Harga BBM naik, Pertamax jadi Rp16.250/liter mulai 10 Juni – 'Kelas menengah paling terbebani'

Harga pertamax

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu (10/06).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 4 menit

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green naik mulai Rabu (10/06). Harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Calon kelas menengah dan menengah atas bakal terbebani, kata pengamat.

Pertamina Patra Niaga mengumumkan pada Selasa (09/06) malam, harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.

Adapun Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Dua jenis BBM ini masuk kategori nonsubsidi, alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN guna memotong harga jual produk ini.

Sebelumnya, pengamat mengkhawatirkan, kenaikan BBM nonsubsidi bakal membuat warga menengah dan menengah atas "turun kelas".

Mereka juga khawatir, dalam waktu dekat, bakal terjadi perpindahan besar-besaran dari pembelian barang nonsubsidi ke subsidi—yang efeknya bisa memicu kelangkaan jika situasinya berkepanjangan.

Baca juga:

Pertamina Patra Niaga berjanji akan memastikan keamanan pasokan BBM di jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina di seluruh Indonesia.

Tentang alasan kenaikan harga dua jenis BBM ini, Pertamina mengaku, itu dilakukan karena "perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian".

Daftar harga BBM Pertamina sejak 10 Juni 2026

Pertamina menegaskan, selain Pertamax dan Pertamax Green, harga BBM lainnya tidak mengalami perubahan.

Berikut daftar harga BBM Pertamina yang berlaku mulai Rabu, 10 Juni 2026:

  • Pertalite: Rp 10.000 per liter
  • Biosolar: Rp 6.800 per liter
  • Pertamax: Rp 16.250 per liter
  • Pertamax Green 95: Rp 17.000 per liter
  • Pertamax Turbo: Rp 20.750 per liter
  • Dexlite: Rp 23.000 per liter
  • Pertamina Dex: Rp 24.800 per liter

Apa alasan Pertamina menaikkan harga BBM?

Pertamina Patra Niaga menjelaskan, alasan kenaikan harga BBM itu sesuai formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, seperti dikutip kantor berita Antara, Selasa (09/06) malam, mengatakan kebijakan kenaikan harga BBM itu "sudah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator".

Pertamax, BBM, Pertamax Green, harga BBM naik

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi: Seorang pekerja SPBU di Sukoharjo, Jateng, 26 Maret 2026, tengah mengisi bensin ke kendaraan roda empat.

Dia juga menyebut, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green karena "perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian".

Pihaknya, lanjut Robert, berjanji untuk memastikan bahwa pasokan kedua jenis BBM tersebut tetap tersedia di seluruh jaringan SPBU Pertamina.

Mengapa klas menengah disebut bakal terdampak?

Direktur Riset dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, dalam wawancara dengan BBC Indonesia pekan ketiga April lalu, mengatakan masyarakat calon kelas menengah dan menengah atas adalah kelompok yang paling terbebani dari kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi ini.

Sebab, kelompok masyarakat yang disebutnya berpenghasilan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) ini tidak cukup miskin untuk mengakses BBM atau LPG bersubsidi. Tapi, di sisi lain, tak bisa dibilang kaya untuk menikmati BBM maupun LPG nonsubsidi.

Pertamax, BBM, Pertamax Green, harga BBM naik

Sumber gambar, Muhammad Fadli/Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi: Seorang pekerja mengisi BBM di kendaraan roda empat di SPBU Pertamina di Bengkulu, Sabtu, 14 Maret 2026.

Itu mengapa, kata Andri, mereka disebut kelas menengah vulnerable (rentan). Di tengah kenaikan drastis harga BBM dan LPG nonsubsidi ini, Andri memperkirakan warga calon kelas menengah dan menengah atas tersebut akan mencari akal untuk bertahan hidup.

Yakni, berbondong-bondong pindah dari yang sebelumnya tidak membeli barang-barang nonsubsidi akhirnya memilih ke produk subsidi.

Jika situasinya seperti itu dan berkepanjangan, maka bisa memicu kelangkaan BBM dan LPG bersubsidi, kata Andri.

Ujungnya, kenaikan belanja subsidi tersebut bakal mendorong pemerintah untuk menekan atau mengurangi stok barang-barang subsidi.

"Yang paling sering jadi playbook-nya pemerintah adalah ketika ingin mengurangi beban subsidi, barang yang disubsidi itu akan berkurang. Jadi walaupun harga tidak naik, tapi barangnya jadi langka," jelas Andri.