You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
RS Pakistan di pusat wabah HIV pada anak tertangkap kamera menggunakan jarum suntik bekas
- Penulis, Ghazal Abbasi, Seamus Mirodan, dan Mohammad Zubair Khan
- Peranan, BBC Eye
- Melaporkan dari, Punjab, Pakistan
- Waktu membaca: 9 menit
Peringatan: Kisah ini memuat detail yang mungkin membuat pembaca merasa terganggu.
Mohammed Amin berusia delapan tahun ketika ia meninggal dunia tak lama setelah dinyatakan positif HIV.
Demamnya sangat parah sampai-sampai dia berkeras tidur di tengah hujan. Saat itu dia menggeliat kesakitan "seperti disiram minyak panas", kata ibunya, Sughra.
"Dia dulu sering bertengkar dengan saya, tapi dia juga mencintai saya," kata Asma, 10 tahun, saat ia berlutut di sisi makam adik laki-lakinya.
Tak lama setelah adiknya tertular virus tersebut, Asma juga didiagnosis HIV.
Keluarganya percaya kedua anak tersebut tertular dari jarum suntik yang terkontaminasi selama menjalani perawatan medis rutin di sebuah rumah sakit pemerintah di Taunsa, Provinsi Punjab, Pakistan. Mereka adalah dua dari 331 anak yang diidentifikasi BBC Eye dinyatakan positif HIV di kota tersebut antara November 2024 dan Oktober 2025.
Setelah seorang dokter di klinik swasta mengaitkan wabah tersebut dengan rumah sakit bernama THQ Taunsa pada akhir 2024, otoritas setempat menjanjikan "penindakan besar-besaran" dan menskorsing direktur medis rumah sakit itu pada Maret 2025. Namun investigasi BBC Eye kini mengungkap bahwa praktik suntikan berbahaya berlanjut berbulan-bulan kemudian.
Selama 32 jam merekam kegiatan di THQ Taunsa dengan cara menyamar pada akhir 2025, kami menyaksikan jarum suntik yang sama digunakan berulang pada botol-botol obat sebanyak 10 kali. Hal ini berpotensi mencemari obat di dalamnya.
Dalam empat kasus tersebut kami melihat obat dari botol yang sama diberikan kepada anak yang berbeda.
Kami tidak mengetahui apakah di antara anak-anak tersebut ada yang positif HIV, tetapi praktik ini jelas menciptakan risiko penularan virus.
Dr Altaf Ahmed, seorang ahli mikrobiologi konsultan dan salah satu pakar penyakit menular terkemuka di Pakistan, mengatakan setelah menonton rekaman video kami:
"Kalaupun mereka memasang jarum baru, bagian belakang suntikan memiliki virus di dalamnya, sehingga akan menular bahkan dengan jarum baru."
Meskipun ada poster di dinding rumah sakit yang menunjukkan cara menyuntik secara aman, kami merekam staf RS—termasuk seorang dokter—menyuntik pasien tanpa sarung tangan steril sebanyak 66 kali.
Seorang pakar lain mengatakan kepada kami bahwa rekaman video ini menyoroti kelemahan pelatihan pengendalian infeksi di Pakistan. Kami juga menyaksikan seorang perawat membongkar kotak pembuangan limbah medis tanpa sarung tangan steril.
"Dia melanggar setiap prinsip penyuntikan obat," kata Ahmed.
Namun ketika kami menunjukkan rekaman video tersebut kepada direktur medis rumah sakit itu, Dr Qasim Buzdar, ia menolak mengakui bahwa rekaman tersebut asli.
Dia mengklaim rekaman itu bisa saja direkam sebelum ia menjabat atau bahwa "rekaman ini juga bisa direkayasa", dan berkeras rumah sakitnya aman bagi anak-anak.
Dr Gul Qaisrani, seorang dokter di klinik swasta setempat, adalah orang pertama yang mendeteksi wabah tersebut pada akhir 2024 setelah melihat peningkatan jumlah anak yang datang ke kliniknya dan dinyatakan positif HIV.
Hampir semua dari 65 hingga 70 anak yang ia diagnosis pernah dirawat di THQ Taunsa, katanya.
Dr Gul mengingat seorang ibu yang mengatakan kepadanya bahwa putrinya disuntik menggunakan jarum yang dipakai menyuntik sepupunya yang hidup dengan HIV. Kemudian jarum tersebut digunakan pada beberapa anak lainnya.
Qaisrani mengatakan seorang ayah memberi tahu dia bahwa ia menantang praktik penggunaan ulang jarum suntik di THQ Taunsa tetapi diabaikan oleh para perawat.
BBC Eye telah menyatukan data dari program skrining AIDS Provinsi Punjab, klinik swasta, dan satu set data yang dibocorkan polisi untuk mengidentifikasi 331 anak yang dinyatakan positif HIV di Kota Taunsa antara November 2024 dan Oktober 2025.
