Petaka di Labuhanbatu Utara - Petani sawit diburu, disiksa, dan dihajar hingga meregang nyawa

Kekerasan sawit

Sumber gambar, KontraS Sumatra Utara

Keterangan gambar, Korban kekerasan oleh petugas keamanan dan tentara di kawasan perkebunan sawit milik PT Agrinas Palma Nusantara berkumpul bersama KontraS Sumatra Utara.
    • Penulis, Faisal Irfani
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 16 menit

Empat petani sawit di Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, dianiaya oleh petugas keamanan PT Agrinas Palma Nusantara dan aparat yang terhubung dengan militer. Satu di antara empat korban meninggal dunia. Bagaimana kasus ini bermula? Dan mengapa kekerasan di perkebunan sawit senantiasa berulang?

Kepada BBC News Indonesia, seorang korban mengaku dipiting, dipukul di bagian perut, dan diancam dibunuh. Dia tak pernah tahu apa kesalahannya sehingga memperoleh perlakuan sedemikian rupa.

"Begitu setelah saya diadang sama petugas, dia meminta saya untuk jangan pergi ke mana-mana. Saya disuruh angkat tangan, dihantam perut saya sebanyak satu kali," terangnya.

Otoritas mengungkapkan motif pelaku kekerasan dipicu tudingan pencurian tandan buah sawit oleh keempat korban di lahan yang masuk konsesi PT Agrinas Palma Nusantara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengurusi perkebunan sawit. Tuduhan itu ditepis korban.

"Kami bekerja di kebun yang digarap sama masyarakat. Kami sama sekali tidak mencuri," tandasnya.

"Kami tak membawa sawit," imbuhnya.

Sementara kematian satu korban lainnya membikin anggota keluarga terpukul. Dia menyebut pelaku pembunuhan harus dihukum setimpal.

"Harapan kami, mudah-mudahan para pelaku diproses dan diadili. Biar bisa merasakan bagaimana sakitnya kami yang ditinggalkan orang tersayang," sebutnya.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pendamping korban dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatra Utara mendesak kepolisian mencari pelaku yang masih kabur. Keterangan korban menjelaskan pelaku kekerasan berjumlah enam orang.

Berdasarkan perkembangan terkini, baru empat yang "menyerahkan diri" serta ditahan.

Di luar itu, KontraS Sumatra Utara turut menekan bahwa pengusutan kepada salah satu pelaku—yang berlatarbelakang tentara aktif—harus dilangsungkan di peradilan umum mengingat korbannya adalah warga sipil. Pihak kepolisian sendiri mengaku telah melimpahkan berkas bersangkutan ke militer.

"Dilihat dalam konteks yang ada, ini bukan hanya kekerasan atau penganiayaan biasa yang menyebabkan orang meninggal dunia. Tapi, kami melihat ada indikasi percobaan pembunuhan," tukas perwakilan KontraS Sumatra Utara.

Pegiat di Sawit Watch, organisasi nirlaba yang fokus pada dampak-dampak negatif dari sistem perkebunan sawit skala besar, menuturkan akar penyebab kekerasan atas petani kecil ialah ketimpangan penguasaan lahan.

Perkebunan sawit di Indonesia, menurutnya, dimiliki aktor-aktor ekonomi kelas kakap. Sedangkan masyarakat lokal sendiri kerap terpinggirkan.

Korporasi melindungi betul kepentingan kapitalnya, tidak terkecuali ketika menangkap para petani kecil yang diklaim melangkahi batas konsesi—serta menuduh mereka mencuri buah sawit.

"Ditambah lagi negara memang tidak mempunyai suatu mekanisme yang efektif berkenaan dengan penyelesaian konflik dan kekerasan di lahan sawit," ujarnya.

"Jadi, yang muncul yakni [kekerasan] selalu berputar dan berulang. Kejadian di Sumatra Utara bukan satu-satunya. Hampir semua wilayah perkebunan sawit [di Indonesia] sama."

BBC News Indonesia merekonstruksi peristiwa tragis di Labuhanbatu Utara dengan sudut pandang dari korban.

Deskripsi dalam kronologi di bawah ini memuat informasi yang eksplisit terkait tindak kekerasan.

Sutomi

Matahari masih berada di atas kepala saat Sutomi pergi ke kebun sawit yang sehari-hari dia bekerja di sana, Selasa, 16 Juni 2026.

