'Dengan air purifier pun saya tetap tidak bisa bernapas' – Warga Malaysia bergulat dengan penyakit akibat kabut asap dari Indonesia

Kabut asap menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia, pada 19 Oktober 2026.
Keterangan gambar, Kabut asap menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia, pada 19 Oktober 2026.
    • Penulis, Nur Yasmin
    • Peranan, Jurnalis di Malaysia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 11 menit

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menyelimuti Malaysia. Hal ini menyebabkan sejumlah warga Malaysia jatuh sakit dan biaya medis mereka meningkat.

Nor Amira Mohammad Ghaus, 34 tahun, mengalami serangan asma lebih sering dalam beberapa pekan terakhir. Meski ia adalah seorang pelatih kebugaran, asap memaksanya membatasi aktivitas luar ruangan, sembari menanggung biaya kesehatan tambahan.

Sementara itu, bagi Normazura Mohd Tahir, 65 tahun, kabut asap memperparah eksim yang telah dideritanya selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut membatasi aktivitas hariannya dan membuatnya harus mengeluarkan dana lebih besar untuk perawatan penyakit kulitnya.

Keluhan dua warga Malaysia ini muncul seiring dengan memburuknya kualitas udara di Selangor, Putrajaya, Melaka, dan Negeri Sembilan.

Tak hanya Nor dan Normazura yang kesehatannya terganggu. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Malaysia kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat sekitar 10% dalam sepekan, dari 3.509 kasus pada pekan epidemiologi ke-39 menjadi 3.875 kasus pada pekan ke-40, di bulan Oktober.

Kabut asap juga berdampak buruk terhadap aktivitas ekonomi. Malaysia diperkirakan merugi antara RM20 juta (Rp88 miliar) hingga RM50 juta (Rp220 miliar) per hari, menurut perkiraan profesor ekonomi Universitas Sunway, Dr. Yeah Kim Leng, melansir The Star.

Dihadapkan pada kabut asap dan beragam efek negatifnya, anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, mendesak pemerintah Malaysia melayangkan protes diplomatik bersama ASEAN terhadap Indonesia.

Di samping itu, sejumlah organisasi lingkungan menuding perusahaan yang terafiliasi dengan grup usaha Malaysia termasuk di antara pihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tahun ini.

Bagi warga yang setiap hari menghirup asap, pertanyaan yang paling mendesak tetap sama: kapan krisis kabut asap ini akan berakhir?

'Saya terbangun pukul empat pagi dan tidak bisa bernapas'

Sekitar pukul empat pagi, ketika seharusnya masih tertidur lelap, Nor Amira Mohammad Ghaus terbangun karena kesulitan bernapas.

Perempuan 34 tahun itu mengatakan serangan asmanya terjadi jauh lebih sering dalam dua hingga tiga pekan terakhir, ketika kabut asap kembali menyelimuti sebagian wilayah Malaysia. Dia tinggal di kawasan Lembah Klang, Malaysia.

Lembah Klang berada di antara Kuala Lumpur dan Selangor. Per Rabu (21/10) saja, udara Klang berada pada status 'tidak sehat' dengan level indeks IQAir 168.

Bahkan, ketika alat pembersih udara menyala di kamar Amira, ia tetap kesulitan bernapas.

"Bayangkan, saya berada di kamar sendiri dengan air purifier dan saya tetap tidak bisa bernapas," katanya kepada jurnalis Nur Yasmin yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Warga Malaysia yang terdampak kabut asap.
Keterangan gambar, Nor Amira Mohammad Ghaus, 34 tahun, mengatakan bahwa asma yang dideritanya memburuk dalam dua hingga tiga minggu terakhir seiring kabut asap yang menyelimuti Malaysia.

Menurutnya, dia bisa mengalami serangan asma dua hingga tiga kali dalam sehari. Kondisinya paling berat antara pukul tiga hingga enam pagi.

Asma yang dideritanya memburuk hingga membuatnya harus lebih sering menggunakan inhaler.

Dokter juga meresepkan obat steroid untuk membantu mengendalikan kondisinya dan menyarankan agar ia sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan.

Namun bagi Amira, saran itu sulit dijalankan.

"Saya sebenarnya orang yang sangat aktif. Saya atlet," ujarnya.

"Jadi saya harus membatasi semua aktivitas luar ruangan dan tinggal di dalam gedung. Pada saat yang sama, tempat-tempat olahraga di dalam ruangan juga penuh dengan orang yang sama-sama berusaha hidup sehat."

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Aktivitas di luar ruangan selama ini merupakan bagian penting dari hidupnya.

