You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Kisah perempuan lansia lumpuh dan anak 12 tahun yang tewas ditembak di Kabupaten Dogiyai, Papua – 'Aparat menembak secara membabi buta'
- Penulis, Abraham Utama
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 15 menit
Peringatan! Artikel ini memuat deskripsi kekerasan yang mungkin memicu rasa tidak nyaman bagi pembaca.
Kericuhan pecah di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, 31 Maret lalu. Lima warga sipil tewas akibat luka tembak, dua di antaranya adalah perempuan lumpuh berusia 70-an tahun dan anak laki-laki berusia 12 tahun yang ditembak di bagian perut.
Polda Papua Tengah menyatakan foto jenazah anak laki-laki yang tewas ini sebagai hoaks alias kebohongan. Namun para saksi yang berbicara kepada BBC mengungkap fakta sebaliknya.
Kematian lima warga Dogiyai ini terjadi saat aparat kepolisian menyisir kampung-kampung, menembakkan senapan, dan berhadapan dengan kumpulan warga "yang melakukan perlawanan"—sebagian dengan panah dan batu.
Penyisiran oleh aparat itu berlangsung setelah seorang polisi ditemukan tewas di pinggir jalan. Kepolisian "belum mengetahui" penyebab maupun pelaku pembunuhan polisi itu hingga saat ini. Mereka juga tidak mengaitkannya dengan milisi pro-kemerdekaan, Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat.
Kericuhan pada 31 Maret ini berlangsung dua pekan setelah Deklarasi Damai dan Komitmen Menjaga Ketertiban Daerah yang dipimpin Bupati Dogiyai, Yudas Tebai. Salah satu poin dari komitmen itu menyangkut larangan penjualan minuman beralkohol di Dogiyai—yang akan disahkan lewat peraturan daerah.
Yudas berspekulasi, kericuhan 31 Maret berkaitan dengan deklarasi dan komitmen yang digagasnya tersebut. "Ada kelompok yang terganggu dengan deklarasi tanggal 16 Maret," ujarnya.
Yang jelas, sepanjang hari pada 31 Maret itu, suara letusan senjata aparat terdengar, bahkan hingga lewat tengah malam. Warga panik dan ketakutan. Situasi yang sama terjadi keesokan harinya.
Seorang jurnalis dan kepala distrik dihadang dan mendapat ancaman dari polisi saat hendak mendekat ke lokasi penemuan jenazah polisi.
"Kami akan meratakan habis warga Dogiyai", kata jurnalis tersebut, mengulangi pernyataan sang polisi. Pejabat kepolisian setempat membenarkan ancaman itu dan mengajukan permintaan maaf.
Sebanyak tiga warga lain pada 31 Maret itu juga mengalami luka tembak. Sebagaimana lima warga yang kehilangan nyawa, tiga korban luka tidak dibawa ke rumah sakit. Keluarga membawa mereka pulang dan memberikan perawatan "seadanya".
BBC telah menghubungi Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini, untuk liputan ini, tapi dia tidak memberi jawaban.
Dalam pertemuan di Kabupaten Nabire, 2 April lalu, Jeremias mendapat desakan dari sejumlah pejabat dan representasi warga Dogiyai.
Jeremias berjanji untuk menginvestigasi kericuhan dan penembakan terhadap warga sipil—tanpa merinci tenggat penyelesaiannya.
Jeremias berkunjung ke Dogiyai, Kamis (09/04). Dia bertemu sejumlah perwakilan masyarakat.
"Tidak pernah ada instruksi untuk melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil," ujar Jeremias dalam keterangan tertulis yang dibagikan Humas Polda Papua Tengah.
"Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk menampung aspirasi masyarakat serta berkomitmen untuk menyampaikan perkembangan penanganan masalah secara terbuka kepada publik," kata Jeremias.
Selama satu pekan, BBC menelusuri bagaimana kericuhan di Dogiyai terjadi. Kami mewawancarai sejumlah saksi mata sekaligus mengumpulkan dokumentasi visual terkait peristiwa mematikan itu.