Dari sampel 97 anak dengan HIV, yang keluarganya juga dites, hanya empat ibu dinyatakan positif HIV. Ini menunjukkan sangat sedikit dari kasus-kasus tersebut yang disebabkan penularan dari ibu ke anak.
Baca juga:
Ibu Mohammed Amin dan Asma, Sughra, dinyatakan negatif HIV—suaminya meninggal dua tahun lalu dalam kecelakaan lalu lintas. Data program skrining AIDS provinsi mencantumkan "jarum terkontaminasi" sebagai penyebab penularan pada setengah lebih dari 331 kasus tersebut, termasuk kasus Asma. Adapun kasus-kasus lainnya, penyebab penularan tidak dicantumkan.
Pemerintah Negara Bagian Punjab turun tangan pada Maret 2025, ketika jumlah kasus mencapai 106.
Direktur medis THQ Taunsa, Dr Tayyab Farooq Chandio, diskorsing.
Namun, BBC Eye dapat mengungkap bahwa dalam waktu tiga bulan ia kembali bekerja dengan anak-anak sebagai pejabat medis senior di sebuah pusat kesehatan pedesaan di pinggiran Taunsa.
Dr Chandio mengatakan kepada BBC Eye bahwa ia mengambil tindakan "segera" setelah diberi tahu tentang kasus HIV-positif di THQ Taunsa, tetapi ia mengatakan rumah sakit itu bukan penyebab wabah.
Dr Chandio digantikan oleh Dr Buzdar, yang mengatakan kepada BBC bahwa HIV adalah "fokus utama" saat ia menerima jabatan tersebut pada Maret 2025 dan bahwa ia memiliki kebijakan "tanpa toleransi" terhadap pengendalian infeksi yang tidak aman.
"Kami menyelenggarakan program pelatihan bagi paramedis dan perawat staf tentang cara mencegah dan mengalahkan HIV. Bagian terpenting adalah sesi pengendalian pencegahan infeksi. Mereka telah dilatih dengan baik," katanya.
Namun, bukti BBC Eye membuktikan bahwa praktik tidak aman berlanjut delapan bulan kemudian.
Rekaman video kami dari November dan Desember 2025, yang diambil selama beberapa pekan, menangkap spuit dan botol obat sering dibiarkan terbuka di samping jarum bekas di atas meja yang seharusnya tetap steril.
Sebagian besar anak yang kami lihat dirawat di THQ Taunsa diberi suntikan melalui kanula—sebuah tabung yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah—yang semakin meningkatkan risiko infeksi. Ketika masuk langsung ke aliran darah, obat yang terkontaminasi dapat melewati pertahanan alami tubuh.
Kami juga merekam seorang perawat mengambil spuit bekas dari bawah meja yang masih menyimpan cairan dari pasien terakhir. Alih-alih membuangnya, ia menyerahkannya kepada rekannya, tampaknya siap digunakan kembali pada anak lain.
Ketika kami menunjukkan rekaman video tersebut kepada Buzdar, ia berkeras rekaman itu diambil sebelum masa jabatannya atau telah direkayasa.
Ketika ditanya apa yang akan dia katakan kepada orang tua yang menonton rekaman ini, dia berkata:
"Saya bisa mengatakan kepada mereka dengan pasti, dengan penuh keyakinan, bahwa Anda harus menjalani perawatan di THQ Taunsa."
Dalam sebuah pernyataan, pemerintah setempat mengatakan bahwa "tidak ada bukti epidemiologis yang tervalidasi" dan "secara meyakinkan menetapkan THQ sebagai sumber" wabah tersebut.
Pernyataan itu menambahkan bahwa misi gabungan antara badan amal Unicef, Organisasi Kesehatan Dunia dan dinas kesehatan regional telah menyoroti "peran praktik swasta yang tidak diatur" dan "kontribusi transfusi darah yang tidak dipilah".
Namun BBC Eye telah menerima bocoran laporan inspeksi misi gabungan pada April 2025 terkait wabah di kota tersebut. Laporan itu menemukan banyak masalah yang sama seperti investigasi kami di THQ Taunsa.
"Kondisi sangat memprihatinkan terutama di ruang gawat darurat pediatrik," kata laporan itu. Ruangan itu adalah salah satu ruangan yang direkam BBC Eye.
"Obat-obatan pediatrik esensial tidak tersedia, dan praktik suntikan tidak aman umum terjadi. Cairan infus [intravena] digunakan kembali, kanula tidak diberi label, dan set infus bekas dibiarkan tergantung di penyangga. Kebersihan tangan diabaikan – wastafel tersumbat, dan tidak ada pembersih tersedia."