Lelaki berusia 31 tahun ini berangkat bersama tiga orang kawannya: Luis David Hutabarat, Jhoni, serta Doni Ramadan. Menaiki sepasang kereta—sebutan warga untuk kendaraan roda dua—mereka berboncengan satu sama lain.

Kebun sawit tersebut biasa menjadi sumber pendapatan masyarakat di Desa Sukarame Baru, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, di mana Sutomi menetap. Pengelolaan kebun dilakukan oleh masyarakat dan berada di tengah-tengah wilayah konsesi PT Agrinas Palma Nusantara.

Siang itu, Sutomi hendak membersihkan lahan. Tak sampai matahari terbenam, Sutomi selesai membereskan tugasnya. Dia lalu memutuskan balik kanan. Sutomi duduk di belakang kemudi Doni. Luis dengan Jhoni.

Sutomi tak berpikir macam-macam. Dalam benaknya, dia sebentar lagi akan berjumpa keluarga di rumah yang menanti kepulangannya.

Ternyata Sutomi salah besar.

Di tengah jalan, saat melintasi area perkebunan PT Agrinas Palma Nusantara, lima orang dengan tiga kendaraan yang digeber kencang mengejar rombongan Sutomi.

Mereka adalah petugas keamanan PT Agrinas Palma Nusantara yang beridentitas Koi Musda Harianja, Uyung Simanjuntak, Jansen Panjaitan, Ilham FK, serta Buana Delly.

Nama terakhir tercatat bepredikat tentara dengan pangkat sersan mayor.

Satu motor lantas menyalip dan mengadang di depan Sutomi. Mereka dipaksa berhenti. Di sinilah petaka itu mulai terjadi.

"Kami dibilang jangan ke mana-mana," cerita Sutomi kepada BBC News Indonesia, Senin (29/06).

"Dan kami pun juga diancam sama mereka ini."

Kalau kau berani melawan, aku matikan kau nanti, gertak Buana.

Melihat situasi itu, Luis dan Jhoni segera melarikan diri. Posisi mereka agak mendahului Sutomi yang membuat geraknya lebih leluasa. Tatkala mereka hendak beranjak, Buana berteriak seraya menyodorkan parang.

Sini kau turun, Luis. Maen [duel bertarung] kita. Kubunuh kau!

Kekerasan sawit

Sumber gambar, KontraS Sumatra Utara

Keterangan gambar, Gancu yang dipakai untuk menyiksa korban.

Luis serta Jhoni perlahan lenyap dalam bayangan. Di lokasi yang sama, Sutomi dan Doni tertahan. Keduanya beradu dengan kecemasan. Sutomi sempat mempertanyakan mengapa mereka diringkus.

Kami tak salah apa pun. Kami tak bikin masalah.

Belum selesai Sutomi meluncurkan kalimat, Jansen membungkamnya. Sutomi didesak diam. Tak lama, tubuhnya merasakan cengkeraman yang teramat kuat. Sutomi dipiting.

"Ketika saya siap dipiting, datang yang tentara itu. Dia meminta saya angkat tangan," jelasnya.

"Saya kemudian dipukul di bagian perut."

Tak sekadar perut, tangan sebelah kiri Sutomi dihajar dengan gancu—alat bantu angkat sawit yang terbuat dari besi serta ujungnya melengkung tajam. Wajah, tepatnya di bibir, juga kaki kanannya, tak ketinggalan kena sikat.

Sutomi sempat memohon ampun supaya penyiksaan yang dialaminya berhenti. Harapan Sutomi bak angin lalu.

Di samping Sutomi, berdiri Doni yang tak luput dari terjaman kekerasan oleh Koi serta Uyung. Dia ditendang dan bahunya digebuk memakai gancu. Punggung kanannya lebam sekaligus luka-luka.

Teror mereda usai Doni maupun Sutomi terlihat kian ringkih menanggung pukulan demi pukulan.

"Barulah kami setelah itu diborgol. Waktu tangan saya diborgol, saya dipukul lagi. Saya lalu bersiap dibawa ke tempat tinggal petugas PT Agrinas," tukas Sutomi.

Kekerasan sawit

Sumber gambar, Muhammad Fadli/Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar, Area perkebunan sawit dipotret dari atas.

Belum tiba di titik yang dituju, Sutomi menemukan motor Luis tergeletak di pinggir jalan. Tak ada orang. Di situ, terdapat satu kendaraan lainnya.