"Saya suka melakukan aktivitas luar ruangan seperti mendaki gunung atau pergi ke air terjun," katanya.

"Dan ini terpaksa harus berhenti."

Selain membatasi aktivitasnya, kabut asap juga menambah pengeluarannya.

Ia kini harus membeli inhaler lebih sering dibanding sebelumnya dan menyimpannya di berbagai tas yang digunakan sehari-hari agar selalu tersedia ketika serangan asma datang.

Amira juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk obat-obatan resep yang diberikan dokter guna membantu mengendalikan gejalanya.

Amira mengatakan bahwa sejak kabut asap memburuk, ia telah menghabiskan sekitar RM1.000 (Rp4,4 juta) untuk membeli obat-obatan dan peralatan tambahan, termasuk Symbicort Turbohaler, pemurni udara untuk digunakan di rumah, serta nebuliser guna mengendalikan asmanya.

Ia juga mengonsumsi bromheksin, obat yang digunakan untuk membantu mengencerkan dan mengeluarkan dahak, sebanyak tiga kali sehari.

'Setiap kali keluar rumah, saya harus membersihkan diri'

Di Shah Alam, sekitar 30 kilometer dari Kuala Lumpur, Normazura Mohd Tahir menghadapi persoalan serupa.

Perempuan 65 tahun itu mengatakan kabut asap telah mengganggu rutinitas hariannya sekaligus memperburuk penyakit eksim yang telah lama dideritanya.

Dalam dua hingga tiga bulan terakhir, gejala eksimnya semakin sering kambuh hingga membuatnya beberapa kali harus berobat ke dokter.

"Gejala saya membuat saya tidak bisa keluar rumah. Kalau keluar, saya berkeringat berlebihan dan merasa tidak nyaman," katanya pada jurnalis Nur Yasmin yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Setiap kali keluar rumah, saya harus sering membersihkan diri agar gejalanya tidak semakin parah."

Penelitian medis memang menunjukkan bahwa zat-zat di asap kebakaran hutan bisa menjadi pemantik penyakit eksim pada kulit.

Normazura, warga Malaysia
Keterangan gambar, Normazura Mohd Tahir, 65 tahun, mengatakan ia menghabiskan sekitar RM200 (Rp880 ribu) hingga RM300 (Rp1,32 juta) setiap bulan untuk biaya kunjungan ke dokter, krim, dan masker wajah guna mengendalikan gejala yang dialaminya akibat kabut asap.

Kabut asap juga membuatnya kehilangan sejumlah aktivitas yang sebelumnya ia nikmati.

Normazura mengatakan ia tidak lagi membawa kucing-kucing peliharaannya bermain di luar rumah. Jalan kaki cepat yang biasa ia lakukan untuk menjaga kebugaran juga terpaksa dihentikan.

Ibu dua anak itu mengatakan dirinya khawatir kabut asap akan memengaruhi kesehatannya dan memperburuk kondisi yang sudah ada.

Ia kini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli krim kulit serta masker ketika keluar rumah. Kunjungan ke dokter pun terkadang harus dilakukan hingga dua kali dalam satu bulan.

"Saya harus membeli krim secara rutin untuk seluruh tubuh karena kulit saya menjadi kering. Saya juga harus membeli masker setiap kali keluar rumah, terutama ketika pergi ke rumah sakit," katanya.

Menurutnya, total biaya yang harus ia keluarkan berkisar antara RM200 (Rp880 ribu) hingga RM300 (Rp1,32 juta) setiap bulan untuk membeli krim dan biaya berobat.

Sekolah ditutup akibat kabut asap

Pengalaman Amira dan Normazura mencerminkan dampak yang dirasakan banyak warga Malaysia ketika asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menyelimuti negara mereka.

Kabut asap ini dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran musiman dan kabut asap lintas batas telah berulang kali memengaruhi Malaysia dan negara-negara tetangganya, terutama saat periode kekeringan berlangsung lama.

Indeks Pencemaran Udara (API) di Malaysia terus memburuk sejak 8 Oktober. Kabut asap telah memengaruhi sejumlah wilayah di Sarawak maupun Semenanjung Malaysia. Departemen Lingkungan Hidup (DOE) melaporkan sebanyak 38 area di Semenanjung Malaysia mencatatkan bacaan API pada tingkat tidak sehat.

Sekolah-sekolah di beberapa wilayah terdampak, termasuk di sejumlah kawasan Selangor, Putrajaya, Melaka, dan Negeri Sembilan, sempat ditutup.

