You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Kantor polisi palsu Australia, China, dan Brasil: BBC masuk ke dalam kompleks penipuan di Kamboja
- Penulis, Jonathan Head
- Peranan, Koresponden BBC di Asia Tenggara
- Penulis, Lulu Luo
- Penulis, Thanyarat Doksone
- Melaporkan dari, O Smach, Cambodia
- Waktu membaca: 8 menit
Setiap pintu di bangunan enam lantai di belakang kasino Royal Hill, seolah membawa kami ke dunia yang berbeda. Di salah satu ruangan terdapat replika kantor cabang bank Vietnam. Di ruangan lain, kami seakan berada di kantor polisi Australia.
Sebuah seragam polisi China tergantung di salah satu sudut. Pesan-pesan motivasi dilukiskan di dinding. "Uang Datang Dari Segala Arah," demikian bunyi huruf China pada salah satu papan. Uang palsu seratus dolar berserakan di lantai.
Ini adalah kompleks penipuan berskala besar di Kota O Smach, Kamboja. Ribuan orang dari berbagai negara bekerja di kota yang dekat dengan perbatasan Thailand itu. Mereka tunduk pada sindikat yang menipu ribuan orang lain di seluruh dunia.
Pada Desember 2025, Royal Hill dibom oleh Angkatan Udara Thailand dalam perang perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Militer Thailand mengatakan drone Kamboja diluncurkan dari kasino tersebut.
Saat gempuran berlangsung, para pekerja melarikan diri, meninggalkan mangkuk mi yang belum dimakan dan kaleng minuman bersoda yang setengah habis. Baunya kini begitu menyengat.
Saat ini, Royal Hill tidak berpenghuni selain tentara Thailand yang mendudukinya.
Jendela-jendela pecah akibat pengeboman. Di beberapa tempat lubang besar menganga pada dinding dan atap. Debu melapisi segalanya.
Militer Thailand membawa kami ke sana karena mereka ingin dunia melihat betapa besarnya industri penipuan yang telah berkembang di Kamboja. Mereka mengaku memerlukan bantuan internasional untuk menutup wabah ini. Namun ini juga berfungsi sebagai pembenaran atas serangan udara Thailand ke wilayah Kamboja pada Desember 2025.
Pemerintah Kamboja telah memprotes pendudukan wilayahnya oleh Thailand, tetapi pihak Thailand berargumen bahwa berdasarkan gencatan senjata, kedua pihak sepakat mempertahankan pasukan di posisi mereka saat pertempuran berhenti.
Yang luar biasa dari Royal Hill bukan hanya ukurannya, tetapi juga kenyataan bahwa hampir tidak ada yang tahu mengenai keberadaannya sampai Thailand mengambil alih.
Kasino O Smach telah muncul dalam pemberitaan media tentang para pekerja sindikat penipuan yang melarikan diri dan mengaku disiksa selama bekerja di sana.
Pemiliknya, Ly Yong Phat, adalah salah satu taipan paling terkenal di Kamboja. Dia dikenal karena punya hubungan dekat dengan klan Hun yang berkuasa. Saat ini klan tersebut dipimpin oleh mantan perdana menteri Hun Sen.
Ly Yong Phat telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain atas dugaan perannya dalam perdagangan manusia dan penipuan daring.
Namun pemilik Royal Hill, Lim Heng, sengaja tidak ingin terkenal. Dia tidak pernah muncul dalam daftar sanksi internasional, meskipun seperti Ly Yong Phat, dia juga dianugerahi gelar bergengsi Neak Oknha oleh Hun Sen. Gelar itu menjadikannya bagian dari elite Kamboja yang hanya berjumlah beberapa ratus orang. Namun, gelar itu mengharuskannya menyumbang setidaknya US$500.000 (Rp8,5 miliar).
Satu-satunya hal yang sedikit tidak lazim tentang dirinya adalah kebiasaannya memberi penghormatan di lokasi kremasi pemimpin Khmer Merah, Pol Pot, yang terletak dekat kasino lainnya di perbatasan dengan Thailand.
Baca juga:
Sebagian besar konglomerat Kamboja menjadi kaya dengan memperoleh lahan luas melalui hubungan mereka dengan keluarga penguasa setelah perang saudara Kamboja berakhir pada 1991.
Awalnya mereka menghasilkan uang dari pembalakan liar dan perkebunan, lalu mendapat keuntungan dari ledakan properti spekulatif di kota-kota yang didorong oleh investor China.