Sutomi tidak tahu siapa pemilik motor tersebut. Namun, gerombolan petugas keamanan serta tentara yang mengadang Sutomi serta Doni menunjukkan gelagat sebaliknya.

Motor itu diketahui kepunyaan purnawirawan TNI bernama Budiono yang diberi wewenang mengoordinasi pengamanan di lahan sawit PT Agrinas Palma Nusantara.

Sejumlah pelaku penganiayaan lantas mencari keberadaannya dengan memanggil nama pensiunan tentara bersangkutan. Panggilan tersebut direspons. Mereka menyambangi sumber suara.

Tepat di hadapannya, Sutomi memandangi tubuh Luis yang sudah terkapar di tanah. Budiono berdiri tak jauh dari Luis.

"Dia [Luis] terbaring lemas. Tidak bergerak," aku Sutomi.

Tiba-tiba, Buana mendekati badan Luis dan mengarahkan kakinya ke leher Luis. Luis diinjak.

"Pelaku ini, yang dari tentara, sambil bilang menuduh Luis pura-pura lemas, pura-pura tak bergerak," tambahnya.

Alah, pura-puranya si Luis ini.

Berselang sebentar, para pelaku, termasuk Budiono, meninggalkan Luis sendirian dalam kondisi tak berdaya. Sutomi serta Jhoni pun diangkut bersama mereka ke arah kantor pegawai PT Agrinas Palma Nusantara.

Tangan Jhoni dan Sutomi masih terikat besi, seolah status mereka ialah kriminal.

Di mana Doni Ramadan dan bagaimana nasib Luis kemudian?

Desi Nainggolan

Desi Natalia Nainggolan mulanya melakukan rutinitas seperti biasa pada sore hari di 16 Juni 2026. Desi sedang berada di terminal sawit yang dikenal warga dengan "zona penimbangan."

Di antara kesibukan mengambil dan menaikkan sawit, Desi menyaksikan Sutomi lewat tak jauh dari tempatnya berdiri. Sutomi membonceng motor bersama Jansen dalam posisi sudah diborgol.

Mengekor di belakang Sutomi, sosok Doni menyeruak ke permukaan. Keadannya sama seperti Sutomi. Dia naik kendaraan dengan Ilham.

Jansen serta Ilham adalah petugas keamanan di PT Agrinas Palma Nusantara.

Desi mengenal Sutomi dan Doni sebagai teman suaminya, Luis. Menyaksikan mereka diborgol tak pelak membikin Desi diselimuti firasat buruk ihwal nasib Luis. Desi sebelumnya mengetahui bahwa Luis, bersama tiga kawannya, punya agenda untuk membersihkan kebun.

Perasaan Desi semakin tak karuan selepas berseliwernya kabar yang menginformasikan terjadinya keributan melibatkan warga serta petugas keamanan. Desi mulai menghubungkan antara situasi satu dengan lainnya.

Kekerasan sawit

Sumber gambar, KontraS Sumatra Utara

Keterangan gambar, Sutomi menunjukkan lukanya akibat penganiayaan.

Tanpa pikir panjang, Desi meminjam kereta seseorang pekerja di terminal dan menelusuri eksistensi suaminya.

Di jalan, tepatnya di sebuah persimpangan, dia menjumpai motor yang Luis bawa tergolek begitu saja. Jarak dari penimbangan sawit ke titik tersebut sekitar satu kilometer.

Desi pun langsung mematikan mesin kendaraannya. Dia masuk ke arah dalam kebun yang bersampingan dengan persimpangan.

Desi mencari dan terus mencari.

Pencarian Desi berakhir usai mendapati suaminya terkapar. Lidah Luis menjulur keluar, selain luka lebam di pipi kiri.

Desi terkejut. Dia segera mengecek tubuh Luis. Denyut nadinya tak berdetak. Luis tak bernapas. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

Luis meninggal dunia.

Desi berteriak meminta pertolongan. Tak ada yang menyaut. Desi menangis sekeras mungkin.

Selang tak sampai setengah jam, muncul Jhoni yang sebelumnya memboncengkan Luis.

Jhoni memberitahu Desi bahwa cerita bagaimana Luis bisa terbaring tanpa nyawa diawali dengan pengadangan yang dilakukan oleh purnawirawan TNI, Budiono.

