Iran peringatkan kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin 'akan dihancurkan'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Tom Edgington, Joshua Cheetham, dan Kayleen Devlin
- Peranan, BBC Verify
- Waktu membaca: 5 menit
Kapal-kapal di perairan Teluk telah menerima peringatan dari Angkatan Laut Iran bahwa kapal mana pun yang berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin "akan ditargetkan dan dihancurkan", demikian dikonfirmasi perusahaan pialang pelayaran SSY kepada BBC Verify.
Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan "selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan".
Namun, kenyataannya, sejak gencatan senjata disepakati, hanya sedikit kapal yang melintas selat penting tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik fokus perang AS–Israel dengan Iran setelah Teheran memblokade selat yang lebarnya hanya sekitar 33 km pada titik tersempit.
Situasi selama lima pekan terakhir telah mengirim gelombang kejut ke seluruh perekonomian dunia. Harga minyak mentah naik drastis mengingat selat itu dilalui kapal-kapal pengangkut sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Kapal-kapal pembawa bahan kimia yang diperlukan untuk memproses produk seperti mikrocip, farmasi, dan pupuk juga mengandalkan selat tersebut.
Meskipun harga minyak telah turun menyusul kabar gencatan senjata, para analis pelayaran memperingatkan saat ini lalu lintas maritim di Selat Hormuz sangat terbatas.
"Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan rincian dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melintas dan rincian tersebut belum tersedia," kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Berdasarkan analisis BBC Verify terhadap data pelacakan kapal dari MarineTraffic, hanya tiga kapal kargo—NJ Earth, Daytona Beach, dan Hai Long 1—yang telah melintasi Selat Hormuz sejak gencatan senjata diumumkan pada Selasa (07/04) malam hingga Rabu (08/04) pukul 20.00 WIB.
Jumlah itu amat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 138 kapal per hari yang melintasi selat sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.
BBC tidak mengetahui apakah tiga kapal yang melintas pada Rabu (08/04) merupakan hasil dari gencatan senjata, atau apakah mereka telah merencanakan perjalanan itu sebelumnya.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah hal ini mencerminkan pembukaan kembali yang lebih luas didorong gencatan senjata atau pengecualian yang telah disetujui sebelumnya," kata Ana Subasic dari perusahaan analis pelayaran Kpler.
"Belum ada yang benar-benar berubah," tambah Jensen.
Menurutnya, perlu waktu sebelum para awak kapal cukup percaya diri untuk menyeberang Selat Hormuz dengan aman.
Baca juga:
Hal senada diutarakan Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd's List.
Dia menekankan situasi saat ini merupakan masa yang "sangat berbahaya" bagi pemilik kapal yang masih menghadapi ketidakpastian sangat besar.
"Kami tahu Iran pada dasarnya masih mengendalikan selat, dan anggapannya pemilik kapal masih perlu meminta izin dari IRGC [Korps Garda Revolusi Islam]… dan bagaimana mekanismenya masih belum jelas."
Analisis BBC Verify terhadap jalur yang diambil oleh tiga kapal tersebut menunjukkan mereka mengambil rute utara melalui selat dekat garis pantai Iran dan memasuki perairan teritorialnya.
Sebelum konflik, kapal-kapal biasanya mengambil rute yang lebih ke selatan melalui bagian tengah jalur perairan itu.
'Hampir 800 kapal terjebak'
Jika kapal-kapal kembali melintasi Selat Hormuz, Richard Meade memperkirakan kapal tanker yang bermuatan penuh akan menjadi yang pertama melintas.
"Sudah ada hampir 800 kapal yang terjebak di sana selama beberapa minggu. Sebagian besar kini bermuatan penuh, sehingga prioritasnya adalah mengeluarkan mereka," ujarnya.
Durasi gencatan senjata—yang ditetapkan berlangsung dua minggu—juga membawa ketidakpastian bagi kapal-kapal, kata Niels Rasmussen, analis pelayaran dari BIMCO.
"Saya ragu akan ada arus besar kapal masuk ke Teluk… karena mereka tidak ingin mengambil risiko terjebak setelah periode dua minggu itu berakhir."
Ketidakpastian lain adalah kemungkinan ranjau laut, kata Thomas Kazakos, sekretaris jenderal International Chamber of Shipping.
"Kami perlu memastikan ada konfirmasi yang jelas bahwa keselamatan navigasi bagi kapal dan para pelaut telah disepakati," ujarnya kepada BBC Verify.
Pembayaran tol
Di luar kekhawatiran tersebut, kapal-kapal kemungkinan harus melakukan pembayaran kepada Iran agar bisa melintasi Selat Hormuz secara aman—menyusul laporan bahwa tol mungkin menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
"Posisi negosiasi Iran tampaknya adalah bahwa kapal-kapal perlu membayar tol untuk melintasi selat dan perusahaan pelayaran juga akan ragu untuk membayar tol tersebut," kata Jensen.
Sejumlah negara—termasuk India, Malaysia, dan Filipina—telah meminta Iran agar kapal-kapal mereka dapat melintas.
Namun membayar tol dapat menghadirkan keruwetan bagi negara dan perusahaan pelayaran karena tindakan itu "mungkin justru melanggar sebagian sanksi AS terhadap Iran yang akan menimbulkan dampak lain bagi perusahaan pelayaran," tambah Jensen.
Beberapa tahun lalu, AS menerapkan sanksi ekonomi terhadap pemerintah Iran, sejumlah individu di Iran, dan entitasnya.
Pihak yang melakukan transaksi pembayaran kepada individu, perusahaan, dan organisasi di dalam daftar sanksi tersebut akan dikenai pelanggaran pidana, jelas James Turner, pengacara pelayaran dari Quadrant Chambers, kepada BBC Verify.
Karena itu, membayar tol kepada individu dan entitas di dalam daftar sanksi dikategorikan sebagai pelanggaran kecuali AS membuat pengecualian.
Meski sejauh ini belum banyak kapal yang melintasi Selat Hormuz, pasar bereaksi positif setelah gencatan senjata diumumkan.
Minyak Brent turun sekitar 13% menjadi US$94,80 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS turun lebih dari 15% menjadi US$95,75.
Namun, kata Meade, ekspektasi tetap perlu diredam.
"Harga minyak merespons karena ini merupakan pergerakan arah yang positif, tetapi saya tidak berpikir hal itu menunjukkan bahwa kita akan segera melihat 20% energi global mengalir kembali melalui jalur tersebut pada tingkat normal."
Reportase tambahan oleh Tamara Kovacevic


