Kami memilih untuk tidak menampilkan sejumlah foto dan video itu atas pertimbangan etik dan menjaga kenyamanan para pembaca.
Kematian polisi, penembakan warga, 'seluruh kota dilanda kecemasan'
Herman Degei adalah pemuda keturunan adat Mee yang selama beberapa tahun terakhir bekerja di sebuah sekolah di Kampung Ekemanida, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai. Dia berada di Sekretariat Kantor Bupati Dogiyai pada 31 Maret pagi.
Sekitar pukul 10 pagi, Herman melihat dua pegawai berbaju dinas datang dalam kepanikan. "Wah dong (mereka) ada tembak-tembakan lagi," begitu perkataan salah satu pegawai yang diingat Herman.
Pegawai tersebut lalu menunjukkan foto yang beredar di sejumlah grup Whatsapp. Foto itu memperlihatkan polisi bernama Juventus Edowai, yang berpangkat brigadir dua, sudah tak bernyawa.
Kepanikan menyebar di antara mereka, tapi rasa heran juga menyeruak.
"Tidak banyak darah di lokasi itu, padahal lehernya seperti ditusuk pisau," kata Herman. "Kalau dia ditusuk di situ, seharusnya kan ada banyak darah," ujarnya.
Kepala Distrik Kamuu, Markus Awue, pada waktu yang sama juga mendapat informasi tentang jenazah Juventus Edowai.
Kala itu Markus sedang mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Otonomi Khusus Dogiyai di Aula Koteka Moge—berjarak sekitar 200 meter dari tempat Herman berada.
Di tengah diskusi untuk mencari strategi terbaik meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap masyarakat asli Papua, Markus menerima pesan dari Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf.
Markus bilang, Yusuf mengabarkan penemuan jenazah di dalam parit, di depan gereja Gereja Kemah Injili Indonesia (Kingmi) Ebenezer. "Kapolsek mengajak saya untuk jalan ke lokasi, memastikan masalah ini," ucapnya.
Perjalanan Markus dan Yusuf berlangsung singkat karena jarak Aula Koteka Moge dan Gereja Kingmi Ebenezer hanya sekitar 500 meter.
Namun akhirnya hanya Yusuf yang bisa benar-benar melihat jenazah Juventus Edowai. Markus bilang, lokasi itu dipenuhi polisi dan salah satu dari mereka menghadangnya.
"Saya bilang saya kepala distrik, kepala wilayah, dan kehadiran saya adalah kehadiran pemerintah," kata Markus.
Situasi memanas. Markus berpikir dua kali untuk melanjutkan perdebatan.
"Dalam situasi seperti itu mereka bisa kehilangan akal sehat. Kalau mereka lepas peluru, saya bisa kena," ucapnya.
Markus memilih mundur. Di jalanan, dia menghampiri para perempuan yang berjualan di pasar untuk segera pulang.
Markus berputar ke beberapa kampung, seperti Ekemanida, Idakoto, Mawa, dan Ikebo. Dia berpesan kepada warga yang ditemuinya "untuk menjaga situasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan."
Setibanya di rumah, Markus mendapat pesan dari Bupati Dogiyai, Yudas Tebai. Yudas memerintahkan Markus untuk datang ke lokasi penemuan jenazah Juventus Edowai.
Mengingat penghadangan yang dia alami beberapa menit sebelumnya, Markus menghubungi Iptu Aiem Yusuf. Dia menjelaskan perintah yang dia terima dari Yudas.
Di ujung telepon, kata Markus, Yusuf berkata telah berkoordinasi dengan aparat di sekitar Gereja Kingmi Ebenezer. "Kapolsek bilang sudah aman," kata Markus.
Dalam perjalanan, Markus bertemu Alex Waine. Dia mengajak Alex untuk bersama-sama menuju ke depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Seperti Markus, Alex adalah laki-laki muda berdarah Mee—komunitas adat terbesar di Dogiyai. Dia berprofesi sebagai jurnalis di media massa lokal.
