You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Kisah penjual bakso perlente dari Cilincing di Jakarta
Baron si penjual bakso perlente biasa mengenakan setelan jas bak pejabat saat menjajakan bakso di tengah teriknya Jakarta Utara.
Cuaca di sekitar Cilincing hampir selalu panas terik, Namun Sugiyo, atau akrab disapa Bang Baron, tetap mengenakan setelan jas, lengkap dengan kacamata hitam dan peci bak pejabat.
“Saya bukan penghulu, bukan pula pejabat, saya adalah penjual bakso,” kata Baron.
Dia menamakan dagangannya dengan ‘Bakso Perlente Bang Baron’.
Gerobak bakso yang ia parkir tepat di depan rumahnya itu selalu disesaki para pembeli.
Kebanyakan pembeli merupakan para ibu yang tinggal di sekitar rumahnya di Cilincing, Jakarta Utara.
Baron menyajikan ragam bakso daging, mulai dari bakso isi telur puyuh, hingga isian urat.
Panasnya Cilincing ditambah golak kuah bakso panas di panci besar gerobaknya sesekali membuat bulir keringatnya merembes pada peci yang ia kenakan.
“Pakai jas memang panas, tetapi ini cara untuk menarik pelanggan, mereka suka penampilan penjual yang rapi, mereka suka pelayanan yang baik,” terang Baron.
Benar saja, pelanggan datang tak sekadar untuk makan. Mereka berinteraksi dan bergurau. Seperti Afni, seorang ibu yang tinggal di dekat kontrakan Baron.
“Awalnya aneh melihat dia pakai jas, tapi lama-lama jadi terbiasa karena memang dia sering mengeluarkan canda,” kata Afni.
Meski terlihat bercanda, pria berusia 45 tahun itu serius menggeluti bisnisnya. Tiga tahun terakhir, gerobaknya selalu dicari para pelanggan karena Baron kerap berpindah-pindah.
Dia sempat membuka gerai baksonya di kampungnya, Brebes, Jawa Tengah. Namun, pada 2026 ini, sudah tiga bulan berjualan kembali di Cilincing, Jakarta Utara. Istri dan anak-anaknya yang meneruskan dagangannya di Brebes.
Karena beberapa kali pindah tempat berjualan, Baron memanfaatkan TikTok untuk mengunggah keberadaannya sekaligus siaran langsung.
Dengan begitu, pelanggan dapat memantau keberadaan Baron dan menghampirinya untuk semangkok bakso kuah panas dan sambal pedasnya.
Baron mengaku, hampir tidak ada waktu untuk istirahat. “Saya tidur hanya dua jam dalam sehari,” katanya.
Waktunya habis untuk memasak, belanja bahan, dan berjualan bakso. Namun, kerja kerasnya itu berbuah manis. Baron mengaku sekitar 300 porsi bakso habis dalam sehari.
Produser video: Silvano Hajid