Ketika kabur dari gerombolan Buana, Jhoni dan Luis bersua Budiono di perjalanan. Budiono menabrak kendaraan yang dinaiki keduanya. Mereka jatuh. Jhoni serta Luis sempat berdiri dan berupaya lari. Budiono mengejarnya. Luis memerintahkan Jhoni agar merekam peristiwa pengejaran terhadap mereka.

Pada akhirnya, Luis gagal menghindari kejaran Budiono. Budiono berhasil menangkap Luis. Luis dipiting lehernya.

Dalam situasi demikian, Luis memanggil nama Jhoni serta Desi, mengharap diselamatkan. Jhoni, yang menyaksikan Luis dihajar, balik badan dan memutuskan untuk membantu.

Langkah Jhoni pupus selepas Budiono mengeluarkan parang serta mengarahkan benda tajam tersebut ke dirinya. Sebab takut, Jhoni bersembunyi dan bergegas menghimpun bantuan.

Begitu dia kembali ke tempat kejadian perkara, Luis telah meninggal. Dia bertemu Desi yang menangis keras seraya memeluk suaminya.

Kekerasan sawit

Sumber gambar, KontraS Sumatra Utara

Keterangan gambar, Salah satu rumah pekerja Agrinas Palma sehabis dibakar massa yang marah atas kematian Luis.

Kematian Luis, juga tindak ancaman maupun penganiayaan yang diterima Sutomi, Doni, dan Jhoni, seketika melahirkan amarah meluas di kalangan masyarakat Desa Sukarame.

Warga berbondong-bondong menyambangi lokasi Luis ditemukan meninggal. Mereka ingin membalas perilaku aparat keamanan PT Agrinas Palma Nusantara.

Niat masyarakat tak kesampaian. Empat orang, Buana, Budiono, Ilham, serta Koi, disebut menyerahkan diri ke Polsek Kualuh Hulu. Sementara dua sisanya, Jansen dan Uyung, kabur.

Kemurkaan warga Desa Sukarame tidak mereda. Malam hari, masih di tanggal yang sama, 16 Juni 2026, mereka menyambangi kawasan rumah pekerja milik PT Agrinas Palma Nusantara. Tiga rumah dibakar massa.

Kobaran api melumat rumah-rumah tersebut tanpa sisa. Sementara asapnya yang hitam pekat mengepul ke atas.

Nyawa yang bertumbangan

Kasus kekerasan kepada petani sawit tidak sekali terjadi, merangkum bagaimana sektor ini menjadi medan penuh darah sekaligus konflik.

Pada 2020, misalnya, manakala konflik lahan sawit yang menyeret warga di Desa Pagar Batu, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, dengan PT Artha Prigel meletus, sebanyak empat petani mengalami luka-luka serta hilang nyawa lantaran aksi represif.

Kepolisian menetapkan seorang petugas keamanan perusahaan sebagai tersangka.

Konflik petani dengan perusahaan berlangsung sejak 1993, bertepatan dimulainya operasional perkebunan sawit. Masyarakat menilai perusahaan bergerak tanpa izin resmi. Perusahaan disebut baru mengurusnya—berupa Hak Guna Usaha (HGU)—satu dekade berselang.

Dari Sumatra Selatan, kekerasan sejenis dijumpai di Boven Digoel, Papua Selatan, saat salah seorang warga bernama Marius Betera meninggal tak lama usai dihajar anggota polisi berpangkat brigadir.

Awalnya, Marius menyambangi kantor perusahaan sawit PT Tunas Sawa Erma—anak usaha dari PT Korindo Group—dalam rangka protes perihal penggusuran kebun pisang kepunyaannya.

Bukan klarifikasi yang Marius peroleh, melainkan pukulan ke badannya oleh personel kepolisian.

Buntut dari insiden itu, Marius jatuh sakit dan mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.

Kemudian di Desa Segar Wangi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 2022, tiga petani terkena bogem mentah sekaligus terjangan peluru hampa dari aparat Brigade Mobile (Brimob) Polri yang berjaga di perkebunan sawit PT Arrtu Plantation.

Insiden ini lahir ketika ketiganya sedang memanen sawit di lahan yang melekat Sertifikat Hak Milik (SHM). Oleh perusahaan, tindakan mereka termasuk pencurian sebab lahan tersebut diklaim bagian dari izin operasional.

Di tengah rehat dari kegiatan panen, pihak perusahaan menyambangi mereka, membawa puluhan aparat gabungan berisikan Brimob dan Babinsa. Petani diminta menghentikan aktivitasnya.