Sebelum bertemu Markus di tengah jalan, Alex sudah merasa terpanggil untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik: datang ke lokasi penemuan jenazah Jufentus Edowai.
"Saya bertemu kepala distrik. Lokasi kejadian itu memang wilayah kerjanya. Dia selalu kontrol," ujar Alex.
Alex dan Markus mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Sekitar satu kilometer dari Gereja Kingmi Ebenezer, Alex melihat aparat kepolisian telah tersebar di sepanjang Jalan Trans Nabire—akses utama Dogiyai, sekaligus jalan menuju gereja tersebut.
Saat itu tidak ada lagi aktivitas masyarakat di jalanan tersebut. Selain aparat, Alex melihat sejumlah kelompok laki-laki muda. Mereka berdiri di jalan-jalan menuju perkampungan.
Dalam situasi itu, tembakan aparat terdengar berturut-turut, kata Alex.
Akhir dari Baca liputan BBC sebelumnya terkait Dogiyai:
Beberapa menit sebelumnya, Pastor Yeskiel Belau baru saja melalui Jalan Trans Nabire itu. Di atas motornya, dia melewati terminal yang berjarak sekitar 300 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer.
"Saya melihat mobil polisi melaju ke arah saya dengan kecepatan tinggi, jadi saya segera ke pinggir," kata Yeskiel.
"Mobil itu berjalan menuju pasar dan rumah sakit," tuturnya. Rumah sakit yang dia maksud adalah RSUD Dogiyai, selemparan batu di seberang Gereja Kingmi Ebenezer.
Yeskiel melanjutkan perjalanannya menuju pastoran di Gereja Katolik Santa Maria Imaculata.
Setibanya di sana, Yeskiel menghubungi suster pimpinan di gereja tersebut. "Ada kekacauan di Moanemani," kata suster itu kepada Yeskiel.
Yeskiel lalu melangkah ke pinggir jalan. Di situ Yeskiel melihat mobil polisi yang berpapasan dengannya sebelumnya.
"Kantong jenazah dibaringkan di belakang mobil, diapit beberapa polisi yang duduk dan berdiri," ujarnya.
"Saya melihat mobil itu melaju ke depan Polres. Beberapa polisi naik dan mobil itu kembali ke jalan lagi," kata Yeskiel.
Kantor Polres Dogiyai tepat berada di seberang kanan Santa Maria Imaculata.
Dalam situasi itu, Yeskiel mendengar suara tembakan dari arah terminal, rumah sakit, dan pasar. Dia melihat sejumlah perempuan yang berjualan di pinggir jalan berlarian pulang.
"Saya saat itu juga lari dengan motor ke arah Mapia," kata Yeskiel.
Dalam kekacauan itulah Alex Waine dan Markus Awue berusaha menuju lokasi jenazah Juventus Edowai di depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Namun sekitar 100 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer, sang wartawan dan kepala distrik ini dihentikan seorang polisi—yang mereka identifikasi dengan nama William, merujuk nama yang tertera di seragamnya.
"Dia sempat katakan intimidasi atau ancaman," kata Markus.
"Masyarakat harus cepat ungkap pelaku, kalau tidak kami akan meratakan, habiskan warga," ujar Markus mengulang kata-kata polisi itu.
Belakangan, pada 5 April, Iptu Aiem Yusuf meminta maaf atas intimidasi yang diterima Markus dan Alex. Dia menyebut polisi bernama William itu bukan anggota Polsek Kamuu, tapi polisi di bawah Polres Dogiyai.
"Jujur bukan karena saya anak Papua, saya tahu pemuda-pemuda di sini, saya sangat dekat dengan mereka. Perilaku anggota polisi ini tidak benar, tidak profesional," ujarnya kepada wartawan Tribunnews Papua.
Pada 31 Maret siang, suara tembakan semakin intensif terdengar di pusat Dogiyai. Berbagai grup Whatsapp warga penuh pembicaraan, sampai sebuah foto jenazah laki-laki muda dengan luka tembak tersebar.