Di wilayah perbatasan seperti O Smach, kasino merupakan bisnis paling menguntungkan karena memanfaatkan larangan perjudian di negara-negara tetangga seperti Thailand dan China.
Pemerintah Kamboja telah menerbitkan sekitar 200 lisensi kasino selama tiga dekade terakhir. Hal ini menarik sindikat kejahatan China, yang juga menjalankan bisnis perjudian daring dan menguntungkan dari kasino-kasino tersebut. Namun pada 2019, di bawah tekanan dari China, Hun Sen melarang perjudian daring.
Setelah itu datang pandemi Covid, yang menghentikan perjalanan lintas batas. Sindikat-sindikat itu lantas beralih ke penipuan daring, memikat pekerja muda dari seluruh dunia dengan tawaran gaji menarik. Sebagian tahu mereka akan melakukan penipuan. Yang lain mengira akan mengerjakan pekerjaan administrasi atau pemrograman komputer. Sedikit yang menyadari, sampai mereka tiba di kompleks tersebut, betapa kerasnya kondisi yang akan mereka hadapi.
Di Royal Hill kami melihat dokumen berbahasa China, yang diselamatkan dari puing-puing. Dokumen itu merinci hukuman terhadap pekerja yang gagal memenuhi target.
Kegagalan mendapatkan sebuah "lead"—alias memulai membangun hubungan daring dengan korban—dikenai lima kali cambukan. Seorang pekerja yang gagal mendapatkan lead apa pun setelah tiga hari menerima minimal 10 kali cambukan.
Gagal berbagi barang pribadi yang intim seperti foto untuk membangun kepercayaan dengan korban, mengakibatkan hukuman serupa.
"Sebagian orang disetrum. Sebagian dimasukkan ke dalam ruang hitam. Mereka memiliki ruangan yang disebut Ruang Hitam, tempat penyiksaan mengerikan terjadi," kata Wilson, seorang pria muda asal Uganda yang direkrut untuk bekerja di Royal Hill pada Agustus 2025.
Wilson mengira direkrut untuk bekerja sebagai staf pemasaran digital di Malaysia. Kami berbicara dengannya di ibu kota Kamboja, Phnom Penh, tempat ia kini dilindungi oleh sebuah lembaga amal sembari berusaha menemukan cara untuk kembali ke Uganda.
Dia mengaku dipaksa bekerja 15 atau 16 jam sehari, mengikuti skrip yang disusun oleh atasan mereka dari China, dan menggunakan AI untuk mengubah suara dan penampilan.
"Saya diharuskan memerankan karakter seorang perempuan berusia 37 tahun, kaya, dan yang menginginkan suami. Saya mengobrol dengan para pria Amerika yang lebih tua dengan tujuan membuat mereka berpikir saya telah jatuh cinta pada mereka. Jadi, dalam skrip itu, ada titik di mana saya mematahkan mereka secara emosional. Saya membangun kepercayaan, lalu kemudian saya bisa memikat mereka untuk membeli produk-produk itu."
Baca juga:
Wilson mengatakan mereka dipaksa terus bekerja, bahkan saat Thailand melancarkan pengeboman.
"Setiap kali kami mendengar bom—bangunan terkadang berguncang—kami berlari keluar. Kami ketakutan. Tetapi kemudian kami harus kembali masuk dan bekerja lagi."
Kami melihat dokumen yang menguraikan skenario penipuan serupa, dalam berbagai bahasa, untuk membangun kepercayaan dengan para korban dan meyakinkan mereka tentang "investasi" yang prospektif.
Ada juga daftar aturan bagi semua karyawan. Terdapat berbagai denda untuk keterlambatan. Pekerja perlu meminta izin untuk menggunakan toilet.
Kami juga melihat selembar kertas berjudul "Formulir Pendaftaran Keluar Karyawan", yang mencatat setiap kali istirahat toilet yang diambil setiap pekerja menjelang serangan Thailand. Bahkan formulir itu mencatat berapa lama waktu yang pekerja habiskan di kamar mandi.
Lalu bagaimana penipuan berlangsung?
Di sebuah ruangan terdapat replika kantor polisi Brasil. Di sebelahnya terdapat deretan bilik yang dilapisi busa peredam suara. Di atas meja terdapat catatan tulisan tangan dalam bahasa Portugis, yang mengingatkan para penipu tentang kiat-kiat yang harus mereka gunakan untuk memikat target-target mereka.