Eskalasi meningkat serta berpuncak pada penganiayaan sekaligus tembakan peluru kosong.

Konflik lahan antara petani dan perusahaan berangkat dari 1991 tatkala perusahaan dituduh mencaplok lahan yang sudah dikelola warga jauh sebelum izin perkebunan sawit dikeluarkan.

Sawit

Sumber gambar, Sutanta Aditya/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Petani memegang buah sawit di Aceh.

Setahun setelahnya, 2023, di Desa Bangkal, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, warga beridentitas Gijik tewas ditembak aparat dengan timah panas dalam kecamuk konflik di konsesi perkebunan sawit.

Di luar yang meninggal, peluru turut mengenai pembuluh darah dan saraf warga lainnya, Doris Sylvanus. Penangkapan besar-besaran juga pecah menyasar puluhan orang.

Insiden ini dianggap menjadi puncak gesekan selama belasan tahun dengan perusahaan sawit PT Hamparan Masawit Bangun Persada.

Masyarakat menegaskan perusahaan tak pernah menepati janji alokasi lahan plasma sebesar 20% yang diambil dari keseluruhan HGU.

Lahan plasma ialah mandat pemerintah yang ditujukan guna meningkatkan pengelolaan dan kesejahteraan warga di sekitar kawasan perkebunan sawit.

Kecewa, warga lantas menempuh blokade jalan akses masuk ke lahan sawit. Alih-alih ditanggapi melalui dialog atau perundingan, perusahaan diduga mengerahkan aparat kepolisian.

Sebelum peluru menembus dada Gijik, polisi lebih dulu melontarkan gas air mata demi membubarkan massa yang memprotes.

Di Pino Raya, Bengkulu, lima petani menderita luka tembak akibat kericuhan dengan pihak keamanan perusahaan sawit pada akhir 2025 lalu. Peristiwa bermula dari alat berat PT Agro Bengkulu Selatan yang disinyalir merusak tanaman petani. Masyarakat menyatakan perusahaan berulang kali melakukan pengrusakan.

Kelima petani mengalami luka di bagian dengkul, paha, rusuk, hingga betis.

Perkebunan sawit

Sumber gambar, Ulet Ifansasti/Getty Images

Keterangan gambar, Petani sawit sedang bekerja di perkebunan di Sumatra Utara.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menerangkan bahwa perkebunan sawit ialah sektor yang "paling banyak menyumbang konflik agraria di Indonesia."

Data yang mereka kumpulkan pada 2023, ambil contoh, menunjukkan tindakan represif serta kekerasan di wilayah operasi perkebunan sawit berandil dalam menyebabkan 252 orang terdampak.

Mayoritas dikriminalisasi, disusul dianiaya dan ditembak.

Pada 2025, masih mengacu laporan KPA, sektor perkebunan sawit tetap duduk di posisi puncak klasemen konflik agraria.

Kertas kerja berjudul Commodity Booms, Conflict, and Organized Crime: Logics of Violence in Indonesia's Oil Palm Plantation Economy (2020) yang dikerjakan Paul D. Kenny, Rashesh Shrestha, serta Edward Aspinall menemukan maraknya kekerasan di konsesi perkebunan sawit dipicu melonjaknya produksi kelapa sawit dan perluasan—ekspansi—perkebunan sawit.

"Kami berpendapat bahwa, khususnya dalam kasus kelapa sawit, kekerasan berkaitan langsung dengan aspek-aspek tertentu dari proses produksinya; karakteristik wilayah produksi yang luas dan minim pengawasan administratif serta keberadaan titik-titik krusial (choke points) dalam rantai pasoknya, terutama pada tahap pemanenan serta pengangkutan," tulis mereka.

Pertumbuhan produksi sekaligus ekspansi ini, ujung-ujungnya cuma menciptakan ketimpangan penguasaan lahan yang berakhir dengan kelahiran kekerasan demi kekerasan menargetkan para petani kecil, menurut Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo.

Definisi ketimpangan, sambung Surambo, berpijak pada dominasi negara maupun korporasi dalam konsesi perkebunan sawit. Masyarakat di tapak tidak memperoleh apa pun. Dengan luas lahan sawit yang amat besar, ruang partisipasi warga setempat seketika tertutup.