Herman Degei, yang bersama para ASN memilih bertahan di kantor Sekretariat Bupati ketimbang bertemu aparat di jalanan, melihat foto tersebut.
"Itu jenazah Siprianus Tibakoto," ujar Herman, yang belakangan mengetahui identitas warga sipil itu.
Merujuk data yang dikumpulkan Solidaritas Rakyat Papua Kabupaten Dogiyai, Siprianus adalah pemuda 19 tahun dari Kampung Ikebo. Dia tewas setelah peluru menembus dagunya.
Dalam kondisi yang disebut Herman penuh ketakutan dan ketegangan itu, sejumlah warga berlarian dari arah terminal dan dari arah Gereja Katolik Santa Maria Imaculata menuju ke dalam Sekretariat Kantor Bupati.
"Karena di kantor ini ada pagar besi, jadi warga mau berlindung di situ," kata Herman.
Kurang dari 10 menit usai kedatangan para warga itu, Herman kembali mengecek ponselnya. Di grup Whatsapp, dia melihat foto jenazah perempuan tua dengan darah di sekitarnya.
"Itu foto mama Ester," ujar Herman.
Ester adalah panggilan untuk perempuan berumur 70-an tahun, yang bernama Yulita Pigai. Seperti Siprianus Tibakoto, Yulita juga warga Kampung Ikebo.
Yulita Pigai tewas dengan luka tembak di bagian perut. Yulita kehilangan nyawa di dalam rumahnya, ketika aparat menyisir kampung dan mengejar kelompok pemuda.
Informasi soal kematian Yulita itu disampaikan putranya, Oktavianus Pigai. Kesaksian yang diutarakannya serupa dengan dicatat oleh seorang pengurus gereja dan Solidaritas Rakyat Papua.
Tak lama setelah jam 12 siang, Herman dan para warga di Sekretariat Kantor Bupati memutuskan pulang. Mereka berjalan beriringan, sekitar 8 sampai 10 orang.
Di setiap rombongan itu, kata Herman, terdapat pegawai berpakaian dinas. "Karena kalau hanya ada yang pakai pakaian biasa, kami nanti dicurigai dan ditembak," ujarnya.
Herman dan rombongannya berjalan pulang dengan rute pasar Moanemani, perumahan pegawai dinas, Kampung Mauwa, lalu ke Kampung Ekemanida.
Jelang masuk Ekemanida, Herman bertemu sekelompok pemuda. Mereka menutup jembatan yang menjadi akses masuk Ekemanida dengan batu dan balok.
"Kalau mau pulang, pulang terus. Jangan kembali ke sini lagi," kata Herman, mengulang pernyataan seorang pemuda kepadanya.
Namun hari itu Herman tidak pulang ke Ekemanida. Bersama kerabatnya, Herman berjalan lebih jauh ke dataran yang lebih tinggi—ke Kampung Idakotu.
Herman menghabiskan hari di Idakotu, sambil mengurus kebun kopi keluarganya. Pada malam hari, dia melihat setidaknya empat pesawat nirawak (drone) kepolisian terbang di kampungnya.
Herman juga terus-menerus mendengar suara tembakan. Di jeda antara tembakan itu Herman mendengar para pemuda meneriakkan yel-yel dalam bahasa Mee, "yuu waita...yuu...yuu...yuu".
"Terdengar saling balas-membalas antara suara anak-anak muda dengan tembakan aparat," ujar Herman. Suara-suara itu Herman dengar sampai dia tertidur.
Pagi hari, 1 April, Herman telah bangun dan berniat membabat rerumputan di depan rumahnya. Namun dia melihat sejumlah tetangganya berkumpul di sebuah rumah, dekat balai desa.
"Saya melihat beberapa mama-mama menangis," ujarnya. Seorang bapak lalu berjalan melewati Herman. "Anak, hari ini jangan pergi. Tetangga kita meninggal," ujar laki-laki paruh baya itu kepada Herman.
