit.

Ancaman serangan yang konstan oleh pesawat AS dan Israel dengan jalan-jalan yang dipenuhi patroli milisi rezim mengakibatkan para keluarga di Iran terkurung di rumahnya dan sekolah-sekolah turut ditutup.

Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu dan berharap gencatan senjata bertahan.

Dengan bantuan sumber‑sumber tepercaya di lapangan, BBC memperoleh kesaksian dari para orang tua dan mereka yang berupaya membantu anak‑anak menghadapi trauma perang. Beberapa nama telah diubah demi keselamatan mereka.

Di sebuah pusat hak asasi manusia di Teheran, Aysha yang namanya telah diubah memberi konseling kepada seorang ibu yang tertekan melalui telepon.

"Cobalah lakukan hal‑hal yang saya sebutkan tadi untuk menciptakan lingkungan yang lebih tenang baginya," katanya.

"Jika memungkinkan, bermainlah dengannya dan buat dia tetap terhubung. Bahkan jika setelah itu keadaannya tidak membaik, bawa dia kembali ke sini."

Aysha berkata tempatnya bekerja menerima banyak panggilan dan kunjungan langsung dari orang tua yang cemas.

"Kami melihat terjadi banyak gangguan tidur, mimpi buruk, penurunan konsentrasi, dan bahkan perilaku agresif.

"Ketika anda berjuang begitu keras untuk membesarkan seorang anak, tapi kemudian anak itu terbunuh, baik dalam unjuk rasa maupun dalam perang seperti ini, saya percaya tidak ada orang tua yang bersedia membawa anak untuk mengenal dunia."

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS dan mengumpulkan data dari seluruh Iran, sebanyak 3.636 orang telah tewas dalam perang.

Di antara jumlah tersebut, setidaknya 254 orang merupakan anak. Sementara itu, puluhan ribu orang terluka.

Di tengah ketakutan tersebut, rezim Iran justru mencoba mendorong anak‑anak ke garis tembak.

Pemerintah telah menyerukan kepada para orang tua agar mengizinkan anak‑anak mereka bergabung dengan milisi sukarelawan Basij, yang merupakan salah satu bagian penting dari penegakan hukum negara. Tugasnya untuk membantu menjaga pos pemeriksaan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, seorang tokoh rezim menyerukan kepada para orang tua untuk "menggandeng tangan anak‑anak anda dan turun ke jalan". Ia menyamakan perang dengan ujian kejantanan bagi anak laki‑laki.

"Apakah anda ingin putra anda benar-benar menjadi seorang pria? Biarkan dia merasakan dirinya adalah pahlawan di medan perang, memimpin pertempuran. Para ibu, para ayah, kirimkan anak‑anak anda pada malam hari ke barikade. Anak‑anak ini akan berubah menjadi pria sesungguhnya."

Bagi Alireza Jafari yang berusia 11 tahun, seruan untuk mengangkat senjata berarti kematian. Ia bersama ayahnya bertugas di sebuah pos pemeriksaan di Teheran ketika Jafari kemudian tewas akibat serangan drone pada 29 Maret.

Sebuah surat kabar lokal mengutip ibunya, Sadaf Monfared, yang berkata bahwa bocah itu "ingin menjadi seorang martir".

Amnesty International menuduh otoritas Iran "menginjak‑injak hak‑hak anak dan melakukan pelanggaran berat terhadap hukum hak asasi manusia internasional yang setara dengan kejahatan perang" dengan merekrut anak‑anak untuk dinas militer.

Namun rupanya, perekrutan anak‑anak di bawah usia 15 tahun diperbolehkan berdasarkan undang‑undang keamanan Iran, yang secara langsung melanggar hukum internasional.

Warga Teheran, Noor yang bukan nama sebenarnya memiliki seorang putra di awal usia remaja. Ia pun bersumpah untuk menjauhkannya dari militer.

"Seorang anak berusia 12 tahun tidak pernah bisa membuat keputusan yang tepat. Mereka tidak benar‑benar memahami apa yang sedang terjadi,"

"Mereka mungkin mengira ini semacam permainan. Ketika mereka diberi senjata dan disuruh pergi berperang, mereka membayangkan sedang memainkan gim video. Padahal ketika seorang anak menempuh jalan itu, tidak ada jalan kembali."

Noor membawa putra semata wayangnya keluar dari Teheran ketika perang dimulai lima minggu lalu.

"Saya tidak akan pernah, sama sekali tidak akan, mengizinkan putra saya terlibat dalam perang. Mengapa anak‑anak dieksploitasi?"

"Ketika pertempuran dimulai sekitar sebulan lalu, hal pertama yang saya lakukan adalah meninggalkan kota. Saya stres dan khawatir kalau putra saya mungkin keluar ke jalan dan sesuatu akan terjadi padanya, apalagi membiarkannya pergi berperang."

Untuk saat ini, harapannya, perundingan antara AS dan Iran di Pakistan akan menghasilkan gencatan senjata permanen.

Sayangnya, kalau pun gencatan senjata itu terwujud, kerusakan yang kadung ditimbulkan pada pikiran dan tubuh anak-anak akibat kekerasan pengeboman, militarisasi masa kanak‑kanak, dan hilangnya rasa aman akan menancap dalam hingga masa depan.

Laporan tambahan oleh Alice Doyard.