Piala Dunia 2026: Brasil lolos dari 'penghinaan', Carlo Ancelotti kembali membuktikan diri

Sumber gambar, Robbie Jay Barratt - AMA/Getty Images
- Penulis, Sam Drury
- Peranan, BBC Sport journalist
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Ketika babak pertama berakhir, para pemain Brasil berjalan gontai meninggalkan lapangan, menyadari bagaimana suasana di tanah air mereka.
Mereka hanya berjarak 45 menit dari tersingkir lebih awal di Piala Dunia—yang tercepat sejak 1966—serta menanggung penghinaan nasional.
Dalam laga babak 32 besar tersebut, Jepang mampu menjaga jarak dari Brasil, unggul lebih dulu, dan tampak cukup nyaman mengendalikan permainan.
Bagi tim yang belum pernah membalikkan keadaan untuk menang dalam laga gugur Piala Dunia sejak 2002, situasinya terlihat suram. Bagi para penonton, kejutan mulai tampak sebagai kemungkinan yang nyata.
Namun, seharusnya kita tidak meragukan Carlo Ancelotti.
Pelatih Brasil itu adalah sosok yang akrab dengan kemenangan.
Dia mencatatkan rekor lima gelar Liga Champions sebagai pelatih, serta meraih trofi di lima liga utama Eropa.
Apa pun sebutannya, nyaris semuanya telah dia menangkan—setidaknya di level klub.
Namun ini adalah pekerjaan internasional pertamanya, dan pelatih asal Italia tersebut menjadi pelatih asing pertama Brasil di Piala Dunia. Maka, wajar jika muncul dugaan bahwa dia sedikit cemas setelah 45 menit pertama.
"Tidak, tidak juga. Saya percaya pada tim kami," ujarnya.
Tenang hingga akhir. Pada titik itu, Ancelotti telah merancang kemenangan comeback pertama Brasil di fase gugur Piala Dunia sejak mengalahkan Turki di semifinal sekitar 24 tahun lalu.
Krisis pun berhasil dihindari, dan laga babak 16 besar melawan Pantai Gading atau Norwegia sudah menanti.
Namun tak diragukan lagi, ketenangan pria berusia 67 tahun itu menjadi kunci untuk membawa mereka sejauh ini.
'Oase di tengah kekacauan'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ancelotti memulai kariernya sebagai pelatih tim nasional dengan impresif, meraih sembilan kemenangan dari 15 laga pertamanya bersama Brasil.
Namun, meski mungkin dia sendiri tidak merasakannya, tekanan jelas membayangi saat dia berjalan kembali ke ruang ganti untuk memberikan arahan di paruh waktu.
"Itu memang momen yang menegangkan bagi Brasil," kata pakar sepak bola Amerika Selatan Tim Vickery kepada BBC Radio 5 Live.
"Saya ingin menekankan besarnya potensi penghinaan yang dihadapi tim Brasil ini saat jeda pertandingan.
"Brasil, karena alasan yang jelas, memiliki kecenderungan tradisionalis yang kuat. Bayangkan tersingkir bukan di perempat final, melainkan di babak 32 besar oleh tim dari Asia.
"Meski mungkin terdengar tidak sepenuhnya adil—dari semua lawan yang bisa dihadapi Brasil sebagai juara grup, Jepang adalah yang paling berbahaya—para pemain ini berada di ambang penghinaan bersejarah."
Meski sejumlah pemain Brasil tampil kurang meyakinkan di babak pertama, satu-satunya pergantian yang dilakukan Ancelotti saat jeda hanyalah karena terpaksa, dengan Endrick masuk menggantikan Lucas Paqueta yang cedera.
"Terkadang kemampuan terbesar Ancelotti adalah tidak melakukan apa-apa," tambah Vickery. "Dia menjadi oase ketenangan di tengah kekacauan—dan itu kembali membuahkan hasil."
Ancelotti sendiri mengakui bahwa Brasil sempat "mengalami kesulitan" menghadapi Jepang yang terorganisasi dengan baik, namun dia tetap yakin para pemainnya mampu keluar dari situasi tersebut.
"Tim kami tetap berada di jalurnya. Kami tidak kehilangan arah seperti pada babak pertama melawan Maroko," ujarnya.
'Tujuan jelas, intensitas tinggi, dan terus mengalirkan bola ke kotak penalti'
Secara komposisi pemain, tidak banyak perubahan—namun Brasil tampil berbeda pada babak kedua.