Herman kaget bukan main. Tetangganya yang meninggal itu adalah Martinus Yobee, anak laki-laki berumur 12 tahun.
Herman selalu mengingat Martinus sebagai salah satu orang pertama yang menolongnya saat hendak memulai operasional PAUD dan TK di Ekemanida, lima tahun silam.
Namun pagi itu Herman tak bisa lagi melihat jenazah Martinus. Pihak keluarga memakamkan Martinus saat subuh.
Adat-istiadat orang Mee, kata Herman, mewajibkan keluarga mengubur saudara dan kerabat yang meninggal dalam perang sebelum matahari kembali terbit.
Pagi itu Herman menemui Mariana—kakak perempuan Martinus yang bekerja sebagai guru di yayasan pendidikan Katolik.
"Eiii, noukai…ani puto," kata Mariana kepada Herman. Kata-kata itu didengar Mariana dari kawan Martinus, yang menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan pemuda itu.
Kalimat dalam bahasa Mee itu berarti, "Aduh mama..usus perut saya."
Martinus adalah korban penembakan aparat yang fotonya beredar di berbagai grup Whatsapp warga Dogiyai—yang kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru.
Dalam foto itu, Martinus meninggal dengan posisi tangan memegang perut. Bagian bawah perutnya sobek. Usus Martinus keluar dari perutnya yang menganga itu.
Pada 6 April lalu, Polda Papua Tengah dan Polres Dogiyai menyatakan foto jenazah Martinus dengan kondisi usus yang keluar dari perut itu sebagai hoaks.
"Narasi yang menyebutkan bahwa kejadian dalam gambar tersebut terjadi pada tanggal 31 Maret di Dogiyai ini adalah tidak benar. Gambar tersebut adalah foto lama," tulis kepolisian dalam media sosial mereka.
Dua institusi itu, dalam unggahan tersebut, juga menegasikan pemberitaan terkait kericuhan Dogiyai yang ditayangkan salah satu media massa terbesar di Papua, yaitu Jubi.
Klaim kepolisian itu tidak sesuai dengan kesaksian Herman, tapi juga pernyataan Markus Auwe, Kepala Distrik Kamuu.
"Foto yang beredar itu benar foto Martinus Yobee," kata Markus.
BBC meminta tanggapan Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf soal tuduhan hoaks yang tak sesuai dengan kesaksian orang-orang yang mengenal Martinus. Namun Yusuf meminta kami menghubungi Polda Papua Tengah.
"Mereka yang viralkan. Saya tidak bisa klarifikasi," ujarnya.
BBC telah mengontak Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini. Tiga hari telah berlalu sampai berita ini ditayangkan, tapi Jeremias tidak merespons pertanyaan kami.
Kisah hidup Martinus Yobee dan Yulita Pigai
Martinus adalah anak bungsu di keluarganya. Dia memiliki empat saudara kandung.
Martinus tertembak di belakang kantor Dukcapil Dogiyai, sekitar 350 meter dari SD Negeri Moanemani—tempatnya pernah mengenyam pendidikan. Informasi ini dikatakan Yulianus Goo, paman Martinus.
Yulianus berkata, Martinus pagi itu baru saja membantu mamanya mencari kayu bakar untuk keperluan dapur. Martinus mengambil kayu bersama sejumlah kawannya.
"Setelah membantu orang tua, dia turun ke jalan raya untuk main-main, tapi ternyata baku dapat dengan kejadian perang," kata Yulianus. "Oleh sebab itu dia mencari perlindungan dari aparat di belakang Dukcapil."
Namun "di tempat perlindungan itu" pula Martinus tertembak. Yulianus berkata, dua perempuan dewasa—kerabat Martinus—menjadi saksi mata kematiannya karena berada pada lokasi yang sama.
"Aparat buang senjata kiri-kanan, tidak memandang apakah ada orang atau tidak di sekitar itu. Maka itu Martinus kena di bagian perut," kata Yulianus.
Kematian Martinus memukul keluarganya. Martinus diingat sebagai anak yang selalu membantu keluarga.