Menara Petronas.
Keterangan gambar, Pusat Kota Kuala Lumpur, dengan Menara Kembar Petronas yang ikonik tampak samar dan sebagian tertutup kabut asap, pada 16 Oktober.

Sementara itu, sekolah-sekolah di Johor, yang mencatat tingkat pencemaran udara tertinggi di Malaysia, sejauh ini masih ditutup hingga 23 Oktober.

Pada 16 Oktober, Kementerian Kesehatan Malaysia kembali menegaskan bahwa sekolah dan pusat penitipan anak wajib ditutup apabila bacaan API melampaui 200. Kementerian juga menyatakan bahwa kegiatan luar ruang dan perkumpulan publik harus dihentikan ketika kualitas udara mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Selain itu, kementerian mengimbau perusahaan-perusahaan untuk menyediakan masker N95 bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, serta meminta masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruang selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Dari polemik 'ekspor oksigen' hingga kemarahan warganet Malaysia

Di Malaysia, frustrasi publik tidak hanya dipicu oleh memburuknya kualitas udara, tetapi juga sejumlah pernyataan pejabat Indonesia.

Kontroversi muncul setelah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Indonesia, Syahganda Nainggolan, mengatakan Indonesia "bukan hanya mengirim asap" tetapi juga mengirim oksigen ke Malaysia dan Singapura melalui hutan-hutannya.

"Ketika tidak ada asap, kami mengirim oksigen," katanya pada Sabtu (10/10).

Bakom RI.
Keterangan gambar, Aktivis Syahganda Nainggolan (kiri) mengikuti pelantikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Pernyataan itu memicu respons sarkastis dari sejumlah pengguna media sosial Malaysia.

"Sejak kapan kami berlangganan oksigen dari Indonesia?" tulis seorang pengguna, seperti dilansir harian Kompas.

Sebagian pengguna media sosial Indonesia juga mengkritik pernyataan tersebut dan meminta agar sikap pejabat pemerintah tidak disamakan dengan masyarakat Indonesia secara umum.

Kontroversi itu mengingatkan sebagian publik pada komentar mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat krisis kabut asap 2015 yang mengatakan negara-negara tetangga menikmati udara bersih dari Indonesia selama sebelas bulan dalam setahun.

Politikus Malaysia desak langkah lebih tegas

Kabut asap lintas batas bukan persoalan baru bagi Malaysia. Krisis asap pada 1997 dan 2015 masih lekat di benak warga Malaysia, ketika membicarakan dampak ekonomi dan kesehatan akibat asap dari Indonesia.

Kepala ekonom MARC Ratings, Ray Choy, bahkan memperkirakan krisis kabut asap tahun 2026 dapat merugikan ekonomi Malaysia sekitar US$250 juta (Rp4,49 triliun) setiap bulan, terutama akibat penurunan aktivitas sektor pariwisata dan penerbangan, gangguan produktivitas di sektor konstruksi dan transportasi, serta berkurangnya kunjungan wisatawan.

Namun kejadian tahun ini kembali memunculkan pertanyaan mengapa masalah yang sama terus berulang.

Dalam perdebatan terkait Anggaran Negara tahun 2027 di parlemen Malaysia, anggota parlemen Muar, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, mendesak Malaysia dan negara-negara ASEAN yang terdampak untuk mengajukan protes diplomatik bersama kepada Indonesia.

"Malaysia tidak bisa hanya sekadar menelepon presiden Indonesia. Kita perlu menyampaikan protes diplomatik yang tegas, didukung oleh ASEAN, khususnya negara-negara yang terdampak kabut asap seperti Singapura," ujarnya di Parlemen, pada Selasa (13/10).

Kuala Lumpur diselimuti kabut asap.
Keterangan gambar, Pemandangan menunjukkan Kuala Lumpur diselimuti kabut asap ketika kualitas udara memburuk di sejumlah negara bagian Malaysia.

Ia juga mengusulkan agar bank-bank regional, termasuk Maybank dan CIMB dari Malaysia serta DBS dari Singapura, menggunakan pengaruh mereka dengan menahan pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan yang terbukti berkontribusi terhadap kebakaran tersebut.

Selain itu, Syed Saddiq menyerukan agar konsumen juga turut berpartisipasi. Menurutnya, perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan harus menghadapi konsekuensi, alih-alih terus mendapatkan keuntungan dari aktivitas komersial yang terkait dengan kerusakan tersebut.

Kritik juga muncul dari dalam Indonesia. Anggota Komisi I DPR RI Junico Siahaan meminta pemerintah merespons keluhan negara-negara tetangga dengan lebih rendah hati.