Lahan yang dulu dikerjakan warga, tiba-tiba diklaim menjadi bagian dari HGU perusahaan sawit. Masyarakat yang mengambil buah tandan sawit di "kebun komunal" diganjar tuduhan pencurian. Kewajiban penyediaan plasma pun, tak jarang, tidak dihiraukan.

Rekapitulasi data oleh Auriga Nusantara dan Wahana Lingkungan Hidup pada 2022 menjelaskan distribusi lahan sawit secara agregat sekira 92% terhubung dengan korporasi. Masyarakat hanya meraih 8% sisanya. Ketimpangan tersebut menyeruak di Kalimantan serta Sumatra.

Agar kepentingan kapitalnya tetap terjaga, pendekatan yang diambil seringkali berbasis "keamanan." Secara implementasi, artinya adalah penangkapan, pemenjaraan, dan—yang paling buruk sekalipun—penggunaan senjata mematikan.

"Ditambah lagi, negara memang tidak mempunyai mekanisme yang efektif berkenaan dengan penyelesaian kekerasan-kekerasan ini," papar Surambo kala diwawancarai BBC News Indonesia, Senin (29/06).

"Sehingga sudah timpang, tak ada mekanisme penyelesaian, jadilah kekerasan ini berputar dan selalu berulang."

Perkebunan sawit

Sumber gambar, Ulet Ifansasti/Getty Images

Keterangan gambar, Perkebunan sawit di Sumatra Utara.

Dalam perspektif lebih luas, Surambo memaparkan, selama negara tidak mengubah paradigma pengelolaan perkebunan sawit yang berkeadilan, ketimpangan penguasaan lahan bakal menuntun ke "pemiskinan struktural" bagi masyarakat lokal, gejala yang mana sudah terjadi.

"Dengan tidak dikasih kesempatan kepada masyarakat untuk mengurus kebun sawit mereka, negara tidak mengakui kehadiran mereka," tambahnya.

"Yang ada, masyarakat dibilang mencuri sawit. Padahal, menurut saya, mereka tidak mencuri. Kebanyakan lahan itu sudah diperjuangkan masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka membeli atau diwarisi. Tapi, negara tidak melihat itu."

Surambo berpandangan situasi ke depan diprediksi sulit untuk membaik. Pasalnya, yang pertama, pemerintah telah menggaungkan rencana ekspansi perkebunan sawit hingga 20 juta hektare dari Papua sampai Sumatra.

Lalu, yang kedua, pemerintah sudah menetapkan kebijakan pelibatan tentara dalam isu sawit. Presiden Prabowo, pada akhir 2024 lalu, berucap sawit adalah aset nasional sehingga wajib dilindungi keberadaannya. Maka dari itu, tentara diminta turun gunung menjaga perkebunan sawit.

Menerjunkan tentara dengan tujuan "pengamanan" di sektor-sektor strategis seperti sawit dianggap sejumlah organisasi sipil sebagai langkah yang keliru. Kehadiran tentara cuma akan melanggengkan praktik kekerasan.

Data KPA memperlihatkan sepanjang lima tahun belakangan, dari 2021 hingga 2025, kasus kekerasan TNI di wilayah konflik agraria senantiasa melonjak. Pada 2025, KPA mencatat terjadi 70 kasus kekerasan oleh TNI dalam penanganan konflik agraria—naik 89% ketimbang 2024.

Khusus di Sumatra Utara, di mana kekerasan dengan tentara menjadi pelakunya baru saja terjadi, ada setidaknya 18 korban sejenis lainnya yang ditemukan Kontras Sumatra Utara dalam kurun 2025 hingga 2026.

"Saya melihatnya pemerintah harus mengurus persoalan [kekerasan] ini secara utuh, sehingga pendekatannya tidak lagi selalu hukum, tapi juga pendekatan sosiologis, pendekatan dialog, sehingga mekanisme penyelesaiannya ideal," terang Surambo.

"Kalau pendekatan hukum yang terus dipakai, masyarakat akan membuat satu ingatan bahwa pemerintah tidak adil. Dan ini seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja."

Sirkulasi kekerasan di ruang yang sama

Sejauh ini, pelaku pengeroyokan dan penganiayaan berujung kematian Luis diklaim telah diproses oleh kepolisian.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan korban maupun keluarga korban kepada BBC News Indonesia, terdapat enam individu yang terlibat dalam tindak kekerasan tersebut. Namun, dari keseluruhan pelaku, kepolisian baru mengusut empat orang.