"Dia membantu bapak punya pekerjaan, seperti mencari kayu atau membuat pagar. Dia juga tidak lupa terhadap mama, kerja kebun seperti mengangkat bedeng atau ubi ke rumah," ujar Yulianus.
Perasaan kehilangan juga merundung keluarga Yulita Pigai.
Putranya, Oktavianus Pigai, menyebut Yulita ditembak saat sedang berada di dalam rumah. Jelang siang pada 31 Maret, aparat berdatangan ke Kampung Ikebo.
Oktavianus berkata, aparat melepaskan sejumlah tembakan saat berada di Ikebo. Salah satu peluru aparat menembus dinding kayu rumah Yulita, lalu masuk ke paha perempuan lanjut usia itu.
Yulita ditembak dalam kondisi lumpuh. Sejak dua tahun terakhir, kata Oktavianus, mamanya tak bisa lagi berjalan di atas kakinya sendiri.
"Mama sempat bertahan tiga jam," ujar Oktavianus. Namun selama masa kritis itu, Yulita tidak mendapat pertolongan medis. Keluarga tidak dapat melarikannya ke rumah sakit.
"Kami merasa sedih. Merasa kehilangan," kata Oktavianus.
Yulita adalah seorang janda. Suaminya telah lebih dulu wafat pada 2022. Dia memiliki sembilan anak—enam di antaranya sudah tiada. Cucu Yulita ada lima orang.
Sepanjang kehidupannya, Yulita berkebun untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Oktavianus mengenang Yulita sebagai mama yang penuh kasih sayang, yang membagi rata perhatiannya untuk anak serta cucunya.
Siapa korban lainnya?
Selain Martinus, Yulita, dan Siprianus Tibakoto, warga lain yang tewas dengan dugaan terkena tembakan aparat kepolisian adalah Angkian Edowai (20 tahun).
Angkian, warga Kampung Kimupugi, tewas setelah tengah malam pada 1 April. Dia terkena tembakan di bagian dada.
Solidaritas Rakyat Papua mencatat satu korban tewas lainnya adalah warga bernama Ferdinan Auwe (19 tahun). Dia disebut terkena tembakan pada bagian paha, pada waktu yang hampir bersamaan dengan kematian Angkian.
Ada pula tiga warga yang terkena tembakan dan mengalami luka parah.
Menurut catatan Solidaritas Rakyat Papua, ketiganya adalah Maikel Waine—seorang anak berumur 11 tahun yang tertembak di bagian dada, Kikibi Pigai (19 tahun) tertembak di kaki, serta Magapai Yobee (19 tahun).
Bagaimana cerita dari keluarga Bripda Juventus Edowai?
Juventus berasal dari Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai. Kepada sejumlah jurnalis dari media massa lokal, 6 April lalu, keluarga Juventus menyatakan belum mendapat penjelasan apapun dari Polri terkait kematian polisi itu.
"Keluarga berharap pihak berwenang segera memberikan klarifikasi yang transparan dan menyeluruh agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat," ujar Zeth Edowai, perwakilan keluarga Juventus.
"Kami belum mendapatkan penjelasan yang pasti terkait status kematian almarhum, apakah dalam dinas atau di luar dinas.
"Kami juga belum mendapatkan penjelasan olah TKP awal yang jelas dari pihak kepolisian kepada keluarga korban," kata Zeth.
Kericuhan memanas di Dogiyai
Kikibi dan Magapai ditembak pada 31 Maret tengah malam. Sejak siang, kericuhan di Dogiyai berubah menjadi pertikaian antara aparat dan kelompok-kelompok pemuda.
Sejumlah sepeda motor dibakar dan dibiarkan teronggok di tengah jalanan utama Dogiyai.
Markus Auwe, Kepala Distrik Kamuu, menyebut anak-anak muda menutup akses jalan menuju kampung "untuk melindungi warga".
"Kami ingin melindungi kami punya warga supaya mereka aman," kata Markus, mengulang jawaban sejumlah pemuda yang memalang jalan tersebut.
