Video pesta narkoba di Rutan Depok viral, petugas rutan diduga bantu sediakan narkoba

Ilustrasi: Petugas tengah menggeledah warga binaan di blok Rutan Kelas I Kota Depok pada Kamis (05/01/2023).
Keterangan gambar, Ilustrasi: Petugas tengah menggeledah warga binaan di blok Rutan Kelas I Kota Depok pada Kamis (05/01/2023).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 3 menit

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemen Imipas) mengakui ada sejumlah petugas rumah tahanan (rutan) Depok, Jawa Barat, yang diduga membantu menyediakan narkoba dalam pesta di dalam rutan tersebut.

Pengakuan ini disampaikan Irjen Kementerian Imipas, Rudi Setiawan, dalam jumpa pers resmi, Senin (05/10), setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan pesta narkoba di dalam Rutan Depok.

"Ada pegawai kami yang turut membantu menyediakan narkoba dan menyediakan alat-alat yang digunakan untuk berpesta," kata Rudi di kantornya, Jakarta, Senin (05/10).

Kementerian Imipas, demikian Rudi, berjanji akan mendalami temuan tersebut.

"Akan kami dalami dan pastikan kami jatuhkan hukuman," klaim Rudi.

Sejauh ini, sambungnya, pihaknya belum mendapat informasi yang utuh dari kantor wilayah (kanwil) setempat.

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah pria berada di sebuah ruangan. Narasi dalam video menyebut lokasinya di dalam Rutan Depok.

Tampak terlihat seorang pria memegang benda yang diduga sebagai alat isap sabu atau bong.

Ada pula terlihat beberapa pria lainnya terlihat berjoget mengikuti irama musik.

Video ini kemudian viral di media sosial. Video ini muncul setelah temuan fasilitas mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor.

Dalam kasus di Lapas Cibinong, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemen Imipas) telah memberhentikan Kalapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto dari aparatur sipil negara (ASN).

Mereka juga menjatuhkan sanksi kepada 16 pegawai lainnya.

Kepala Rutan Depok akui kebenaran video

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada Minggu (04/10), setelah video tersebut viral, Kepala Rutan Depok, Ario Galih Maduseno membenarkan peristiwa yang terekam dalam video itu terjadi di Rutan Depok.

"Ya, setelah kami investigasi, apa yang ada di video tersebut memang berada di Rutan Depok," kata Ario dalam jumpa pers, Minggu (05/106) malam.

"Jelas petugas [rutan] kami, pegawai Rutan Depok. Posisinya ada di jajaran satuan pengamanan dan staf di bimbingan kerja," tambahnya, seperti dilaporkan Kompas.com.

Baca juga:

Ario mengklaim telah melakukan penyelidikan di dalam rutan.

Ario menyebut, pihaknya memeriksa sebanyak 22 narapidana dan dua petugas terkait isi video tersebut.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjutnya, "di kamar itu ada kurang lebih 22 warga binaan dan yang kami dalami lagi ada sekitar tiga sampai empat orang."

Dia mengaku pihaknya sudah melaporkan dua petugas rutan ke polisi.

"Termasuk langkah pelaporan ke pihak kepolisian terkait dugaan adanya petugas membantu memfasilitasi pelanggaran seperti yang dilaporkan atau yang ramai beredar," akunya.

Ario juga mengklaim telah melaporkan ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

"Kami juga berjanji untuk transparan dan responsif, siapa pun yang terbukti terlibat melanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku," katanya, berjanji.

Kepala Rutan Depok, Ario Galih Maduseno membenarkan peristiwa yang terekam dalam video itu terjadi di Rutan Depok.
Keterangan gambar, Kepala Rutan Depok, Ario Galih Maduseno membenarkan peristiwa yang terekam dalam video itu terjadi di Rutan Depok.

Terkait kemungkinan adanya barang terlarang masuk melalui petugas rutan, Ario mengakui adanya indikasi tersebut.

Di hadapan wartawan, Ario kemudian mengungkap apa yang disebutnya sebagai keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam pengamanan Rutan Depok.

Sekarang, jumlah warga binaan mencapai 1.279 orang, sementara petugas yang berjaga berjumlah 10 orang dalam satu shift.

Dengan kondisi tersebut, rasio pengamanan mencapai lebih dari satu petugas untuk 100 warga binaan, ujar Ario.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.