Dr Fatima Mir, profesor kedokteran anak di Aga Khan University Hospital di Karachi, mengatakan rekaman kami menyoroti kelemahan dalam pelatihan pengendalian infeksi di Pakistan.
"Kita harus memperingatkan para penyuntik: 'Anda telah menjadi instrumen aktif penularan penyakit.'"
Investigasi kami menunjukkan bahwa praktik tidak aman sebagian didorong oleh tekanan sistemik, termasuk ketergantungan dan preferensi budaya terhadap suntikan sebagai pengobatan.
Pakistan merupakan salah satu negara dengan tingkat suntikan terapeutik tertinggi di dunia, banyak di antaranya tidak diperlukan secara medis.
Anggota masyarakat umum memintanya, termasuk untuk anak-anak mereka, dan dokter dengan senang hati menurutinya, kata Mir.
"Mereka harus menetapkan ambang praktik suntikan sangat tinggi. Hanya berikan suntikan untuk penyakit yang mengancam jiwa. Untuk penyakit ringan hingga sedang, gunakan obat oral."
Kekurangan obat dan persediaan juga memicu praktik tidak aman. Permintaan suntikan dapat membebani sumber daya, yang dialokasikan di rumah sakit pemerintah melalui sistem kuota yang diawasi oleh direktur medis.
"Mereka memiliki jumlah persediaan tertentu dan diberi tahu bahwa mereka harus membuatnya cukup untuk sebulan penuh," kata Mir.
"Apakah mereka melihat jalan pintas itu berbahaya? Dan di mana uang seharusnya dibelanjakan?"
Selama perekaman penyamaran kami, kami menemukan bahwa persediaan sering hilang di bangsal, dan pasien yang mampu membeli paracetamol cair diminta membawa sendiri.
"Mereka membuat kami mempertanggungjawabkan setiap obat," kata seorang perawat.
Praktik yang didokumentasikan di THQ Taunsa mencerminkan praktik dalam wabah sebelumnya di tempat lain di Pakistan.
Pada 2019, ratusan anak di Kota Ratodero, Provinsi Sindh, dinyatakan positif HIV, sebagian besar dengan orang tua yang dinyatakan negatif.
Dr Imran Arbani selaku dokter anak setempat mengatakan kepada BBC bahwa ia menemukan riwayat kunjungan klinik berulang dan banyak suntikan dalam catatan medis mereka. "Jadi pasti ditularkan di salah satu dari lingkungan medis ini".
Pada 2021 jumlah anak setempat yang positif HIV meningkat menjadi 1.500 anak – dan bahkan hingga kini, infeksi baru masih terjadi.
Saat kami melakukan perekaman di Taunsa, sekelompok kasus dilaporkan di Karachi.
Di kawasan SITE Town, anak-anak yang dirawat di sebuah rumah sakit pemerintah setempat, Kulsoom Bai Valika Hospital, kemudian dinyatakan positif HIV.
Di antara mereka adalah Mikasha yang berusia dua tahun.
Seorang anggota keluarga mengatakan staf rumah sakit menggunakan jarum yang sama pada banyak anak:
"Mereka mengisi spuit yang sama dan memberikannya kepada satu anak, lalu mengisinya lagi dan memberikannya kepada anak lain," kata mereka kepada BBC Eye.
Direktur medis rumah sakit, Dr Mumtaz Shaikh, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa "dokter yang berkualifikasi tidak akan pernah menggunakan kembali" jarum suntik, "jadi kami tidak memiliki konsep hal semacam itu terjadi di rumah sakit pemerintah".
Namun, Menteri Kesehatan Pakistan telah mengonfirmasi secara terbuka bahwa wabah 84 kasus tersebut dipicu oleh penggunaan ulang jarum suntik yang terkontaminasi di rumah sakit itu.
Ketika kami menyampaikan temuan investigasi kami kepada pemerintah nasional, seorang juru bicara mengatakan pemerintah telah "bertindak cepat sesuai mandatnya untuk menyelidiki kekhawatiran [dan] menerapkan langkah-langkah pengendalian pencegahan infeksi", dengan pedoman yang dikirim ke fasilitas kesehatan pada Maret 2025.
Kembali di Taunsa, keluarga Asma mengatakan berat badannya menurun, dan kini ia menghadapi pengobatan seumur hidup.
Stigma yang terkait dengan HIV membuat tetangga sering melarang anak-anak mereka bermain dengannya, membuatnya terisolasi sekaligus sakit, kata keluarganya.
Ia bertanya kepada ibunya:
"Apa yang salah dengan saya?"
Berdiri di makam adiknya, Asma mengatakan ia merindukannya.
"Dia sekarang bersama Tuhan."
Dia mengatakan kepada BBC Eye bahwa ia belajar dengan giat di sekolah.
"Ketika saya dewasa," katanya, "saya ingin menjadi dokter."