Herman Degei berkata, penemuan jenazah Juventus Edowai memicu penyisiran dan penembakan beruntun oleh aparat. Para laki-laki muda di kampung, kata dia, merespons dengan memalang jalan dan membalas aparat.
"Ada anak-anak di bawah umur yang juga ikut-ikut. Mereka terdorong karena mendengar tembakan," kata Herman.
"Mereka ingin melindungi kampung, menyatakan resistensi," ujarnya.
Apa sikap kepolisian terkait peristiwa di Dogiyai?
Pada 2 April, Andrias Gobai—yang pernah menduduki sejumlah jabatan sipil di pemerintahan daerah Dogiyai—memimpin rombongan perwakilan masyarakat sipil bertemu Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini di Nabire.
Mereka menyatakan kepada Jeremias, "penganiayaan dan pembacokan terhadap Juventus Edowai seharusnya ditangani secara profesional dan persuasif, bukan dengan kekerasan."
Kelompok yang menamakan diri Koalisi Masyarakat Dogiyai itu mendesak Polri mengungkap pelaku pembunuhan Juventus dan warga sipil yang tewas ditembak.
Selain itu, mereka kelompok ini juga meminta Polri mencopot Komisaris Yocbeth Mince Mayor dari jabatan Kapolres Dogiyai.
Dalam pertemuan itu, Jeremias menyatakan akan membentuk tim independen untuk mengusut kericuhan yang menimbulkan korban jiwa tersebut.
"Perlu ada pihak lain yang bisa memberikan penilaian tentang apa yang terjadi di Dogiyai," kata Jeremias.
"Saya mohon maaf apabila ada tindakan aparat yang mencederai masyarakat," ujarnya.
Jeremias, melalui surat perintah bernomor 95/IV/Kep/2026, mencopot Komisaris Yocbeth. Jabatan Kapolres Dogiyai beralih ke Ajun Komisaris Besar Dennis Arya Putra.
Pada 2 April pula—sebelum pertemuan antara Koalisi Masyarakat Dogiyai dengan Jeremias Rontini di Nabire—Kepala Distrik Kamuu, Markus Awue, yang berada dalam rombongan pejabat, termasuk Wakil Bupati Dogiyai, Yuliten Anouw, bertemu sejumlah pejabat kepolisian.
Salah satu pimpinan polisi berkata kepada rombongan pejabat di Dogiyai itu, "kami, aparat keamanan, tidak akan berbuat apa-apa kalau kami tidak diganggu."
"Sangat disayangkan, berentet di media sosial sampai hari ini, bahwa aparat melakukan pembunuhan. Padahal kami ini biasa-biasa saja," ujar polisi tersebut.
Satu pekan setelah kematian Yulita Pigai dan Martinus Yobee, keluarga mereka belum mendapat kejelasan tentang siapa yang menembakkan peluru ke tubuh dua korban meninggal itu.
Yulianus Goo, paman Martinus, sangat yakin yang menembak keponakannya adalah aparat kepolisian. "Aparat menyerang masyarakat sembarang, membabi buta," ujarnya.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini, tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan BBC melalui pesan singkat. Belum ada hal rinci, termasuk apa target dan siapa yang akan mengisi tim investigasi independen yang dia janjikan.
Adapun Badan Reserse Kriminal Polri menerjunkan tim untuk mengungkap kematian Juventus Edowai. Tim itu dipimpin Ajun Komisaris Wiga Abadi.
Mabes Polri juga mengerahkan pasukan tambahan ke Dogiyai, dengan klaim untuk "menciptakan situasi aman dan kondusif".
Namun langkah kepolisian itu disayangkan Markus Awue—yang baru saja menyaksikan kericuhan terburuk di Dogiyai sejak lahir dan tumbuh dewasa di tanah leluhurnya itu.
"Jumlah aparat yang ada sudah cukup. Tidak boleh tambah lagi karena bisa bikin trauma," ujarnya.
Laporan tambahan oleh Abeth Abraham You