"Pemerintah seharusnya menanggapi dengan rendah hati, bukan malah defensif. Lakukan upaya diplomasi yang bersahabat. Saat kita salah, tundukkan kepala dan meminta maaf. Itu jauh lebih terhormat," kata Junico kepada wartawan, Selasa (20/10).

Menurut Junico, protes dari negara-negara tetangga merupakan hal yang wajar mengingat masyarakat di luar Indonesia juga ikut merasakan dampak kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Pada 8 Oktober, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan dirinya telah berbicara langsung dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengenai penanganan kabut asap di Indonesia.

Menurut Anwar, Prabowo menyatakan Indonesia akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi kabut asap.

Anwar juga mengatakan Malaysia berulang kali menawarkan kerja sama kepada Indonesia untuk membantu menangani kebakaran yang menjadi sumber kabut asap tersebut.

Namun, bantuan asing, termasuk dari Malaysia, untuk membantu Indonesia memerangi kebakaran hutan dan lahan yang meluas tampaknya belum akan direalisasikan dalam waktu dekat karena pemerintah Indonesia belum menetapkan situasi tersebut sebagai bencana nasional.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, mengatakan pemerintah Indonesia masih yakin mampu menangani krisis tersebut dengan sumber dayanya sendiri.

"Untuk saat ini, kami masih mampu. Negara kami masih mampu," katanya dalam konferensi pers pada Senin (20/10).

Pada Agustus, Malaysia dan Brunei juga sempat mengaktifkan mekanisme ASEAN untuk polusi asap lintas batas guna merespons dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang mulai memengaruhi wilayah mereka.

Perusahaan Malaysia terindikasi terlibat karhutla Indonesia

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melaporkan bahwa dari 93 perusahaan yang terindikasi terlibat dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tahun ini, 27 merupakan perusahaan sawit yang terafiliasi dengan kelompok usaha yang terdaftar di Malaysia.

Menurut Walhi, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki hubungan dengan sejumlah grup besar, termasuk Sime Darby Group dan Genting Group. Temuan itu didasarkan pada penelusuran afiliasi korporasi, pemantauan titik api, dan investigasi lapangan di sejumlah wilayah terdampak kebakaran.

Greenpeace Malaysia dan Pantau Gambut juga melaporkan sedikitnya 20 perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan grup usaha di Malaysia dan Singapura. Salah satu yang disebut adalah PT Menteng Jaya Sawit Perdana, yang menurut laporan tersebut memiliki hubungan dengan Kuala Lumpur Kepong (KLK) Group, perusahaan perkebunan asal Malaysia.

Namun, Sime Darby Plantation menyatakan perusahaan yang disebut dalam beberapa laporan tidak dimiliki, dikelola, atau dikendalikan oleh grup tersebut.

Sementara itu, KLK mengatakan sebagian besar kebakaran berasal dari luar area konsesinya dan seluruh titik api yang berdampak pada lahannya telah berhasil dipadamkan.

Bagaimana situasi karhutla di Indonesia?

Di tengah tekanan dari negara-negara tetangga, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih berlangsung.

Data BNPB menunjukkan terdapat 6.563 titik panas yang terpantau, dengan 248 titik api aktif dan sekitar 1.024 hektare lahan terbakar dalam 24 jam terakhir, per Rabu (21/10).

Sebagian besar lokasi terbakar berada di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.

Kabut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 14 Oktober 2026.
Keterangan gambar, Pengendara sepeda motor melintas pada pagi hari di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 14 Oktober 2026, di tengah kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

Kualitas udara di sejumlah wilayah juga masih berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Tengah, kualitas udara dilaporkan berada pada level berbahaya. Sementara Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan berada pada kategori sangat tidak sehat.

Krisis ini juga memunculkan dampak kesehatan yang serius di Indonesia.

Dalam liputan BBC News Indonesiasebelumnya, keluarga seorang pengemudi ojek online di Palembang dan keluarga seorang guru sekolah dasar di Banjarmasin menceritakan bagaimana keduanya meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan di tengah kepungan asap.

Sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Environmental Health pada 2022 memperkirakan paparan asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan berkaitan dengan sekitar 33.100 kematian dini orang dewasa dan 2.900 kematian bayi setiap tahun.

Bagi Amira, sebagai warga biasa, dia hanya memiliki satu harapan, yakni bahwa suatu hari dia dapat kembali beraktivitas di luar ruangan dan menghirup udara tanpa rasa khawatir.

"Kalau kabut asap ini tidak dihentikan, saya tidak tahu bagaimana kondisi orang-orang seperti saya bisa menjadi lebih baik," kata Amira. "Harus ada sesuatu yang dilakukan."