Ada surat panggilan palsu yang meyakinkan dari Kepolisian Sao Paolo. Surat itu tampaknya menuduh seorang individu melakukan pencucian uang, yang biasanya digunakan untuk menakut-nakuti korban agar mentransfer dana atau informasi rekening bank.
Selama bertahun-tahun pemerintah Kamboja mengabaikan sorotan internasional atas industri penipuan dan kejahatan di negara tersebut.
Laporan Departemen Luar Negeri AS pada 2025 tentang perdagangan manusia menuduh pemerintah Kamboja gagal melakukan upaya signifikan untuk memberantas sindikat penipuan karena pemerintah Kanboja tidak pernah menangkap atau menuntut operator atau pemilik kompleks penipuan yang dicurigai.
Ketika AS menjatuhkan sanksi terhadap Ly Yong Phat pada September 2024 atas keterkaitannya dengan penipuan dan kerja paksa, Partai Rakyat Kamboja yang berkuasa sekaligus tempat sang taipan menjadi tokoh senior, menuntut agar sanksi tersebut dicabut seraya menuduh AS melanggar kedaulatan Kamboja.
Namun tahun ini pemerintah Kamboja tiba-tiba mengubah haluan setelah tekanan berkelanjutan dari AS, China, dan negara-negara lain untuk bertindak melawan penipuan.
Kepolisian Kamboja telah menggerebek puluhan kompleks penipuan yang dicurigai. Perdana Menteri Hun Manet mengumumkan bahwa industri tersebut akan sepenuhnya ditutup pada akhir April. Hun Sen juga mengatakan bahwa bisnis tersebut menghancurkan perekonomian dan reputasi Kamboja.
Langkah paling dramatis adalah penangkapan Chen Zhi, seorang pengusaha muda asal China yang dikenai sanksi oleh AS dan UK tahun lalu dengan tuduhan menjalankan jaringan perusahaan yang didanai oleh penipuan. Dia diekstradisi ke China pada Januari tahun ini.
Baca juga:
Chen Zhi telah membeli kewarganegaraan Kamboja dan naik menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di negara tersebut, sebagai penasihat pribadi Hun Sen. Prince Group miliknya mempunyai sebuah bank nasional, maskapai penerbangan, dan usaha properti. Selama bertahun-tahun ia tampak tak tersentuh.
Namun ketika Chen Zhi ditangkap, rekaman video memperlihatkan dia berkerudung dan diborgol, diseret turun dari pesawat yang membawanya ke China, tempat ia menunggu persidangan atas tuduhan mengoperasikan sindikat perjudian lintas batas serta penipuan.
Perlakuan yang merendahkan ini mengirimkan sinyal bahwa tokoh-tokoh berprofil tinggi dalam industri penipuan mungkin dikorbankan untuk menyelamatkan reputasi Kamboja.
Pemerintah Kamboja baru-baru ini juga mengekstradisi Li Xiong, ketua Huione Pay, sebuah sistem pembayaran daring yang dituduh mencuci keuntungan dari kompleks penipuan.
Banyak dari kompleks penipuan di Kamboja kini dibiarkan kosong. Polisi mengatakan lebih dari 10.000 pekerja asing telah dipulangkan. Yang lain, seperti Wilson, masih berupaya mencari jalan pulang. Namun ada alasan mengapa khalayak bersikap skeptis terhadap klaim pemerintah Kamboja bahwa serangkaian langkah itu menandai berakhirnya penipuan di negara tersebut.
Penggerebekan kompleks penipuan diibaratkan seperti bermain pukul-tikus. Sangat mudah memindahkan para pekerja ke kompleks baru yang tidak diketahui keberadaannya. Bahkan ribuan orang diyakini memilih untuk tetap tinggal di Kamboja.
Selain Chen Zhi, belum satu pun konglomerat yang dituduh menampung kompleks tersebut di balik kasino mereka. Ly Yong Phat, Try Pheap, dan Kok An semuanya adalah tokoh kaya dan berkuasa yang telah dikenai sanksi di luar negeri, namun terus hidup nyaman di Kamboja.
Ironinya, Ly Yong Phat dan Kok An sebagai senator di Kamboja ikut serta dalam pemungutan suara untuk memberlakukan undang-undang baru, yang menurut pemerintah Kamboja akan menghukum keras orang-orang yang terlibat dalam penipuan.
Adapun Lim Heng, taipan yang membangun Royal Hill tidak pernah muncul dalam seluruh peliputan dan investigasi tentang bisnis penipuan di Kamboja—sampai tentara Thailand melintasi perbatasan dan merebut kasinonya.