Tiga orang, Budiono, Ilham, dan Koi, diangkut ke Polres Labuhanbatu. Sedangkan untuk Buana, berkasnya sudah diserahkan ke militer karena statusnya yang tentara aktif. Jansen serta Uyung belum diketahui keberadaannya.

Pihak berwenang menyampaikan tengah mendalami peran masing-masing orang dalam kematian Luis. Mereka, baik kepolisian maupun militer, berkomitmen akan berlaku transparan serta menindak tegas sesuai hukum apabila terbukti bersalah.

Kasus kekerasan di area perkebunan sawit PT Agrinas Palma Nusantara memiliki riwayat yang tidak sedikit.

Sejak mengambil alih kewenangan dari PT Grahadura Leidong Prima pada Maret 2025, merujuk KontraS Sumatra Utara, peristiwa yang sama kerap terjadi dan menyebabkan 15 orang menjadi korban.

KontraS Sumatra Utara mendokumentasikan data ini dengan mengacu keterangan warga yang tergabung di dalam beberapa kelompok petani.

Para korban dituding mencuri tandan buah sawit yang dikelola PT Agrinas Palma Nusantara. Setelah dipukul, korban biasanya diminta menandatangani surat pernyataan yang menggarisbawahi luka-luka mereka diakibatkan jatuh, bukan penyiksaan oleh petugas keamanan.

Kepala Operasional KontraS Sumatra Utara, Adinda Zahra Noviyanti, mengungkapkan dalam kasus-kasus kekerasan yang melibatkan unsur keamanan di sektor perkebunan, tidak terkecuali sawit, yang paling dirugikan yaitu masyarakat sekitar.

Supaya kasus-kasus kekerasan tidak menambah sakit masyarakat, Adinda mendesak aparat penegak hukum membereskannya secara transparan. Dalam konteks peristiwa di PT Agrinas Palma Nusantara, misalnya, pelaku kekerasan dari militer semestinya dibawa ke peradilan umum.

"Ini bukan hanya kekerasan atau penganiayaan biasa, tapi kami melihat ada indikasi percobaan pembunuhan," ucap Adinda kala dihubungi BBC News Indonesia, Senin (29/06).

"Memastikan keadilan bagi korban agar terpenuhi itu semestinya menjadi fokus kepolisian."

BBC News Indonesia, pada Selasa, 30 Juni 2026, sudah mengirimkan konfirmasi ke PT Agrinas Palma Nusantara. Pihak PT Agrinas Palma Nusantara menjanjikan keesokan hari, Rabu, 1 Juli 2026, untuk membalas konfirmasi kami.

Saat kami tindaklanjuti, salah seorang staf di divisi komunikasi mengatakan respons atas upaya konfirmasi dari kami "masih menunggu persetujuan atasan." Kami pun mencoba menghubungi atasan yang dimaksud, meminta kepastian tanggapan. Sampai artikel ini tayang, tak ada balasan.

'Hancur hati saya'

Desi dan Luis saling bertemu pertama kali di Aek Kanopan, kota kecil yang sering disebut sebagai pusat aktivitas di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara. Dari perkenalan itu, keduanya memutuskan untuk menikah.

Pernikahan mereka melahirkan empat buah hati. Demi menyambung nasib, Luis serta Desi bekerja di perkebunan sawit.

Pendapatan yang mereka terima dari sawit, entah sebatas mengumpulkan, menimbang, dan menjualnya, dipandang cukup guna memenuhi keperluan sehari-hari. Kalau ada kelebihan, kemungkinan besar bakal ditabung.

Kekerasan sawit

Sumber gambar, KontraS Sumatra Utara

Keterangan gambar, Jalan menuju lokasi Luis dibunuh.

Baik Desi maupun Luis cuma ingin keluarganya hidup tenang, di samping keempat anaknya memperoleh jalan takdir yang penuh berkah.

Tapi, kematian Luis tak dimungkiri menghantam Desi sampai jatuh ke titik paling bawah.

Desi kecewa, marah, dan, yang utama, kehilangan sosok suami sekaligus ayah dari anak-anaknya.

Dia hanya mau mereka yang membunuh suaminya diganjar balasan setimpal.

"Hancur hati saya [dengan meninggalnya Luis]," tutupnya.

"Saya meminta keadilan dipenuhi dalam kasus ini."