Ada tujuan yang lebih jelas dan intensitas yang meningkat dalam permainan mereka, sesuatu yang nyaris tidak terlihat di babak pertama.
Sejumlah penyesuaian taktik juga dilakukan, terutama kesiapan untuk lebih sering mengirim bola ke dalam kotak penalti.
Pada babak pertama, Brasil mencatatkan 12 kali umpan silang, namun sebagian besar berupaya membongkar pertahanan rapat Jepang melalui kombinasi umpan pendek nan rumit, seperti yang selama ini menjadi ciri khas tim Amerika Selatan tersebut.
Di babak kedua, pendekatan itu ditinggalkan. Mereka justru mengirimkan 28 umpan silang ke kotak penalti. Bahkan jika memperhitungkan tambahan waktu enam menit, itu berarti rata-rata satu umpan silang setiap kurang dari dua menit.
Dengan para pemain yang bergerak dari sisi tak terlihat di belakang pertahanan menuju tiang jauh, Jepang kesulitan mengantisipasi. Tidak mengherankan jika gol penyama kedudukan Casemiro lahir dari skema sederhana namun efektif ini.
"Perubahan yang dilakukan Carlo Ancelotti saat jeda membuat perbedaan," ujar mantan bek kiri Inggris Stephen Warnock kepada BBC Radio 5 Live. "Jepang tidak mampu mengatasi bola-bola yang dikirim ke kotak penalti."
Mantan penyerang Celtic, Chris Sutton, menambahkan: "Ini soal menemukan cara. Brasil memiliki pengalaman yang cukup, serta tenaga yang masih tersisa untuk menyingkirkan tim Jepang yang sangat baik dari Piala Dunia."
Ada romantisme tersendiri dalam pandangan tentang Brasil sebagai tim penuh flair menyerang yang bermain bebas tanpa beban. Ancelotti pun bukan pelatih yang ingin menghapus identitas tersebut—namun dia menyadari bahwa kemenangan terkadang menuntut pendekatan berbeda.
"Hasil yang bisa diterima hanyalah kemenangan. Apakah gaya bermain saja cukup? Kami tidak boleh puas dengan apa yang sudah ada," katanya.
"Apakah ini langkah maju? Ini adalah permainan yang lebih lengkap dari kami. Kami menghadapi lebih banyak kesulitan di babak pertama karena Jepang tampil agresif. Di babak kedua, kami mampu mengatasinya."
"Saya yakin ini merupakan sebuah evolusi. Kami sempat kesulitan menemukan ruang di awal, tetapi mampu menyelesaikan masalah itu dengan sangat baik."
'Menyelamatkan harga diri bangsa'
Pada akhirnya, terlepas dari perubahan yang dilakukan Ancelotti, kemenangan Brasil ditentukan oleh kesalahan Jepang serta ketenangan Bruno Guimarães dan Gabriel Martinelli.
Gol kemenangan pada menit ke-95 menjaga asa mereka untuk meraih gelar Piala Dunia keenam tetap hidup.
"Kami sudah mengatakan sebelum Piala Dunia, sepak bola selalu memiliki momen-momennya," ujar Ancelotti.
"Tidak ada yang benar-benar tanpa kesalahan karena tidak ada yang sempurna, tetapi Anda harus mampu mengatasinya dan terus melangkah maju. Itulah yang dilakukan tim ini."
Brasil dipaksa bekerja keras, namun keberhasilan mengatasi situasi seperti ini diyakini akan membuat mereka semakin kuat—kemenangan dramatis seperti ini juga memberi dorongan moral yang signifikan.
Meski demikian, emosi yang paling terasa saat peluit akhir berbunyi adalah kelegaan.
"Menyelamatkan martabat bangsa," kata mantan gelandang Brasil Lucas Leiva, sementara Vickery menggambarkannya sebagai "mendaki Everest dengan cara yang sulit".
Namun Ancelotti tidak pernah merasa khawatir. Dia tahu bagaimana cara menang, dan ini hanyalah salah satu dari sekian rintangan yang harus dilalui timnya.
"Mereka sedang menemukan sesuatu di bawah Ancelotti," ujar Sutton.
"Carlo si licik kembali melakukannya. Itulah yang selalu dia lakukan."
































