You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Tembakan tank Israel penyebab seorang prajurit TNI di Lebanon meninggal, kata PBB
Penyelidikan awal PBB menemukan kematian prajurit TNI bernama Farizal Rhomadon disebabkan tembakan tank Israel di Lebanon, pada 29 Maret lalu.
Adapun kematian dua prajurit TNI bernama Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan di Lebanon pada 30 Maret lalu disebabkan alat peledak rakitan yang kemungkinan dipasang Hizbullah.
"Ini adalah temuan awal, berdasarkan bukti fisik awal," sebut PBB dalam surat elektronik kepada BBC, pada Selasa (07/04).
PBB menambahkan, seluruh proses penyelidikan masih berlangsung dan meliputi keterlibatan pihak-pihak terkait.
PBB juga menyebut insiden-insiden tersebut "tidak dapat diterima" karena dapat tergolong sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.
PBB mengatakan telah meminta agar kasus-kasus tersebut diselidiki dan dituntut otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan.
Sebanyak tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL) meninggal dunia dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan pada 29 dan 30 Maret.
Panglima TNI, Jendral Agus Subiyanto, memastikan semua korban mendapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB).
Bagaimana rincian investigasi awal?
Dalam surel yang diterima BBC, UNIFIL memaparkan lebih rinci temuan sementara mereka atas insiden pada 29 dan 30 Maret.
Insiden ini "telah merenggut nyawa tiga penjaga perdamaian kami yang pemberani dari Indonesia, Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon".
"Kami telah membagikan temuan awal ini kepada pemerintah Indonesia, serta kepada Israel dan Lebanon," tulis surel dari UNIFIL kepada BBC, Selasa (08/04).
- Insiden 29 Maret
Berdasarkan bukti yang ditemukan, termasuk analisis lokasi dampak dan pecahan proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut adalah amunisi 120 mm dari meriam tank.
Proyektil ini ditembakkan sebuah tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, ke arah Ett Taibe, tulis UNIFIL.
"Perlu diingat bahwa, untuk mengurangi risiko terhadap personel Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNIFIL telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret".
- Insiden 30 Maret
Berdasarkan bukti yang tersedia—termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta temuan alat peledak rakitan (improvised explosive device/IED) kedua di sekitar lokasi pada hari yang sama—ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban melalui kawat atau tali tipis (tripwire) yang dipasang secara tersembunyi dan diaktifkan oleh suatu pergerakan.
"Penyelidikan menilai bahwa, berdasarkan lokasi insiden, sifat ledakan, dan konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah," tulis surel UNIFIL.
Baca juga:
Dua insiden pada 29 Maret dan 30 Maret juga melukai sejumlah prajurit TNI.
Insiden pada 29 Maret mencederai tiga prajurit, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Insiden pada 30 Maret melukai dua prajurit, yakni Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
Ada pula insiden 3 April yang mencederai tiga prajurit TNI. Namun, belum diketahui penyebab insiden ketiga itu.
UNIFIL menegaskan bahwa hasil penyelidikan insiden 29 dan 30 Maret "adalah temuan awal".
"Proses investigasi penuh oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih berlangsung, termasuk pelaksanaan prosedur yang diwajibkan serta keterlibatan dengan para pihak terkait untuk memahami secara menyeluruh konteks dan keadaan insiden tersebut di tengah berlanjutnya permusuhan. Selain itu, Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur PBB yang telah ditetapkan," jelas UNIFIL.
Dalam pesan terakhir, kelompok pasukan perdamaian di bawah PBB ini kembali mengutarakan duka cita terdalam kepada "keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan kepada pemerintah Indonesia".
"Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus ini diselidiki dan dituntut oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian".
"Serangan terhadap penjaga perdamaian PBB dapat merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional. Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian setiap saat. Kekebalan instalasi Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dihormati".
Eskalasi terus terjadi
Gempuran di wilayah Lebanon selatan terus terjadi.
Pada Selasa (07/04), sebuah konvoi bantuan kemanusiaan yang diorganisasi kedutaan Vatikan harus berbalik arah saat menuju Kota Debel, kata seorang pastor di kota itu kepada kantor berita Reuters.
Kota yang terletak di Lebanon selatan dekat perbatasan dan didominasi warga Kristen ini dalam kondisi terkepung.
Di hari yang sama, pasukan penjaga perdamaian UNIFIL—Pasukan Interim PBB di Lebanon—mengatakan militer Israel telah memblokir sebuah konvoi logistik UNIFIL dan sempat menahan salah satu penjaga perdamaiannya.
Seorang juru bicaranya, Kandice Ardiel, mengatakan penahanan terhadap seorang penjaga perdamaian PBB merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Di sisi lain, militer Israel telah memberi tahu UNIFIL bahwa mereka mengklaim telah membuka penyelidikan atas masalah tersebut.
Artikel ini akan terus diperbarui.